Terbit: 17 Mei 2022
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Anak tidak mau makan bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti saat anak sedang sakit, sensitif terhadap tekstur makanan, sedang lelah, bosan dengan menu makanan, atau alergi makanan tertentu. Apa saja penyebab yang harus diwaspadai oleh orang tua? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

11 Penyebab Anak Tidak Mau Makan yang Orang Tua Harus Waspadai

Penyebab Anak Tidak Mau Makan

Setiap orang tua pasti khawatir apabila anak tidak nafsu makan. Meski begitu, masalah anak tidak mau makan itu sangat umum, namun tidak boleh dibiarkan. Berikut adalah beberapa penyebab yang mendasari anak tidak nafsu makan, di antaranya:

1. Alergi atau Intoleransi Makanan

Alergi makanan yang paling umum pada balita adalah protein susu, telur, gandum, kacang-kacangan, atau makanan lainnya. Kondisi alergi makanan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh dan memicu gejala umum seperti mual, muntah, ruam kulit, atau sakit perut.

Sementara intoleransi makanan juga mungkin terjadi pada anak, umumnya intoleransi terhadap laktosa, gluten, atau jagung. Saat anak mengonsumsi makanan tersebut, dia akan merasakan gejala intoleransi makanan berupa gangguan pencernaan, termasuk kembung, diare, perut penuh gas, dan sakit perut.

Kedua kondisi tersebut bisa membuat balita atau anak tidak nafsu makan atau takut untuk mencoba menu makanan baru lainnya. Sementara balita tidak dapat mengatakannya secara langsung, tetapi rentan menolak makanan bila orang tua tidak paham cara mengatasi anak yang susah makan.

2. Mengalami Refluks dan Muntah

Balita yang baru mencoba makanan pendamping ASI (MPASI) mungkin mengalami reflux, yaitu kondisi saat asam lambung atau isi perut kembali naik ke kerongkongan. Ini bisa terjadi karena balita makan sambil berbaring, menggunakan popok terlalu ketat saat makan, langsung bermain setelah makan, atau masalah pencernaan lainnya.

Selain itu, anak Anda mungkin mengalami mual dan muntah yang menyebabkannya tidak nafsu makan lagi. Muntah yang sering dan banyak bisa menjadi tanda sistem pencernaan bayi yang masih berkembang, infeksi tertentu, efek obat-obatan, atau balita merasa sakit.

3. Diare atau Sembelit

Sistem pencernaan balita yang masih berkembang dan beradaptasi dengan susu atau MPASI dapat memicu efek seperti diare atau sembelit. Sembelit pada bayi jarang terjadi, sementara diare pada bayi mungkin terjadi dengan gejala sering BAB, tubuh lesu, tidak nafsu makan, buang air kecil sedikit, hingga berat badan menurun.

4. Kolik dan Masalah Nafsu Makan

Kolik adalah kondisi di mana bayi rewel atau menangis selama berjam-jam. Dilansir dari laman WebMD, kolik memang bukan penyebab anak tidak nafsu makan dan tidak juga memengaruhi kemampuan bayi untuk minum susu secara signifikan, namun kondisi ini membuat bayi memerlukan waktu yang cukup panjang untuk berhenti menangis, lebih tenang, sampai akhirnya mau makan atau minum susu lagi.

5. Kondisi Kesehatan yang Lebih Serius Lainnya

Penyebab anak tidak mau makan selanjutnya dapat terjadi karena balita mengalami masalah kesehatan yang lebih serius, seperti hipotiroidisme kongenital, botulisme bayi, penyakit celiac, fibrosis kistik, down syndrome, atau masalah medis lainnya.

Apabila masalah nafsu makan tersebut dibiarkan, dalam kondisi yang sangat parah akan memicu masalah tumbuh dan kembang anak atau memicu gizi buruk. Maka dari itu, sangat penting bagi orang tua untuk selalu memantau kesehatan si Kecil dan memenuhi kebutuhan nutrisi anak agar anak tumbuh sehat serta cerdas.

6. Faktor Sensorik

Anak memiliki faktor sensorik yang memengaruhi nafsu makan atau pola makannya. Anak cenderung menolak untuk makan saat anak menilai makanan itu tidak terlihat enak, memiliki tekstur yang aneh baginya, rasa yang tidak enak, merasa jijik, atau aroma yang menurutnya kurang sedap.

Anak-anak sangat menggunakan kekuatan sensoriknya saat memilih makanan. Pasalnya, anak-anak belum memiliki pengetahuan tentang makanan sehat atau nutrisi yang baik, sehingga anak akan makan sesuatu berdasarkan apa yang menurut indra sensoriknya menarik atau enak.

Baca Juga: 9 Menu Sarapan Sehat untuk Anak yang Mudah Dibuat dan Enak

7. Faktor Motorik

Terutama untuk balita yang sedang dalam pola makan MPASI, faktor motorik akan sangat memengaruhi nafsu makannya. Balita mungkin merasa belum bisa mengunyah dan menelan dengan baik, atau masih beradaptasi dengan jenis makanan baru, sehingga balita akan sulit makan, misalnya nasi. Inilah salah satu penyebab kenapa anak tidak mau makan nasi.

Penyebab anak tidak mau makan nasi mungkin karena mereka tidak tahu caranya mengunyah, takut tersedak, muntah, atau sakit perut. Maka dari itu, orang tua harus memastikan anak memiliki keterampilan motorik-oral yang baik atau konsultasi ke dokter anak akan masalah ini.

8. Perubahan Menu Makan

Mungkin Anda memberi anak menu makanan baru yang belum pernah anak coba atau tidak seperti biasanya, anak cenderung akan menolak menu makanan itu. Terutama menu makanan yang menurut sensorik anak tidak enak. Beberapa orang tua mungkin akan kesulitan memperkenalkan menu makanan baru pada anak.

9. Tidak Memiliki Jadwal Makan Teratur

Anak cenderung akan makan teratur bila Anda membiasakannya dengan rutinitas jadwal makan teratur. Misalnya, sarapan jam 7 pagi, makan siang jam 12 siang, waktu camilan sehat jam 3 sore, dan makan malam sebelum jam 8 malam.

Bila anak terbiasa tidak memiliki jadwal makan teratur, selalu makan sambil nonton TV, atau bermain ponsel, maka anak tidak akan fokus untuk makan atau bahkan tidak menganggap makan itu penting.

10. Picky Eater

Salah satu gejala picky eater (pemilih makanan) adalah mereka hanya mau makan jenis makanan tertentu dan menolak menu makanan lain yang dia tidak sukai. Biasanya mulai terjadi pada masa anak-anak, remaja, hingga berkembang sampai dewasa bila tidak ditangani.

Kondisi ini tentu saja akan berpengaruh pada pola makan, nafsu makan, dan pemenuhan nutrisi harian.

11. Orang Tua Terlalu Memaksa Anak dengan Keras

Penyebab anak tidak mau makan adalah saat anak mendapat tekanan untuk makan baik dari orang tua atau orang dewasa yang mengurusnya. Ya, orang tua pasti merasa khawatir dan kadang marah saat anak tidak mau makan atau minum susu. Namun semakin anak dipaksa untuk makan, maka anak akan semakin menolak untuk makan bahkan bila anak merasa sangat lapar.

Maka dari itu, sebaiknya gunakan pendekatan yang lembut saat anak tidak mau makan. Orang tua mungkin harus menemani anak makan, meyakinkan anak bahwa makananya sangat enak, atau membuat makanan terlihat menarik agar anak nafsu makan lagi.

Baca Juga: 10 Tips agar Anak Suka Makan Sayur dan Buah

Cara Mengatasi Anak Tidak Mau Makan

Berikut ini beberapa cara mengatasi anak yang tidak nafsu makan:

  • Buat variasi makanan dengan bentuk dan warna yang menarik namun tetap sehat.
  • Berikan anak jus buah, sop buah, atau smoothies untuk menambah nutrisi.
  • Atur jadwal makan anak dengan teratur.
  • Jangan memarahi dan memaksa anak bila tidak mau makan.
  • Tanyakan pada anak apa yang ingin dia makan.
  • Ajak anak untuk membeli bahan makanan dan menyiapkan makanan bersama.
  • Ikut makan bersama anak dan buat suasana makan yang nyaman.
  • Tetap pantau berat badan dan perkembangan anak.
  • Bila anak tidak mau makan dan disertai gejala seperti penurunan berat badan atau sakit, silakan konsultasi ke dokter.

 

  1. Anonim. 2016. Poor Feeding in Infants. https://www.healthline.com/health/poor-feeding-in-infants. (Diakses pada 15 Juli 2021).
  2. CASTLE, JILL, MS, RDN. 2021. 12 Reasons Kids Refuse to Eat. https://jillcastle.com/childhood-nutrition/12-reasons-child-wont-eat/. (Diakses pada 1 Agustus).
  3. Brennan, Dan, MD. 2020. Slideshow: Common Baby Feeding Problems. https://www.webmd.com/parenting/baby/ss/slideshow-feeding-problems. (Diakses pada 15 Juli 2021).
  4. Grogan, Alisha, MOT, OTR/L. 2014. 5 Reasons Kids Refuse to Eat. https://yourkidstable.com/5-reasons-kids-refuse-to-eat/. (Diakses pada 1 Agustus).
  5. Raising Child. 2020. Toddler not eating? Ideas and tips. https://raisingchildren.net.au/toddlers/nutrition-fitness/common-concerns/toddler-not-eating. (Diakses pada 15 Juli 2021).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi