Terbit: 16 Februari 2022 | Diperbarui: 8 Maret 2022
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Salah satu kekhawatiran orang tua terkait tumbuh kembang anak adalah posisi duduk si kecil yang membentuk huruf W. Apakah kebiasaan ini memengaruhi perkembangan motoriknya saat dewasa? Benarkah terdapat bahaya posisi duduk W pada bayi? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Benarkah Posisi Duduk W Berbahaya bagi Anak? Ini Penjelasannya

Apakah Posisi Duduk W Berbahaya bagi Anak?

Usia 2 sampai 5 tahun adalah waktu perkembangan penting bagi tumbuh kembang anak. Selama tahap ini seorang anak dapat menjadi lebih kuat dan mengembangkan keseimbangan tubuhnya.

Saat anak memilih duduk dalam posisi berbentuk huruf W, hal itu membuat pergelangan kakinya melebar di kedua sisi pinggul. Posisi ini membuat anak tidak menggunakan otot-otot inti untuk menopang postur tubuhnya. Duduk huruf W mungkin dilakukan karena anak memiliki masalah dengan fleksibilitas otot pinggulnya.

Lantas, apakah anak yang duduk dalam posisi membentuk huruf W berbahaya?

Beberapa anak melakukan posisi ini dalam waktu yang singkat. Jika anak hanya duduk di posisi ini sesekali, itu mungkin cara yang nyaman untuk bermain atau bersantai.

Akan tetapi jika posisi tersebut menjadi kebiasaan, hal itu dapat menyebabkan masalah postur dan gerak tubuh.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada anak usia 3 sampai 6 tahun mengungkapkan, anak-anak yang melakukan posisi duduk W untuk waktu yang lama memiliki kemiringan panggul depan dan rotasi internal pinggul saat berdiri.

Selain itu, bahaya anak duduk dengan posisi W lainnya—terutama yang melakukannya setiap hari—membuatnya memiliki risiko lebih tinggi untuk:

  • Memiliki masalah dengan tulang, sendi, otot, atau jaringan ikat.
  • Kerusakan pada anterior cruciate ligament.
  • Sakit punggung.

Duduk posisi W juga dapat menyebabkan:

  • Keseimbangan duduk yang buruk.
  • Tahap perkembangan bayi yang tertunda.
  • Pigeon toe.
  • Perubahan dalam perkembangan pinggul.
  • Otot panggul melemah.
  • Swayback posture.
  • Otot batang tubuh dan inti melemah.

Posisi duduk W juga bisa menjadi masalah jika anak mengalami peningkatan tonus otot atau kondisi neurologis tertentu, seperti cerebral palsy. Dalam kasus ini, duduk W dapat membuat otot lebih kencang, dan seiring waktu  duduk di posisi lain mungkin menjadi sulit.

Jika anak terus duduk dalam posisi W, perkembangannya secara keseluruhan dapat terpengaruh. Misalnya, mungkin menjadi sulit untuk menggerakkan kaki terpisah atau memutar pinggul.

Baca Juga: 9 Posisi Duduk yang Benar (Terbukti Aman)

Cara agar Anak Tidak Duduk dengan Posisi W

Setelah Anda mengetahui berbagai bahaya posisi duduk W seperti yang dijelaskan di atas, coba dorong anak untuk duduk dengan cara yang berbeda. Beberapa langkah yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Cobalah duduk di sampingnya. Mintalah anak untuk duduk di lantai bersama dan menirukan gerakan Anda.
  • Arahkan anak duduk dengan punggung menempel ke dinding dengan kaki terentang di depan Anda. Posisi ini akan membantu meregangkan paha belakangnya.
  • Dorong anak untuk meraih benda-benda yang ada di ketinggian. Cara ini membantu membangun otot dan fleksibilitas batang tubuh anak.

Pada akhirnya, apabila anak melakukan posisi duduk W untuk waktu yang singkat, hal tersebut tidak akan mengganggu perkembangan fisiknya. Namun, jika Anda khawatir mengenai posisi duduknya cobalah untuk:

  • Catat berapa lama anak duduk dengan posisi W.
  • Perhatikan jika anak merasa tidak nyaman dengan posisi duduk lain.
  • Memperhatikan tanda-tanda kelemahan fisik.
  • Cobalah perhatikan aktivitas tertentu yang tidak biasa dilakukannya.

Konsultasi dengan dokter diperlukan jika Anda memiliki kekhawatiran tentang posisi duduk W pada anak.

 

  1. Anonim. 2021. What to Know About W-Sitting in Children. https://www.webmd.com/children/what-to-know-about-w-sitting-in-children. (Diakses pada 16 Februari 2022).
  2. Marcin, Ashley. 2019. W-Sitting: Is It Really a Problem?. https://www.healthline.com/health/baby/w-sitting. (Diakses pada 16 Februari 2022).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi