Terbit: 25 Agustus 2020 | Diperbarui: 4 September 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Xenophobia kembali menjadi isu hangat di tengah pandemi COVID-19. Lantas, apa itu xenophobia? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Xenophobia: Jenis, Ciri-Ciri, Dampak, dll

Apa Itu Xenophobia?

Secara terminologi bahasa, xenophobia adalah perasaan takut terhadap orang asing. Istilah ini merupakan gabungan dari 2 (dua) kata dalam bahasa Yunani yakni ‘xenos’ yang artinya ‘orang asing’, dan ‘phobos’ yang memiliki makna ‘ketakutan’.

Orang asing yang dimaksud di sini merujuk pada suatu individu atau kelompok yang dianggap ‘berbeda’. Variabel perbedaan tersebut ada bermacam-macam, namun yang cukup sering kita temui meliputi ras, etnis, agama, warna kulit, dan orientasi seksual.

Sayangnya, meskipun terdapat kata ‘phobia’ yang secara literal berarti ‘takut’, xenophobia pada kenyataannya justru lebih sering didasari—atau berujung pada—rasa benci terhadap individu maupun kelompok yang berbeda tersebut.

Alhasil, yang terjadi selanjutnya adalah permusuhan dan tindakan diskriminatif dari para xenophobic (sebutan untuk orang-orang yang mengalami xenophobia). Bahkan, tak jarang diskriminasi yang diterima sampai ke arah tindak kekerasan, baik secara verbal maupun fisik.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

Apakah Xenophobia Termasuk Gangguan Mental?

Xenophobia bukan termasuk gangguan mental menurut the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Namun, beberapa psikolog dan psikiater telah menyarankan bahwa rasisme dan prasangka ekstrem harus diakui sebagai masalah kesehatan mental.

Beberapa orang berpendapat, bentuk prasangka yang ekstrem harus dianggap sebagai subtipe dari gangguan delusi. Penting untuk dicatat bahwa mereka yang mendukung sudut pandang ini juga berpendapat bahwa prasangka hanya menjadi patologis ketika prasangka menciptakan gangguan yang signifikan pada seseorang hingga mengganggu kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, para ahli lainnya berpendapat bahwa mengkategorikan xenofobia atau rasisme sebagai penyakit mental akan membuat masalah sosial menjadi medis.

Jenis Xenophobia

Xenofobia sendiri secara garis besar terdiri dari 2 jenis, yaitu:

  • Xenofobia budaya. Jenis ini melibatkan penolakan objek, tradisi, atau simbol yang terkait dengan kelompok atau kebangsaan lain. Ini dapat mencakup bahasa, pakaian, musik, dan tradisi lain yang terkait dengan budaya.
  • Xenofobia imigran. Jenis ini melibatkan penolakan terhadap orang-orang yang para xenofobik tidak termasuk dalam kelompok mayoritas. Hal ini dapat mencakup penolakan orang dari agama atau kebangsaan yang berbeda.

Ciri-Ciri Xenophobia

Seseorang dianggap mengalami xenophobia apabila ia bersikap seperti berikut ini:

  • Merasa tidak nyaman berada di sekitar orang yang termasuk dalam “kelompok” yang berbeda
  • Berusaha keras untuk menghindari kelompok tertentu
  • Menolak berteman dengan orang lain hanya karena warna kulit, cara berpakaian, dan faktor-faktor terkait lainnya
  • Tidak bisa menjalin relasi sosial yang baik dengan individu yang memiliki perbedaan ras, agama, warna kulit, dan sebagainya

Penyebab Xenophobia

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi xenofobik. Ambil contoh, pandemi COVID-19 yang saat ini belum juga usai. Dikarenakan wabah ini pertama kali muncul di kota Wuhan, Tiongkok, banyak orang yang akhirnya dihinggapi rasa takut terhadap warga Negeri Tirai Bambu tersebut.

Pada kasus COVID-19, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memaparkan 3 (tiga) penyebab munculnya stigma yang lantas berujung pada xenophobia ini,yaitu:

  • Wabah baru pertama kali terjadi
  • Naluri manusia untuk takut terhadap sesuatu yang ‘asing’
  • Rasa curiga satu sama lain

Mirisnya, xenophobia yang didasari ketakutan akan tertular virus SARS-Cov-2 tersebut malah berubah menjadi kebencian berlandaskan rasisme. Dilansir dari Time, warga keturunan Tionghoa di Amerika Serikat mendapat diskriminasi akibat wabah COVID-19 ini. Terlebih ketika Presiden Donald Trump menggaungkan istilah “Chinese Virus”.

Selain itu, penyebab orang menjadi xenofobik biasanya karena mereka percaya bahwa budaya atau bangsanya lebih unggul, sehingga ingin menyingkirkan kelompok yang berbeda dari komunitasnya. Parahnya, cara-cara yang tidak benar kerap dilakukan guna mencapai tujuan tersebut, mulai dari ujaran kebencian (hate speech) hingga tindak kekerasan fisik yang menimbulkan korban jiwa sekalipun.

Dampak Negatif Xenophobia

Xenofobia tidak hanya berdampak negatif dalam tingkatan individu. Masalah ini juga turut memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk sikap budaya, ekonomi, politik, dan sejarah.

Berikut ini adalah beberapa dampak yang ditimbulkan dari xenophobia:

  • Permusuhan jangka panjang
  • Individu atau kelompok yang dimusuhi menjadi kesulitan untuk bisa mengembangkan diri, karir, dan sebagainya
  • Ancaman kekerasan bagi individu atau kelompok yang terpojokkan
  • Diskriminasi di banyak aspek kehidupan
  • Perang
  • Genosida

Pada kasus COVID-19, munculnya xenophobia ini bisa saja berdampak pada terhambatnya pengendalian wabah tersebut. Pasalnya, stigma negatif terhadap pasien COVID-19 kemungkinan akan membuat banyak orang enggan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Alhasil, penyebaran virus sulit terdeteksi.

Cara Mengendalikan Xenophobia

Mungkin sah-sah saja manakala Anda dilanda rasa takut terhadap orang lain, seperti pada kasus COVID-19 ini. Tentunya kita semua tidak ingin tertular penyakit yang telah merenggut banyak nyawa ini, bukan?

Akan tetapi, tentu bukan suatu hal yang baik apabila fobia ini terus berlarut-larut dan bahkan berubah menjadi kebencian seperti yang banyak terjadi selama ini. Nah, apa yang harus Anda lakukan guna mengendalikan xenophobia?

  • Perbanyak pengalaman. Banyak orang yang menjadi xenofobik dikarenakan pengalaman atau pergaulannya justru kurang luas. Akhirnya, mereka tidak dapat menghargai keberagaman yang ada di dunia ini. Bepergian ke berbagai belahan dunia atau kota-kota di penjuru negeri mungkin bisa menjadi salah satu medium untuk lebih mengenal dunia.
  • Lawan rasa takut akan hal yang tidak diketahui. Takut akan hal yang tidak diketahui adalah salah satu ketakutan terkuat dari semuanya. Oleh sebab itu—berkaitan dengan poin sebelumnya—Anda perlu untuk menambah pengalaman dan wawasan. Dengan begitu, rasa takut apalagi benci dapat dikendalikan.
  • Bijak dalam mengolah informasi. Banyak kasus xenophobia yang berujung pada rasa benci dikarenakan tidak bijaknya seseorang dalam mengolah informasi yang ia dapat. Oleh karena itu, sebaiknya berhati-hati ketika menerima suatu informasi. Telaah baik-baik sebelum mengambil konklusi.

 

  1. Fritscher, L. 2020. What is Xenophobia? https://www.verywellmind.com/xenophobia-fear-of-strangers-2671881 (diakses pada 25 Agustus 2020)
  2. Kambhampaty, A. 2020. ‘I Will Not Stand Silent.’ 10 Asian Americans Reflect on Racism During the Pandemic and the Need for Equality. https://time.com/5858649/racism-coronavirus/ (diakses pada 25 Agustus 2020)
  3. WHO. Social Stigma Associated with COVID-19. https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/covid19-stigma-guide.pdf (diakses pada 25 Agustus 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi