Terbit: 24 Agustus 2021 | Diperbarui: 26 April 2022
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Obat disfungsi ereksi yang Anda konsumsi pada dasarnya tergantung pada penyebab, tingkat keparahan, dan kondisi kesehatan mendasari. Oleh karena itu, sebelum Anda mengonsumsi obat disfungsi ereksi yang dijual di apotik, konsultasi dengan dokter diperlukan.

Mengenali Beragam Obat Disfungsi Ereksi (Medis dan Alami)

Berbagai Obat Disfungsi Ereksi

Berikut adalah berbagai obat yang umum digunakan untuk mengatasi disfungsi ereksi (DE), di antaranya:

  • Sildenafil.
  • Tadalafil.
  • Vardenafil.
  • Avanafil.

Keempat obat di atas meningkatkan efek nitric oxide (nitrat oksida), senyawa kimia alami yang diproduksi ujung-ujung saraf untuk memberikan sinyal kepada otot-otot penis. Hal ini akan membuat vasodilatasi/pelebaran pembuluh darah di area penis. Dampaknya, peningkatan aliran darah di penis memungkinkan Anda untuk  mendapatkan ereksi sebagai respons terhadap rangsangan seksual.

Jadi, pada tingkat seluler, proses terjadinya ereksi pada penis dimulai dengan dikeluarkannya NO nitrit oksida dari ujung saraf dan sel endotel korpus kavernosum di penis. Menurut dr. Ursula Penny, pada dasarnya mekanisme ereksi melibatkan 3 proses yang saling bekerja sama yaitu peran vaskular pembuluh darah, peran otot polos, dan peran saraf.

Lantas, adakah obat disfungsi ereksi permanen? Pada dasarnya, jika Anda mengonsumsi salah satu obat di atas, obat tersebut tidak akan secara otomatis menghasilkan ereksi. Stimulasi seksual diperlukan terlebih dahulu untuk menyebabkan pelepasan nitric oxide dari saraf penis.

Obat disfungsi ereksi ini pada dasarnya hanya memperkuat sinyal dari saraf, sehingga memungkinkan fungsi penis berjalan normal pada beberapa orang. Obat ini bukanlah afrodisiak, sehingga tidak akan menimbulkan gairah dan tidak diperlukan pada orang yang mendapatkan ereksi normal.

Hal-Hal Penting yang Harus Diperhatikan

Obat-obatan bervariasi dalam dosis, berapa lama bekerja, dan efek samping. Kemungkinan efek samping termasuk flushing, hidung tersumbat, sakit kepala, masalah penglihatan, sakit punggung, dan sakit perut. Kerja sama dengan dokter diperlukan untuk menemukan obat dan dosis yang tepat.

Penting untuk diperhatikan, sebelum Anda mengonsumsi obat disfungsi ereksi apa pun, termasuk suplemen yang dijual bebas dan obat herbal, konsultasikan dengan dokter diperlukan. Tidak semua obat bekerja pada semua orang dan mungkin kurang efektif dalam kondisi tertentu, seperti setelah operasi prostat atau jika Anda menderita diabetes.

Beberapa obat mungkin juga berbahaya jika Anda:

  • Minum obat nitrat, biasanya diresepkan untuk nyeri dada (angina) seperti nitrogliserin, isosorbide mononitrate, dan isosorbide dinitrat.
  • Memiliki penyakit jantung atau gagal jantung.
  • Memiliki tekanan darah yang sangat rendah (hipotensi).

Cara untuk Mengatasi Disfungsi Ereksi Lainnya

Selain penggunaan obat disfungsi ereksi seperti yang sudah dijelaskan di atas, terdapat sejumlah perawatan lain yang bisa Anda lakukan, di antaranya:

  • Vakum Penis

Ini adalah alat yang berfungsi untuk menghasilkan ereksi bagi pria yang tidak ingin menggunakan perawatan obat. Vakum penis akan mengambil udara dari luar, di mana udara ini berfungsi untuk mengoptimalkan aliran darah menuju penis.

Mekanisme  ini lantas membuat penis dapat ereksi sekaligus mempertahankan ereksi  selama hubungan seksual berlangsung.

  • Perawatan Bedah

Terdapat beberapa opsi perawatan bedah yang tersedia, salah satunya adalah implan penis. Dalam prosedur ini, dokter memasukkan perangkat lunak atau tiup ke dalam penis. Operasi ini dapat membantu pasien mencapai dan mempertahankan ereksi jika perawatan berbasis obat tidak berhasil.

Dalam kasus yang sangat jarang, pasien dapat menjalani operasi vaskular untuk mengobati keadaan ini. Prosedur ini hanya direkomendasikan setelah setelah pasien mencoba semua pengobatan dan tidak memberikan hasil yang baik.

Cara Mengatasi Disfungsi Ereksi secara Alami

Terdapat banyak perawatan alami untuk mengatasi disfungsi ereksi, mulai dari perubahan gaya hidup hingga konseling. Berikut adalah beberapa perawatan yang bisa Anda coba, di antaranya:

Diet Khusus

Sebuah studi menemukan bahwa pria yang menjalani diet Mediterania atau Alternative Healthy Eating Index-2010, memiliki peluang lebih rendah terkena DE. Secara khusus, partisipan mengonsumsi lebih sedikit daging merah/daging olahan dan mengonsumsi:

  • Buah-buahan.
  • Sayuran.
  • Kacang-kacangan.
  • Nuts.
  • Ikan.

Penelitian lain menemukan, peningkatan asupan buah, sayuran, flavonoid (senyawa yang ditemukan dalam produk, kopi, dan makanan lain), menurunkan risiko DE pada pria berusia 18 hingga 40 tahun.

Olahraga

Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat membantu melindungi Anda dari DE. Cara ini mungkin efektif jika DE disebabkan oleh obesitas, tidak aktif, atau penyakit kardiovaskuler,

Sebuah tinjauan penelitian menemukan bahwa, latihan aerobik sedang hingga intens selama 40 menit sehari dan dilakukan empat kali seminggu selama 6 bulan, dapat membantu mengurangi DE.

Aktivitas fisik membantu meningkatkan kesehatan pembuluh darah, menurunkan stres, dan meningkatkan kadar testosteron, yang semuanya dapat membantu mencegah DE. Jika berat badan Anda berkontribusi terhadap DE, olahraga dan diet seimbang dapat membantu menurunkan berat badan sekaligus menurunkan risiko disfungsi ereksi.

Tidur

Sebuah studi menemukan bahwa pria yang bekerja shift malam yang melaporkan kualitas tidur yang lebih buruk, berisiko lebih tinggi mengalami DE. Studi lainnya juga menunjukkan bahwa  orang dengan gangguan tidur memiliki risiko lebih besar terkena DE. Penelitian lain telah menghubungkan obstructive sleep apnea dengan peningkatan peluang DE.

Psikoterapi

Dalam beberapa kasus, DE adalah hasil dari kombinasi masalah fisik dan psikologis, mengingat mekanisme ereksi juga tidak lepas dari peran saraf, selain peran otot dan pembuluh darah di penis. Ini mungkin termasuk takut gagal, keyakinan agama, dan trauma seksual.

Pada gilirannya, DE dapat menyebabkan masalah kesehatan mental tambahan, termasuk tekanan emosional dan harga diri yang lebih rendah, yang kemudian dapat memperburuk keadaan.

Menurut tinjauan penelitian, intervensi psikologis seperti terapi perilaku kognitif sangat efektif ketika dipasangkan dengan obat disfungsi ereksi. Intervensi kesehatan mental mungkin juga efektif, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan.

Terapi Seks atau Konseling

Sekitar 10 hingga 25 persen pria dengan DE tidak memiliki faktor risiko yang diketahui. Kondisi ini dikenal sebagai disfungsi ereksi non-organik dan umumnya disebabkan oleh masalah kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan saat berhubungan seks.

Sebuah studi kecil menemukan bahwa, cognitive behavior sex therapy (CBST) dan obat-obatan efektif dalam mengurangi DE non-organik. Selain itu, CBST lebih efektif dalam menurunkan kecemasan.

Melakukan konseling dengan pasangan juga dapat membantu memahami kondisi dan mendiskusikan cara yang tepat untuk mendapatkan dukungan.

paket obat isolasi mandiri doktersehat

 

  1. Anonim. 2021. Erectile dysfunction. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/erectile-dysfunction/diagnosis-treatment/drc-20355782. (Diakses pada 24 Agustus 2021).
  2. MacGill, Markus. 2021. What’s to know about erectile dysfunction?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/5702. (Diakses pada 24 Agustus 2021).
  3. Story, Colleen M. 2021. 9 Natural Treatments for Erectile Dysfunction. https://www.healthline.com/health/erectile-dysfunction/ed-natural-treatments. (Diakses pada 24 Agustus 2021).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi