10 Penyebab Batuk Terus Menerus dan Indikasi Penyakit

doktersehat-sakit-flu-batuk-orang-tua-penumonia-tersedak

DokterSehat.Com – Batuk terus menerus bisa menjadi indikasi penyakit serius yang tidak bisa disepelekan. Sangat diwajibkan mengambil tindakan medis ketika batuk berkepanjangan dan tidak menunjukkan kondisi semakin membaik.

Sebelumnya, perlu diketahui apa penyebab batuk tak kunjung sembuh. Sebagian besar kasus batuk terus menerus dikarenakan penderita menjalani pola hidup tidak sehat sehingga berujung demikian, akan tetapi ada pula penyebab lain yang tidak terprediksi oleh penderita tanpa asistensi dari tenaga medis.

Penyebab Batuk Tak Kunjung Sembuh

1. Infeksi Virus Flu Menyebabkan Batuk Terus Menerus

Salah satu penyebab batuk terus menerus yang paling umum adalah infeksi virus flu. Meskipun Anda telah sembuh dari pilek, batuk tidak kunjung hilang selama beberapa minggu dikarenakan sirkulasi udara tempat tinggal masih terkontaminasi dengan virus tersebut. Oleh karena itu, sangat penting untuk memerhatikan hiegenitas tempat tinggal ketika terserang penyakit batuk berkepanjangan.

2. Batuk Tak Kunjung Sembuh Bisa Menjadi Indikasi Penyakit Lain

Alergi dan asma dapat menimbulkan batuk. Begitu pula asam lambung dan sleep apnea, namun kedua penyakit ini menimbulkan batuk berkepanjangan dan jauh lebih parah ketimbang batuk biasanya. Selain itu, penyakit cegukan, mulas, dan muntaber bisa juga ikut berkontribusi.

3. Stres, Penyebab Psikologis Batuk Berkepanjangan

Tekanan dan beban pikiran berlebihan hingga depresi ternyata berdampak pada gangguan pernafasan hingga tenggorokan. Ketika sedang menderita batuk, kurangi beban pikiran dan cari aktivitas yang bisa membuat perasaan menjadi lebih baik. Mendorong diri terlalu berlebihan dapat menyebabkan batuk terus menerus.

Tidur cukup dan teratur juga membantu pikiran lebih rileks dan mengurangi stres.

4. Kurang Minum Air

Ketika sedang sakit, dokter selalu menyarankan pasien untuk mengonsumsi air lebih banyak untuk menjaga tubuh dari dehidrasi. Air minum, jus buah, dan sup dapat membantu saluran pernafasan menjadi lebih lancar dan tenggorokan menjadi bersih. Hindari mengonsumsi alkohol dan minuman berkafein karena sifatnya membuat tubuh dehidrasi.

5. Udara terlalu kering atau lembab

Udara kering ketika musim kemarau menyebabkan debu bertebaran, menjadi penyebab batuk berkepanjangan. Di lain sisi, jika udara terlalu lembab seperti saat musim hujan, juga tidak baik bagi pernafasan. Oleh karena itu, sangat penting untuk memerhatikan tingkat kelembaban udara di lingkungan tempat tinggal. Idealnya, kelembaban udara berada pada tinkgat 40 – 50 persen.

6. Infeksi Bakteri

Di saat sedang sakit, tubuh jauh lebih rentan terserang bakteri yang dapat menyebabkan infeksi sinus, bronkitis, hingga pneumonia. Jika Anda mengalami demam atau nyeri bersamaan dengan batuk terus menerus, infeksi bakteri bisa diasumsikan sebagai penyebabnya. Kunjungi dokter karena Anda membutuhkan antibiotik.

Penyebab Batuk Terus Menerus Lainnya

Akibat Gangguan Emosi

Buat perokok berat, batuk umumnya dianggap biasa. Demikian pula kalo tubuh makin kurus. Padahal, kedua tanda itu bisa jadi merupakan gejala TBC atau kanker paru-paru. Sebagai gejala,batuk bisa sebagai macam-macam petunjuk adanya penyakit. Misalnya radang menahun pada paru-paru dan salurannya (bronchus). Radang ini dapat terjadi karena rangsangan terus-menerus oleh pengaruh dari luar termasuk asap rokok. Batuk bagi perokok acap dianggap kebanyakan merokok. Jika gejala diremehkan bisa fatal akibatnya. Kalanya juga dijumpai darah dalam dahak. Si “ehem” ini ternyata juga bisa dipicu oleh faktor diluar paru-paru misalnya karena gangguan pada lambung dan saluran makanan dekat lambung.

Anehnya lagi, pembesaran jantung kiri dapat mengundang gejala batuk. Yang tidak disadari oleh banyak orang, gangguan emosi pun bisa mengakibatkan batuk. Batuk sebagai penyakit punya tiga sebab yakni virus, kuman dan alergi. Batuk karena virus itulah yang umum diderita. Batuk karena kuman misalnya TBC dan bronchitis. Batuk karena alergi contohnya asma, batuk ini disertai dengan sesak nafas. Jenis batuk ada 2 yakni batuk basah (berdahak) dan batuk kering (tidak berdahak). Batuk rejan atau dikenal dengan batuk 100 hari masuk dalam kelompok batuk kering. Batuk jenis ini menyerang balita yang diberikan imunisasi DPT, jarang terjadi pada orang dewasa.

Bisa Bikin Pikun
Jika batuk sudah kronis, mastinya segera dibawa ke dokter. Batuk disebabkan virus,cukup diobati dengan obat batuk yang dijual bebas, tapi perlu hati-hati sebab setiap obat batuk ada efek sampingnya. Selain itu, dosis juga mesti ditepati. Soalnya, kalo pemakaiannya melebihi dosis, akan berakibat pada ginjal. Tak kalah penting adalah memperhatikan kandungan obat bagi penderita tertentu, misalnya sakit maag karena obat batuk yang beredar mencapai ratusan merek.

Bahkan seperti yang diutarakan pada acara ilmiah tentang infeksi saluran nafas di Semarang (29 April 1994) ada obat yang bisa menyebabkan orang tua menjadi pikun, atau mempercepat orang menjadi pikun. Bromida, yang dikandung sebuah obat batuk yang beredar di pasaran bisa mempengaruhi sistem saraf di otak, terutama fungsi daya ingat dan kognitif. Obat batuk biasanya terdiri atas zat pereda batuk dan expectorant. Zat pereda batuk ini tidak dapat menghalau lendir tapi menekan saraf batuk. Efeknya menimbulkan kantuk ringan dan mual. Sedangkan ekspectorant berfungsi mendorong zat-zat asing dari paru-paru dengan mengeluarkan lendir dan mudah dikeluarkan melalui batuk. Zat ini bekerja dengan merangsang permukaan lambung yang mengakibatkan rasa mual dan muntah. Anti tusif ada yang bersifat narkotik seperti codein, biasanya pemakaian jangka lama menyebabkan ketergantungan, dan non narkotik seperti noskapin, dextrometorphan. Anti histamin merupakan anti alergi yang dipromosikan bisa membantu mengeringkan hidung dan melegakan pernafasan, ternyata bisa mengakibatkan saluran nafas menjadi kering dan nafsu makan berkurang.

Faktor Resiko
Efektivitas obat sangat banyak faktor. Dalam hal batuk karena virus, bisa jadi penyebabnya adalah daya tahan tubuh yang sedang menurun. Ketika daya tahan tubuh berangsur membaik, batuk bisa lenyap tanpa obat, tapi kalau disertai panas (berarti infeksi) maka perlu obat. Dengan begitu memilih obat pun sangat tergantung pada beberapa faktor antara lain usia, berat badan, kadar obat dalam darah, jenis kelamin, beratnya penyakit dan keadaan penderita.

Pengobatan batuk rasional adalah menggunakan satu ekspektoran/ antitusif, hanya pada kondisi tertentu kombinasi atau penambahan obat lain sesuai penyakit batuk terus menerus dan penyertanya.. Hati-hati masih adanya obat batuk berkepanjangan yang tidak menyantumkan kontra indikasi serta hal-hal yang masyarakat harus ketahui dalam penggunaan obat tersebutkarena memiliki faktor resiko terutama pada bayi, wanita hamil dan menyusui serta manula. Oleh karena itu indikasi, kontra indikasi, maupun dosisnya harus ditulis dengan jelas dan tepat.