Terbit: 5 Oktober 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Pusing setelah haid atau menstruasi mungkin biasa terjadi pada kebanyakan wanita. Ternyata, ada banyak penyebabnya yang terkait dengan menstruasi. Apa saja penyebabnya? Ladies, simak penjelasan selengkapnya tentang penyebab hingga cara mengatasinya berikut ini!

8 Penyebab Pusing setelah Haid dan Cara Mengobatinya

Pusing setelah Haid, Normalkah?

Menstruasi pada wanita biasanya berlangsung sekitar 2 hingga 8 hari, tergantung banyak atau tidaknya darah yang keluar. Selama masa menstruasi, gejala yang mungkin dirasakan seperti kram, kelelahan dan sakit kepala. Haid juga membuat wanita mengeluh pusing.

Dalam kebanyakan kasus, merasa sedikit pusing selama atau di akhir haid merupakan kondisi yang normal, tetapi ini bisa menjadi tanda dari kondisi yang mendasarinya. Ada beberapa penyebab utama pusing salama atau selepas haid, termasuk anemia akibat kehilangan darah, nyeri karena kram, dan aktivitas hormon yang disebut prostaglandin. Jadi, gejala pusing selama haid adalah kondisi normal.

Penyebab Pusing setelah Haid

Tidak sedikit kemungkinan penyebab pusing, namun beberapa di antaranya mungkin terkait dengan menstruasi. Kemungkinan penyebab perasaan pusing selama atau setelah haid, meliputi:

1. Kram

Kram adalah kondisi ketika rahim berkontraksi, yang terjadi selama menstruasi untuk meluruhkan lapisan rahim. Kondisi ini berkisar dari ringan hingga parah.

Gejala kram adalah adalah kondisi yang normal dari siklus menstruasi, tetapi kram yang parah mungkin tanda dari kondisi yang mendasarinya seperti endometriosis. Nyeri akibat kram, terutama yang parah, dapat menyebabkan wanita merasakan gejala pusing selama menstruasi.

2. Prostaglandin

Prostaglandin merupakan hormon yang mengendalikan banyak proses tubuh, termasuk siklus menstruasi wanita. Namun, dimungkinkan dapat menghasilkan prostaglandin berlebih selama menstruasi.

kelebihan prostaglandin dapat menyebabkan kram menjadi lebih buruk dari biasanya, karena dapat mengontraksikan otot-otot di dalam rahim. Sedikit prostaglandin juga dapat menyempitkan pembuluh darah di seluruh tubuh, yang menyebabkan sakit kepala dan merasa pusing setelah haid.

3. Anemia

Anemia adalah kondisi di mana tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat untuk menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh. Kondisi ini dapat memicu pusing.

Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang paling sering terjadi, yang disebabkan menstruasi berat. Jika menderita anemia defisiensi besi, mungkin membutuhkan suplemen zat besi selama menstruasi.

4. Migrain Terkait Haid

Migrain yang terkait haid menyerang 60 persen wanita yang memliki riwayat migrain. Sakit kepala berdenyut ini disebabkan oleh kadar estrogen yang berfluktuasi, dan terjadi tepat sebelum, selama, atau setelah menstruasi.

Seperti jenis migrain lainnya, migrain yang terkait haid dapat terjadi satu sisi kepala dan berdenyut yang dapat menyebabkan wanita merasa pusing setelah haid.

5. Hipoglikemia

Hormon dalam tubuh dapat memengaruhi kadar gula darah. Sementara kadar gula darah sering kali meningkat sebelum dan selama haid, hormon yang berfluktuasi menyebabkan hipoglikemia (gula darah rendah) bagi sebagian orang.

Kondisi tersebut terjadi karena estrogen membuat seseorang lebih sensitif terhadap insulin, yang menurunkan gula darah. Rendahnya gula darah dapat mengganggu fungsi saraf pusat, yang kemudian mengakibatkan sakit kepala ringan dan pusing.

Penderita diabetes mungkin lebih rentan terhadap hipoglikemia daripada mereka yang tidak menderita diabetes.

6. Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD)

Premenstrual dysphoric disorder (PMDD) atau gangguan disforik pramenstruasi adalah bentuk PMS yang parah, di mana gejalanya cukup parah hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Biasanya gejala berlangsung sampai beberapa hari setelah mendapatkan menstruasi, dan dapat menyebabkan pusing.

Meskipun penyebab PMDD tidak diketahui, tetapi kemungkinan reaksi abnormal terhadap perubahan hormon. Kebanyak dari wanita yang mengalami PMDD memerlukan pengobatan.

7. Sindrom Syok Toksik

Toxic shock syndrome (TSS) atau sindrom syok toksik, adalah penyakit yang jarang terjadi tetapi sangat serius. Kondisi ini menjadi lebih jarang dalam kaitannya dengan haid sejak penggunaan pembalut, tetapi masih bisa terjadi jika membiarkan pembalut terlalu lama.

Gejala pusing setelah haid 1 minggu mungkin merupakan tanda awal TSS, diikuti dengan gejala berikut:

  • Demam tinggi.
  • Radang mata.
  • Sakit tenggorokan.
  • Masalah pencernaan.

8. Dehidrasi

Hormon juga dapat memengaruhi tingkat hidrasi atau kecukupan asupan air dalam tubuh, dan fluktuasinya di sekitar haid dapat membuat wanita lebih mungkin mengalami kekurangan cairan tubuh alias dehidrasi. Kondisi ini bisa membuat kepala terasa pusing.

Baca Juga: Siklus Menstruasi: Gejala, Fase, Haid Normal dan Tidak, Penyebab, dll

Cara Mengatasi Pusing setelah Haid

Perawatan dan pengobatan pusing yang ringan selama atau setelah haid tergantung pada penyebabnya. Berikut ini pengobatan yang potensial untuk mengobati pusing selepas haid:

1. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS)

OAINS dapat mengurangi efek prostaglandin. Jika kram adalah gangguan utama, minum ibuprofen atau obat golongan OAINS lain segera setelah mulai mengalami gejala ini. OAINS juga dapat digunakan untuk migrain terkait haid.

Selain obat-obatan, Anda juga bisa menggunakan botol air panas atau bantal pemanas, atau mungkin memijat area yang kram dengan lembut untuk mengurangi rasa sakit.

Guna mencegah kram, olahraga secara teratur selama haid dan hindari minuman berkafein, alkohol, dan merokok saat sedang haid.

2. Pil KB dan antidepresan

PMDD membutuhkan pengobatan, baik dengan perubahan gaya hidup atau obat-obatan, termasuk pil KB atau antidepresan. Wanita dengan PPMD dapat mengonsumsi antidepresan selama dua minggu dalam sebulan, sebelum dan selama menstruasi, atau sepanjang waktu.

3. Suplemen zat besi

Jika mengalami anemia, dokter mungkin menganjurkan suplemen zat besi. Anda juga bisa mengonsumsi lebih banyak makanan sumber zat besi, seperti bayam atau daging merah.

Jika menstruasi berat memiliki penyebab yang mendasarinya seperti kondisi fibroid, mungkin memerlukan pengobatan lain.

4. Antidepresan

Jika mengalami migrain parah atau sering, dokter mungkin menganjurkan perawatan pencegahan. Menggunakan obat golongan antidepresan seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) antara ovulasi dan mendapatkan menstruasi juga membantu mengurangi migrain.

5. Perbanyak minum cairan

Minum air atau minuman olahraga dapat membantu rehidrasi atau mengembalikan cairan tubuh yang hilang. Jika merasa mual, cobalah minum sedikit demi sedikit. Sebaiknya hindari minuman tertentu, seperti kopi, teh, soda, dan alkohol. Namun, jika mengalami dehidrasi yang parah, mungkin membutuhkan pertolongan medis.

Baca Juga: 10 Makanan yang Perlu Dihindari selama Haid, Wanita Harus Tahu!

6. Perbanyak karbohidrat

Mengonsumsi makanan atau minuman karbohidrat yang bekerja cepat tanpa lemak atau protein, seperti jus buah atau permen. Segera setelah merasa lebih baik, sebaiknya makan makanan yang lebih banyak untuk membantu menstabilkan gula darah.

7. Perawatan medis

Toxic shock syndrome (TSS) merupakan kondisi serius yang membutuhkan perawatan medis. Jika mengalami tanda-tanda TTS seperti pusing setelah haid 1 minggu, demam tinggi, radang mata, sakit tenggorokan, atau masalah pencernaan, segera hubungi dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

 

  1. Cornforth, Tracee. 2021. Causes of Dizziness During Your Period. https://www.verywellhealth.com/dizziness-why-do-i-feel-dizzy-2721914 (Diakses pada 5 Oktober 2021)
  2. Pietrangelo, Ann. 2020. The Effects of Hormonal Birth Control on Your Body. https://www.healthline.com/health/birth-control-effects-on-body (Diakses pada 5 Oktober 2021)
  3. Villines, Zawn. 2020. What causes lightheadedness and dizziness on a period?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/dizzy-on-period. (Diakses pada 5 Oktober 2021)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi