Terbit: 18 Februari 2018 | Diperbarui: 26 Januari 2022
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Krisis obesitas, menurut penelitian baru-baru ini bisa diatasi jika orang mulai makan secara perlahan. Dalam sebuah penelitian yang luas, para ilmuwan menemukan bahwa makanan yang dikunyah perlahan dapat menjadi kunci untuk menurunkan berat badan, bersamaan dengan mengurangi makanan setelah makan malam dan tidak makan dua jam sebelum tidur.

Kunyah Makanan Perlahan Terbukti Menurunkan Berat Badan

Para periset menemukan perlambatan kecepatan saat kita makan, dan juga terlambat makan malam membantu kita menurunkan berat badan.

Temuan tersebut diterbitkan oleh jurnal online BMJ Open, menunjukkan perubahan kebiasaan makan ini sangat terkait dengan obesitas yang lebih rendah dan lingkar pinggang yang lebih kecil.

Para peneliti mendasarkan temuan mereka pada data asuransi kesehatan untuk hampir 60.000 orang penderita diabetes di Jepang yang mengajukan klaim dan melakukan pemeriksaan kesehatan reguler antara 2008 dan 2013.

Klaim tersebut mencakup informasi mengenai tanggal konsultasi dan perawatan, sementara pemeriksaan termasuk pengukuran indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar pinggang, dan hasil tes untuk kimia darah, urine, dan fungsi hati.

Selama pemeriksaan, para peserta ditanyai tentang gaya hidup mereka, termasuk kebiasaan makan, tidur, penggunaan alkohol dan tembakau.

‘Bom waktu’ obesitas seperti di Inggris telah dipersalahkan karena kenaikan tajam pada diabetes Tipe 2 dan kondisi kesehatan serius lainnya.

Angka di Inggris terbaru menunjukkan bahwa sekitar 67 persen pria dan 57 persen wanita sekarang kelebihan berat badan atau obesitas. Tapi masalahnya juga menjadi akut pada anak-anak.

Sekitar 19,1 persen anak-anak berusia 10-11 di Inggris, sekarang mengalami obesitas dan sekitar 14,2 persen kelebihan berat badan.

Dari anak-anak berusia empat sampai lima tahun, 9,1 persen mengalami obesitas dan 12,8 persen kelebihan berat badan. Sepertiga anak usia 10 sampai 11 tahun dan lebih dari seperlima anak berusia empat sampai lima tahun-terlalu berat.

Makan dengan cepat menyebabkan fluktuasi gula darah yang lebih besar yang dapat menyebabkan resistensi insulin.

Sementara, seperti melansir Express, mengung lebih lambat cenderung merasa kenyang lebih lama dan memberi lebih banyak waktu agar hormon memberi isyarat berhenti makan.

Menurut Dr Fukuda, seseorang dengan mengunyah makanan lambat cenderung lebih sehat dan memiliki gaya hidup yang lebih sehat daripada mereka yang makan cepat atau normal,”

Sekitar setengah dari total sampel, hanya di bawah 52 persen mengubah kecepatan makan mereka selama enam tahun.

“Setelah mempertimbangkan faktor-faktor yang berpotensi berpengaruh, hasilnya menunjukkan bahwa dibandingkan dengan mereka yang cenderung melahap makanan, mereka yang makan dengan kecepatan normal adalah 29 persen lebih kecil kemungkinannya mengalami obesitas, meningkat menjadi 42 persen bagi mereka yang makan perlahan,” jelas Dr Fukuda.

“Ngemil setelah makan malam dan makan dalam waktu dua jam setelah tidur tiga kali atau lebih dalam seminggu juga sangat terkait dengan perubahan IMT. Tapi melewatkan sarapan tidak,” Dr Fukuda menambahkan.

Para periset menunjukkan bahwa ini adalah penelitian observasional, jadi kesimpulan tegas tidak dapat ditarik tentang sebab dan akibat, yang menambahkan bahwa kecepatan makan didasarkan pada penilaian subjektif.

Tapi mereka mengatakan bahwa makan dengan cepat dikaitkan dengan gangguan toleransi glukosa dan resistensi insulin.

Ini karena mungkin butuh waktu lebih lama agar seseorang mengunyah makanan dengan cepat merasa kenyang, sementara ini mungkin terjadi lebih cepat untuk mereka yang makan dengan lambat, yang membantu mengurangi asupan kalori.

“Perubahan kebiasaan makan bisa mempengaruhi obesitas, IMT, dan lingkar pinggang. Intervensi yang bertujuan mengurangi kecepatan makan mungkin efektif dalam mencegah obesitas dan menurunkan risiko gangguan kesehatan,” pungkas Dr Fukuda.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi