Terbit: 30 Desember 2020 | Diperbarui: 5 November 2021
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Mudahnya akses informasi kesehatan di era sekarang ini tidak jarang membuat banyak orang—mungkin termasuk Anda salah satunya—melakukan yang namanya self diagnosis. Apa itu self diagnosis? Bagaimana dampaknya terhadap kesehatan tubuh terutama mental kita? Simak informasi selengkapnya berikut ini.

Self Diagnosis, Ketika Mendiagnosis Diri Sendiri Bisa Berbahaya

Apa Itu Self Diagnosis?

Self diagnosis—atau diagnosis mandiri—adalah perilaku ketika seseorang mendiagnosis sendiri gejala medis yang dialaminya alih-alih memastikannya melalui pemeriksaan di rumah sakit. Padahal, diagnosis semestinya HANYA bisa dilakukan oleh tenaga medis yang memang memiliki kompetensi untuk hal tersebut.

Mirisnya, self diagnosis ini acap kali hanya bermodalkan informasi yang kurang atau bahkan tidak kredibel atau profesional, seperti dari keluarga atau teman yang pernah mengalami hal serupa. Ini tentu saja kurang tepat karena untuk sampai pada tahap penentuan penyebab suatu kondisi medis, perlu adanya pemeriksaan terstruktur yang meliputi:

  • Wawancara (anamnesis)
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan penunjang

Tindakan seperti ini biasanya tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya sedang terjadi. Oleh sebab itu, Anda sebaiknya tetap melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan guna memastikan penyebab dari gejala yang Anda alami.

Bahaya Self Diagnosis yang Harus Diketahui

Ada sejumlah bahaya atau dampak negatif dari kebiasaan mendiagnosis sendiri gejala-gejala medis yang sedang Anda alami. Apa sajakah itu?

1. Salah Diagnosis

Saat Anda mendiagnosis diri sendiri, pada dasarnya Anda berasumsi bahwa Anda mengetahui seluk-beluk diagnosis tersebut. Ini bisa sangat berbahaya karena orang yang berasumsi bahwa mereka dapat menduga apa yang sedang terjadi dengan diri mereka sendiri justru umumnya salah mendiagnosis. Misalnya, orang dengan perubahan suasana hati sering berpikir bahwa mereka menderita depresi atau gangguan bipolar.

Padahal, perubahan suasana hati adalah gejala yang dapat menjadi bagian dari banyak skenario klinis yang berbeda. Gangguan kepribadian ambang dan depresi berat merupakan dua di antaranya. Melalui prosedur pemeriksaan medis, dokter dapat membantu Anda untuk menentukan apakah yang sebenarnya menjadi penyebab dari berubahnya suasana hati tersebut.

2. Penggunaan Obat yang Tidak Tepat

Dampak negatif selanjutnya dari self diagnosis adalah Anda jadi bisa saja mengonsumsi obat-obatan yang salah. Akibatnya, alih-alih sembuh, penyakit justru akan menetap dan bisa saja bertambah parah.

Sebagai contoh, Anda mengalami nyeri dada dan kemudian menganggap jika hal ini merupakan gejala naiknya asam lambung. Lantas, Anda pun mengonsumsi obat khusus penyakit asam lambung seperti antasida. Padahal, sebenarnya Anda mengalami masalah pada organ jantung atau paru-paru.

Hal ini tentu saja tidak akan membuat gejala nyeri dada yang Anda alami mereda setelah mengonsumsi obat asam lambung. Gangguan pada jantung dan paru-paru membutuhkan pengobatan khusus untuk mengatasinya.

Oleh karena itu, sebaiknya periksakan diri Anda ke dokter apabila mengalami gejala seperti nyeri dada ini, maupun gejala lainnya yang menimbulkan ketidaknyamanan pada tubuh. Pasalnya, suatu gejala bisa menjadi pertanda dari kondisi medis yang bersifat ringan maupun berat sekalipun, dan Anda tidak benar-benar tahu akan hal ini.

3. Penyakit Serius Jadi Tidak Terdeteksi

Salah satu akibat self diagnosis dalam sindrom psikologis adalah Anda mungkin melewatkan penyakit medis yang “menyamar” sebagai sindrom kejiwaan tersebut. Jadi, jika Anda mengalami seperti serangan panik, misalnya. Anda mungkin sebenarnya mengalami hipertiroidisme atau detak jantung tidak teratur (aritmia).

Contoh lainnya yang lebih serius yaitu, bahwa beberapa tumor otak ditandai dengan adanya gangguan kepribadian atau depresi. Jika Anda berasumsi sedang mengalami depresi dan mengobatinya dengan obat-obatan antidepresan, hal ini tidak akan membuat kondisi berubah dan malah bisa bertambah intensitasnya.

4. Memicu Stres dan Depresi

Bahaya lain dari diagnosis mandiri adalah Anda mungkin berpikir bahwa tubuh sedang mengalami suatu penyakit yang berbahaya. Misalnya, jika Anda mengalami insomnia, Anda mungkin percaya bahwa hal ini berkaitan dengan kondisi medis seperti gangguan tidur, ADD, dan depresi berat.

Contoh lainnya, Anda mengalami nyeri kepala atau kepala terasa pusing. Anda lantas mencari informasi mengenai penyebab dari sakit kepala tersebut, entah itu dari internet atau orang terdekat. Anda pun terkejut tatkala mengetahui bahwasanya sakit kepala atau kepala pusing merupakan salah satu penyebab dari adanya masalah pada otak, seperti tumor dan sebagainya.

Pada akhirnya, Anda akan merasa cemas dan panik hingga berujung stres atau bahkan depresi. Memang, seperti yang tadi sempat disinggung, suatu gejala medis bisa menjadi pertanda dari berbagai masalah kesehatan, dari yang sifatnya ringan hingga serius.

Seperti sakit kepala tadi, tidak salah apabila gejala ini menjadi salah satu gejala awal dari tumor otak. Namun, Anda tidak bisa langsung berasumsi jika sakit kepala yang muncul pasti merupakan gejala tumor sehingga kemudian memunculkan rasa cemas dan stres.

Itu sebabnya, ketika Anda memang merasakan nyeri kepala dengan intensitas yang cukup tinggi, pun sudah berlangsung cukup lama, melakukan pemeriksaan medis adalah langkah terbaik yang bisa Anda ambil guna memastikan kondisi.

5. Memicu Penyakit

Dampak negatif self diagnosis lainnya yang harus Anda ketahui adalah, kebiasaan ini justru akan memicu timbulnya penyakit. Mengapa bisa demikian?

Hal ini berkaitan dengan poin sebelumnya, yakni mendiagnosis diri sendiri dapat menyebabkan stres dan depresi. Stres dan depresi menurut penelitian dapat menurunkan imunitas tubuh. Akibat imunitas mengalami penurunan, tubuh pun jadi lebih rentan terserang penyakit.

Maka dari itu, ketimbang Anda buru-buru berasumsi jika tubuh sedang mengalami penyakit serius hingga akhirnya timbul rasa stres, lebih baik segera periksakan diri ke dokter guna memastikan kondisi yang sebenarnya sedang Anda alami.

Itu dia informasi mengenai self diagnosis yang perlu Anda ketahui. Memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk mencari informasi, termasuk informasi kesehatan, memang tidak ada salahnya. Namun, pastikan Anda mengakses penyedia informasi yang kredibel dan hanya jadikan informasi tersebut sebagai rujukan untuk selanjutnya berkonsultasi dengan dokter. Semoga bermanfaat!

 

  1. Doheny, K. What’s That Symptom? Experts Warn of Self-Diagnosis Via the Web. https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=160757 (accessed on 30 December 2020)
  2. Parkes, L. 2019. Don’t Even Try to Self-Diagnose These 5 Ailments. https://www.hackensackmeridianhealth.org/HealthU/2019/08/28/dont-even-try-to-self-diagnose-these-5-ailments/ (accessed on 30 December 2020)
  3. Pillay, S. 2010. The Dangers of Self-Diagnosis. https://www.psychologytoday.com/us/blog/debunking-myths-the-mind/201005/the-dangers-self-diagnosis (accessed on 30 December 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi