Terbit: 3 September 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Transfusi trombosit adalah prosedur pemberian trombosit pada orang yang membutuhkannya, semisal pada kondisi trombositopenia berat. Ketahui apa itu transfusi trombosit, prosedur, dan risikonya.

Transfusi Trombosit: Fungsi, Prosedur, Risiko, dll

Apa Itu Transfusi Trombosit?

Transfusi trombosit adalah penyaluran trombosit pada pasien yang kekurangan kadar trombosit (trombositopenia) dalam tubuh. Trombosit adalah komponen darah yang bertugas untuk pembekuan darah atau menghentikan darah saat Anda mengalami luka terbuka.

Kadar trombosit normal adalah 150.000 – 450.000, sementara pasien trombositopenia berat apabila memiliki kadar trombosit di bawah 10.000 atau 20.000 keping per mikroliter darah. Transfusi trombosit dibutuhkan pasien trombositopenia untuk mencegah pendarahan atau disfungsi platelet.

Seseorang yang kekurangan trombosit akan mudah mengalami pendarahan, mimisan, luka berdarah yang sulit sembuh, hingga muntah darah dalam kasus serius. Trombosit yang ditransfusikan memiliki masa hidup pendek hingga pasien mungkin membutuhkan dosis ulang setiap 3-4 hari.

Manfaat Transfusi Trombosit

Transfusi trombosit ditujukan untuk menolong pasien yang mengalami disfungsi trombosit atau trombositopenia. Pasien berisiko mengalami pendarahan karena tidak memiliki komponen sel darah merah untuk pembekuan darah.

Kekurangan kadar trombosit juga dapat terjadi akibat kondisi medis yang mendasarinya, seperti:

  • Leukemia
  • Myelodysplasia
  • Anemia aplastik
  • Tumor padat
  • Disfungsi trombosit bawaan atau didapat
  • Efek samping obat-obatan tertentu
  • Pasien yang menjalani oksigenasi membran ekstrakorporeal (ECMO)
  • Pasien bypass kardiopulmoner

Transfusi trombosit adalah terapi yang paling efektif untuk mencegah risiko pendarahan pada pasien dengan kadar  5.000-10.000 tanpa gejala pendarahan atau 10.000-20.000 dengan gejala pendarahan.

Baca Juga: Trombositopenia: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Siapa yang Membutuhkan Transfusi Trombosit?

Pasien yang memiliki jumlah trombosit rendah akibat sumsum tulang tidak memproduksi trombosit yang cukup disarankan untuk melakukan transfusi trombosit. Kasus kekurangan trombosit dapat terjadi akibat beberapa kondisi medis yang mendasarinya, termasuk:

1. Produksi Trombosit Rendah

Pasien yang memiliki jumlah trombosit rendah memiliki ciri-ciri seperti mimisan, gusi berdarah, kulit memar, dan bercak darah di lapisan kulit. Berikut ini beberapa faktor yang dapat menurunkan produksi trombosit di tubuh, meliputi:

  • Leukemia
  • Kanker
  • Anemia
  • Infeksi virus seperti hepatitis C atau HIV
  • Efek dari pengobatan kemoterapi
  • Efek dari terapi radiasi
  • Efek samping konsumsi alkohol

Transfusi juga disarankan untuk pasien sebelum operasi yang memiliki risiko pendarahan selama operasi, termasuk aspirasi sumsum tulang belakang.

2. Pembesaran Limpa

Fungsi limpa adalah untuk menyaring zat buang dan melawan infeksi tubuh. Limpa yang membesar menampung pasokan trombosit, sehingga hanya sedikit trombosit yang dialirkan ke seluruh tubuh. Kondisi ini akan menyebabkan kekurangan trombosit dan mengurangi faktor pembekuan darah.

3. Kerusakan Trombosit

Trombosit yang diproduksi lebih sedikit dari trombosit yang digunakan. Akibatnya, tubuh akan mengalami kekurangan faktor pembekuan darah. Kondisi ini dapat terjadi akibat:

  • Penyakit autoimun trombositopenia seperti lupus dan rheumatoid arthritis. Imun tubuh keliru dan menghancurkan trombosit.
  • Infeksi bakteri dalam darah yang menghancurkan bakteri.
  • Purpura trombositopenik Idiopatik, yaitu menurunnya jumlah trombosit karena penyebab idiopatik.
  • Perdarahan saat melahirkan dapat menurunkan kadar trombosit, namun akan pulih pasca melahirkan dan perdarahan terkendali.
  • Sindrom uremik hemolitik, penyakit langka yang menyebabkan kerusakan sel darah merah dan penurunan kadar trombosit.
  • Efek samping obat-obatan seperti antibiotik sulfa dan antikonvulsan. Kandungan obat tersebut dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh hingga menurunkan jumlah trombosit.

Riwayat medis tersebut dapat memengaruhi jumlah trombosit. Dokter akan melakukan pemeriksaan sel darah merah bila penurunan trombosit berisiko pendarahan mendadak atau pendarahan berlebihan yang tidak diinginkan.

Baca Juga: Trombosit: Fungsi, Nilai Normal, dan Cara Menaikkannya Bila Rendah

Cara Transfusi Trombosit

Dokter akan menjelaskan semua tujuan dan prosedur dari transfusi trombosit. Dokter akan memeriksa sampel darah Anda dan mencari trombosit yang cocok dari pendonor.

Berikut ini cara transfusi trombosit:

  • Trombosit ditransfusikan ke pembuluh darah melalui infus.
  • Infus dihubungkan dengan selang tipis (kanula) ke pembuluh darah.
  • Lalu, trombosit ditransfusikan.
  • Proses ini menghabiskan sekitar 15-30 menit.
  • Selesai transfusi, dokter akan memeriksa kembali kadar trombosit Anda.

Dokter akan mencermati apakah kebutuhan jumlah trombosit sudah cukup. Masa hidup trombosit hasil transfusi mungkin hanya beberapa saat dan Anda membutuhkan lebih banyak transfusi.

Transfusi trombosit dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu:

1. Apheresis

Apheresis adalah prosedur pengambilan komponen darah dimana yang diambil dari pendonor hanya komponen trombositnya saja dan komponen darah yang lain tidak ikut diambil. Proses pengambilan trombosit dari donor memerlukan alat khusus. Satu pack trombosit apheresis hanya membutuhkan 1 pendonor.

2. Thrombocyte Concentrate

Thrombocyte concentrate (TC) adalah cara mengambil trombosit dari darah lengkap (whole blood) yang sudah ditampung di bank darah. Secara umum, darah yang diambil dari pendonor darah adalah darah lengkap (whole blood) yang kemudian dimasukan ke dalam kantong darah.

Kemudian, darah lengkap (whole blood) akan diproses menjadi komponen darah seperti PRC (packed red cell), FFP (fresh frozen plasma) dan TC (thrombocyte concentrate). Untuk mendapatkan 1 Pack TC dibutuhkan sekitar 5 pendonor.

Risiko dan Efek Samping Transfusi Trombosit

Selama proses transfusi berlangsung, Anda dapat mengalami reaksi transfusi seperti:

  • Kenaikan suhu atau demam
  • Ruam kulit
  • Gatal
  • Gemetar atau menggigil
  • Sesak nafas

Apabila tidak terjadi reaksi transfusi, dokter akan memeriksa tekanan darah, denyut nadi, dan suhu Anda untuk memastikan transfusi berhasil dan kondisi Anda membaik. Bila terjadi reaksi, maka transfusi akan dihentikan dan diberikan obat untuk menekan reaksi transfusi yang terjadi.

Apakah Transfusi Trombosit Aman?

Donor trombosit harus diskrining secara medis. Pendonor trombosit harus bersih dari infeksi virus dan sehat untuk meminimalisir penularan penyakit dari proses donor. Selain itu, trombosit akan diuji di laboratorium.

Dokter akan menjelaskan pada Anda prosedur dan cara kerja transfusi. Pihak medis juga sudah memastikan keamanan donor trombosit sesuai dengan kebutuhan dan riwayat medis yang Anda alami. Dokter akan memberikan perawatan terbaik untuk mengatasi kondisi Anda.

 

  1. Blumberg, Neil, Joanna M Heal, and Gordon L Phillips. 2020. Platelet transfusions: trigger, dose, benefits, and risks. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2874899/. (Diakses pada 3 September 2020).
  2. Conrad, Melissa Stöppler, MD. 2020. Apheresis (Hemapheresis, Pheresis). https://www.medicinenet.com/hemapheresis/article.htm. (Diakses pada 3 September 2020).
  3. Macmillan. 2020. platelet transfusion. https://www.macmillan.org.uk/cancer-information-and-support/treatments-and-drugs/platelet-transfusions. (Diakses pada 3 September 2020).
  4. MayoClinic. 2020. Thrombocytopenia (low platelet count). https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/thrombocytopenia/symptoms-causes/syc-20378293. (Diakses pada 3 September 2020).


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi