Terbit: 7 June 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Tanpa disadari, kita mengonsumsi pemanis buatan setiap hari. Pemanis buatan ini bisa ditemukan di dalam makanan atau minuman olahan yang sering kita konsumsi. Meskipun bisa membuat rasa makanan atau minuman menjadi lebih nikmat, pakar kesehatan menyebut konsumsi pemanis buatan yang berlebihan bisa berbahaya.

7 Dampak Sering Mengonsumsi Pemanis Buatan

Berbagai dampak mengonsumsi pemanis buatan bagi tubuh

Berdasarkan sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam konferensi bertajuk Experimental Biology pada April 2018 lalu, dihasilkan fakta bahwa kebiasaan mengganti gula dengan pemanis buatan, termasuk pemanis buatan non-kalori tetap saja bisa menyebabkan dampak buruk. Dampak-dampak ini bisa berupa berubahnya sistem metabolisme tubuh yang bisa memicu penumpukan lemak atau datangnya penyakit-penyakit tertentu.

Berikut adalah berbagai dampak buruk dari kebiasaan mengonsumsi pemanis buatan.

  1. Menyebabkan peningkatan risiko terkena diabetes

Pakar kesehatan menyebut konsumsi pemanis buatan justru bisa membuat asupan gula meningkat tajam. Hal ini tentu bisa membuat risiko terkena diabetes tipe 2 naik hingga dua kali lipat.

Sebagai contoh, jika kita terbiasa mengonsumsi minuman manis yang sedang banyak dijajakan di pinggir jalan atau minuman manis botolan yang bisa ditemukan di toko-toko swalayan, maka hal ini akan membuat asupan kalori dan gula melebihi batas normal. Hal inilah yang bisa menyebabkan datangnya resistensi insulin yang akhirnya berimbas pada meningkatnya risiko diabetes.

  1. Bisa menyebabkan kenaikan berat badan

Jika kita mengonsumsi makanan atau minuman dengan kandungan pemanis buatan, maka risiko untuk terkena kenaikan berat badan akan semakin meningkat. Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan di Washington University, dihasilkan fakta bahwa konsumsi sejenis pemanis buatan berjenis surkalosa bisa mempengaruhi aktivitas gen yang justru memicu penumpukan lemak di dalam perut.

Jika sampai kondisi ini terjadi, maka risiko terkena obesitas akan meningkat. Padahal, sudah menjadi rahasia umum jika obesitas bisa menjadi awal mula dari penyakit berbahaya lainnya.

  1. Bisa menyebabkan kecanduan gula

Jika pemanis buatan sering kita konsumsi, maka tubuh pun akan menjadi lebih sensitif dengan gula. Masalahnya adalah hal ini akan membuat otak terbiasa mendapatkan gula dan akhirnya membuat ketagihan. Kita pun akan mengalami gangguan suasana hati atau emosional jika mengurangi atau bahkan berhenti mengonsumsi gula baik itu berupa makanan atau minuman manis untuk sementara itu.

Jika kita menuruti kecanduan gula ini, dampaknya tak hanya akan membuat kenaikan berat badan atau risiko diabetes, hal ini juga bisa menyebabkan gangguan psikologis yang tentu tidak bisa disepelekan.

  1. Bisa menyebabkan kekurangan nutrisi

Terlalu banyak mengonsumsi makanan atau minuman dengan kandungan pemanis buatan membuat kita tidak bisa lagi menikmati makanan-makanan bergizi seperti sayuran atau buah-buahan yang rasanya memang cenderung kurang enak. Hal ini justru akan berimbas pada kekurangan nutrisi yang bisa membahayakan kesehatan dan berbagai fungsi tubuh.

  1. Bisa membahayakan ibu hamil

Ibu hamil harus berhati-hati dengan pemanis buatan karena jika mereka mengonsumsinya dengan berlebihan, maka risiko untuk megalami kelahiran prematur meningkat dengan signifikan. Hal ini dibuktikan oleh sebuah penelitian yang dilakukan di Denmark pada 1996-2002 dan melibatkan lebih dari 59 ribu wanita.

  1. Bisa menyebabkan datangnya kanker

Pakar kesehatan menyebut mengonsumsi pemanis buatan terlalu sering bisa memicu datangnya beberapa jenis kanker seperti kanker darah atau kanker otak. Hal ini disebabkan oleh kekacauan sistem metabolisme tubuh akibat konsumsi bahan makanan ini yang berimbas pada berkembangnya sel-sel abnormal yang bisa menjadi awal mula kanker.

  1. Menyebabkan dampak lainnya

Beberapa jenis penyakit sepert iautisme, sindrom kelelahan kronis, Parkinson, dan alzheimer disebut-sebut terkait dengan konsumsi pemanis buatan berlebihan.


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi