Terbit: 24 Januari 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Tantrum adalah ledakan emosi pada anak ketika dia menginginkan sesuatu. Orang tua akan merasa kewalahan saat anak mulai tantrum dan kondisi ini juga berisiko pada anak. Namun, sebenarnya ada pelajaran di balik anak yang tantrum sewaktu-waktu. Berikut ini manfaat anak tantrum!

9 Manfaat Anak Tantrum yang Tidak Disangka-sangka

Adakah Manfaat Anak Tantrum?

Temper tantrum biasanya ditandai dengan menangis, meronta, berteriak, hingga melakukan serangan fisik seperti menendang, memukul dan membenturkan kepala. Usia 1 hingga 3 tahun adalah saat-saat paling mendebarkan bagi orang tua, karena di usia inilah anak biasanya sering tantrum.

Kebiasaan ini akan berkurang seiring waktu. Asalkan jika orang tua dapat menangani tantrum anak dengan tepat. Namun di bali perilaku yang kerap kali membuat sakit kepala ini, ternyata ada berbagai manfaat yang dapat dirasakan anak. Berikut ini adalah 9 manfaat tantrum bagi anak yang mungkin tidak disangka oleh orang tua.

Tantrum dapat terjadi jika anak sedang menginginkan sesuatu, merasa lapar, tidak nyaman, lelah, atau bahkan sedang bosan. Balita belum dapat mengendalikan, mengomunikasikan, dan mengenali emosinya dengan baik. Hal itulah yang memicunya untuk mengamuk, agar orang dewasa di sekitarnya merespon perasaannya.

Selain sebagai sarana mengekspresikan diri, tantrum juga memberikan berbagai pelajaran bagi perkembangan anak. Berikut ini manfaat anak tantrum:

1. Belajar berdiskusi dan kompromi

Setelah emosi anak lebih tenang, orang tua dapat mulai mengajaknya berbicara baik-baik. Termasuk berkompromi mengenai kebutuhan anak. Saat inilah anak akan belajar bagaimana membicarakan perasaan dan keinginannya tanpa harus mengamuk.

Saat berdiskusi dengan anak, orang tua sebaiknya menerima apa yang anak rasakan, sebelum berkompromi dan membuat kesepakatan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh baginya.

2. Melatih penerimaan diri

Balita, walaupun masih berusia beberapa bulan, tahu apa yang dia inginkan. Hanya saja mereka belum mengerti bagaimana mengekspresikan penerimaan diri dan harapannya dengan baik. Hal itu akan membuatnya frustasi, bingung, hingga akhirnya mengamuk.

Melatih anak untuk menamai dan mengenal emosinya akan sangat membantunya untuk berekspresi dengan lebih baik. Orang tua dapat mengatakan, “Ade kecewa, karena kita tidak jadi ke tempat nenek ya?,” misalnya.

Anak akan menyadari bahwa perasaan tidak enak yang dia rasakan bernama kecewa, dan pengenalan itu akan menurunkan tingkat frustasinya.

3. Meningkatan kepercayaan diri anak

Di usia emasnya, anak belajar memahami bahwa mereka adalah pribadi yang independen. Anak akan belajar meningkatkan kemandiriannya, mulai merasa bahwa dia bisa dan pantas melakukan sesuatu. Termasuk menolak melakukan hal-hal yang dia tidak inginkan.

Di usia inilah, tantrum akan menjadi sarananya belajar bahwa dia telah mulai mandiri, namun masih membutuhkan orang tua. Anak akan merasakan kepuasan tersendiri jika dapat melakukan sesuatu secara mandiri. Termasuk mengekspresikan diri, mengendalikan emosinya, serta membuat kesepakatan dengan orang tua.

Bantulah anak melewati masa tantrumnya, lalu beri kebebasan padanya untuk melakukan sesuatu secara mandiri. Maka hal ini akan meningkatan kepercayaan dirinya.

4. Menjalin hubungan yang lebih erat dengan orang tua

Setelah mengamuk habis-habisan, biasanya anak akan kembali menunjukkan sikap manja dan terikat dengan orang tua. Hal ini biasanya akan memicu rasa haru dan kasih sayang bagi ayah dan ibu. Namun, bukan hanya orang tua, anak pun sangat menikmati momen ‘melekat’ seperti ini.

Dengan merasakan bahwa orang tuanya tetap memahami perasaannya di saat-saat menegangkan sebelumnya, akan menjadikan anak merasa lebih aman dan percaya kepada orang tuanya.

Anak merasa yakin bahwa mereka akan mendukungnya. Hal ini tentu akan semakin mempererat bonding antara anak dan orang tua.

5. Anak belajar mengenali emosinya

Manfaat anak tantrum untuk mengenali emosi. Itu berarti anak tahu apa nama perasaan yang dia rasakan, bagaimana mengungkapkan kepada orang lain, juga bagaimana menenangkan perasaan tidak enak itu.

Tantrum sangat berhubungan dengan berbagai jenis emosi negatif. Misalnya kecewa, takut, marah, sedih, terburu-buru, iri, dll.

Semua perasaan negatif ini jika tidak dikelola dengan baik akan menyulitkan anak bersosialisasi dan mengendalikan dirinya di masa depan. Pengelolaan emosi negatif harus dimulai dengan mengenali rasa dan nama emosi tersebut.

Baca Juga: 13 Cara Mengatasi Anak Tantrum (Bunda Harus Paham!)

6. Melatih empati anak

Setelah anak mengerti apa dan bagaimana perasaannya, mereka akan lebih menyadari perasaan orang lain saat mengalami hal yang mirip dengannya.

Jika orang tua menunjukkan bahwa mereka juga mengerti perasaan anak, menerima dan bersimpati pada kesulitan yang dialami saat tantrum, anak akan belajar untuk melakukan hal yang sama kepada orang lain.

7. Mendukung perkembangan otak

Otak balita belum sesempurna orang dewasa. Ada banyak sinaps atau saraf yang belum tersambung dengan baik. Perkembangan emosi di dalam otak akan terus berlangsung hingga anak berusia 17-18 tahun.

Saat anak mengalami tantrum dan orang tua dapat menghadapinya dengan benar, mereka telah membantu otak anaknya untuk berkembang. Akan ada sinaps-sinaps baru yang terhubung dan meningkatan kecerdasan emosi anak.

Hal ini akan membantu anak untuk berperilaku lebih baik, menentukan pilihan dengan tepat dan menghadapi berbagai kesulitan dalam hidupnya di kemudian hari.

8. Berlatih mengekspresikan perasaannya

Mengekspresikan perasaan dengan benar bukanlah hal yang mudah. Bahkan orang dewasa pun masih banyak yang harus berlatih agar lebih baik dalam hal ini.

Tantrum yang dihadapi dengan baik akan membuat anak belajar bagaimana menyampaikan perasaannya tanpa harus marah dan berteriak apalagi mengamuk.

Baca Juga: Anak Bisa Mengalami Stres dan Anxiety, Kenali Tandanya dengan Baik

9. Tidur lebih nyenyak

Tantrum memerlukan banyak energi. Menangis dan berteriak akan membuat anak lelah. ketika anak tantrum, seringkali orang tua berusaha mencegah dan mengalihkan perhatiannya agar dia tidak mengamuk.

Ternyata, hal ini salah. Menurut kate Orson, penulis buku Tears Heal, How to Listen to Our Children, mencegah ana mengeluarkan emosinya justru akan memicu masalah tidur. Anak akan cenderung gelisah, terbangun berkali-kali dan bahkan menangis dalam tidurnya.

Orson menyarankan agar orang tua mendampingi anak hingga periode tantrumnya berakhir dan ana tenang dengan sendirinya. Hal ini akan meningkatan kemampuan emosinya serta membantunya tidur dengan lebih nyenyak. Namun tetap perhatian keamanan anak selagi dia tantrum.

Ternyata, di balik perilaku tantrum terselip banyak sekali pelajaran anak. Maka mulai sekarang ayo hadapi dan bantu si Kecil melewati masa-masa tersebut agar manfaat anak tantrum dapat menstimulasi perkembangan kecerdasan emosi dan kepercayaan dirinya di masa depan.

Walaupun demikian, mohon tetap bijaksana untuk tidak membiarkan anak mengamuk, marah, dan menangis terlalu lama. Juga jangan meninggalkan anak sendirian saat sedang tantrum. Rangkul anak dengan penuh kasih sayang dalam setiap aktivitas dan perasaannya.

 

  1. Goss, Tricia. 2017. 9 Reasons Your Toddler’s Tantrum Is Actually A Good Thing. https://www.simplemost.com/9-reasons-your-toddlers-tantrum-is-actually-a-good-thing/. (Diakses pada 17 Januari 2022).
  2. O’Donnell, Lauren M. 2018. Temper Tantrums. https://kidshealth.org/en/parents/tantrums.html. (Diakses pada 17 Januari 2022).
  3. Orson, Kate. 2021. 10 Reasons Your Toddler’s Tantrum Is Actually a Good Thing. https://www.parents.com/toddlers-preschoolers/discipline/tantrum/10-reasons-your-toddlers-tantrum-is-actually-a-good-thing/. (Diakses pada 17 Januari 2022).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi