12 Penyakit Penyebab Benjolan di Leher (No. 5 Mematikan!)

benjolan-di-leher-doktersehat

DokterSehat.Com – Benjolan di leher adalah gangguan kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Meski benjolan di leher tapi tidak sakit, namun harus tetap diperiksakan ke dokter untuk mengetahui apakah ada kelainan pada kelenjar tiroid.

Memang, sebagian besar benjolan pada leher atau pembengkakan di bawah kulit tidak berbahaya dan sembuh atau hilang dengan sendirinya. Namun, bukan berarti Anda dapat menganggap remeh benjolan tersebut. Selengkapnya ketahui lebih jauh penyebab benjolan pada leher di bawah ini.

Penyebab Benjolan di Leher yang Perlu Diwaspadai

Ada banyak penyebab pembengkakan di leher. Berikut adalah berbagai penyakit penyebab benjolan di leher yang tidak berbahaya hingga mematikan, di antaranya:

1. Tuberkulosis (TBC)

TBC tidak hanya terkait dengan kesehatan paru-paru. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini ternyata juga menyerang bagian lain seperti kelenjar, sehingga menyebabkan kelenjar getah bening di leher.

Penyakit ini diawali dengan beberapa gejala, seperti demam berkepanjangan, batuk berlangsung lama, nafsu makan menurun, serta benjolan di leher, ketiak dan paha. Hanya saja yang sering ditemukan adalah benjolan di bagian leher. Benjolan tersebut terlihat mengelompok. Selain itu, benjolan sewaktu-waktu dapat pecah dan mengeluarkan cairan seperti nanah.

2. Peradangan Kelenjar Getah Bening (Lymphadenitis)

Kelenjar di leher berupa benjolan paling sering disebabkan oleh peradangan kelenjar getah bening. Kondisi ini bisa disebabkan oleh adanya infeksi pada kulit kepala, sinus, amandel, tenggorokan, gusi, gigi maupun kelenjar ludah. Biasanya, kelenjar getah bening menimbulkan benjolan di belakang leher, di kedua sisi tulang belakang, juga dapat muncul di setiap belakang  telinga.

Infeksi tersebut biasanya disebabkan oleh virus dan bakteri. Pembesaran kelenjar getah bening dalam jangka waktu yang cepat juga dapat disebabkan oleh adanya sel kanker.

3. Struma

Struma adalah benjolan di leher tapi tidak sakit dapat disebabkan karena adanya pembesaran kelenjar gondok atau kelenjar tiroid. Penyakit ini disebut struma, yang dapat disebabkan oleh autoimun, infeksi THT (telinga, hidung dan tenggorokan), tinggi dan rendahnya hormon yang dilepas oleh kelenjar ini.

Biasanya pembesaran yang disebabkan ketidakseimbangan hormon dapat mengecil dengan sendirinya saat hormon itu jumlahnya akan kembali normal.

Selain itu, struma juga dapat disebabkan oleh adanya sel-sel yang pertumbuhannya abnormal. Bila sel itu adalah tumor ganas biasanya benjolan malah cepat membesar sehingga harus segera diangkat.

4. Abses di Leher

Abses di leher adalah kondisi di mana terdapat akumulasi nanah karena infeksi pada ruang-ruang yang ada di antara struktur leher, seperti dikutip dari ePainAssist.com. Ketika pengumpulan nanah meningkat, ada perluasan ruang jaringan lunak, yang mendorong terhadap struktur di leher, seperti lidah, kerongkongan, dan dalam kasus yang lebih parah, tenggorokan atau trakea.

Leher adalah area yang sangat sensitif untuk pembentukan abses dan berpotensi menjadi serius jika tidak segera diobati. Abses leher juga dikenal sebagai abses cervical atau infeksi leher dalam.

Abses leher juga bisa berupa abses leher superfisial, di mana abses leher terbentuk pada lapisan luar leher; atau abses leher yang dalam di mana abses terbentuk di lapisan leher yang lebih dalam.

Abses leher dapat menjadi serius jika tidak diobati, kemungkinan ukurannya benjolan di leher kanan atau kiri akan membesar, yang dapat menekan trakea atau pipa udara dan menyebabkan pernapasan bermasalah. Perawatan abses leher dapat menggunakan obat-obatan, seperti antibiotik, dan drainase abses jika diperlukan.

5. Kanker Kelenjar Getah Bening

Kelenjar getah bening adalah organ kecil berbentuk seperti kacang yang memproduksi dan menyimpan sel darah, yang membantu melawan penyakit dan infeksi. Namun beberapa kanker dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening, yang menimbulkan benjolan di leher. Kanker dapat mulai di kelenjar getah bening itu sendiri atau lebih umum mungkin menyebar dari bagian tubuh lainnya.

Nyeri atau pembengkakan pada kelenjar getah bening adalah gejala umum kanker yang dimulai pada sistem limfatik, seperti limfoma non-Hodgkin dan limfoma Hodgkin.

Kanker yang dimulai di bagian lain tubuh dan menyebar ke kelenjar getah bening disebut metastasis. Bahkan ketika kanker menyebar ke kelenjar getah bening, kanker ini masih dinamai sesuai dengan area tubuh di mana kanker itu bermula.

Penyakit ini berbahaya dan dinilai dari tinggi angka stadium kanker kelenjar getah bening (stadium 1-4) dan penyebaran sel kanker itu sendiri dalam tubuh. Untuk kanker-kanker dengan stadium lanjut dapat menyebabkan hingga kematian. Selengkapnya simak stadium kanker kelenjar getah bening pada tautan berikut ini.

Baca juga: Kanker Kelenjar Getah Bening (Limfoma) – Gejala, Penyebab, Obat

6. Cedera Otot Leher

Cedera otot leher atau yang sering disebut dengan tortikolis dapat menyebabkan benjolan di leher yang tidak berbahaya, terutama pada otot-otot leher. Tortikolis seringkali terjadi karena pergeseran tulang belakang daerah leher.

Penyebab terburuk dari tortikolis adalah adanya tumor di daerah tulang belakang. Tortikolis yang sifatnya ringan, dapat diatasi dengan penyangga leher.

7. Kista Epidermoid

Kista Epidermoid adalah benjolan kecil yang bukan kanker di bawah kulit, kista ini dapat membentuk benjolan di leher kanan atau kiri. Kista Epidermoid dapat muncul di mana saja pada kulit, tetapi paling umum pada wajah dan badan.

Benjolan di leher tapi tidak sakit dan tumbuh lambat sehingga jarang menyebabkan masalah atau memerlukan perawatan. Anda mungkin memilih untuk mengangkat kista oleh dokter jika penampilannya mengganggu atau jika terasa sakit, pecah atau terinfeksi.

Banyak orang menyebut kista epidermoid sebagai kista sebaceous, tetapi keduanya berbeda. Kista sebaceous kurang umum. Ini muncul dari kelenjar di leher yang mengeluarkan zat berminyak yang melumasi rambut dan kulit (kelenjar sebaceous).

8. Kista Thyroglossal

Adalah benjolan di leher tapi tidak sakit atau nyeri, dan biasanya berada di bagian tengah leher tepat di bawah dagu. Benjolan dapat bergerak naik saat menelan. Sementara ketika terinfeksi, benjolan menjadi menyakitkan.

Kista thyroglossal adalah kista yang tumbuh leher, termasuk benjolan di leher belakang yang bersifat jinak. Penyakit ini diyakini disebabkan oleh kerusakan pada penutupan saluran yang menghubungkan kelenjar tiroid ke foramen caecum (bagian perkembangan dari belakang lidah).

Kista thyroglossal dapat muncul pada anak-anak atau orang dewasa muda. Dibutuhkan eksisi total (pembedahan untuk mengangkat jaringan) untuk mencegah kekambuhan. Jika tidak diangkat, berisiko menjadi ganas.

9. Lipoma

Lipoma adalah benjolan lemak yang tumbuh lambat dan paling sering terletak di antara kulit dan lapisan otot yang mendasarinya. Benjolan di leher kanan atau kiri yang tampak pucat dan biasanya lunak, mudah bergerak bila ditekan jari. Lipoma biasanya terdeteksi pada usia pertengahan dan beberapa orang bisa memiliki lebih dari satu lipoma.

Lipoma bukanlah kanker dan biasanya menimbulkan benjolan di leher yang tidak berbahaya. Perawatan umumnya tidak diperlukan, tetapi jika lipoma mengganggu Anda, terasa sakit atau membesar, Anda mungkin perlu menghilangkan benjolan oleh dokter.

10. Gondong

Mumps atau gondong adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus gondong. Penyakit ini menyebabkan benjolan di leher dan dapat menular melalui air liur, sekresi hidung, dan kontak dengan orang yang terinfeksi virus gondong.

Gejala gondongan ditandai dengan demam, kelelahan, sakit kepala, sakit tubuh, dan kehilangan nafsu makan.

Gondong biasanya memengaruhi kelenjar ludah atau disebut kelenjar parotis. Kelenjar ini berfungsi untuk memproduksi air liur. Terdapat tiga kelenjar air liur di setiap sisi wajah, yang terletak di belakang dan di bawah telinga.

11. Gondok

Goiter atau gondok adalah pembengkakan kelenjar tiroid yang menyebabkan benjolan di leher bagian depan. Benjolan ini dapat bergerak ke atas atau ke bawah ketika menelan.

Kelenjar tiroid adalah kelenjar di leher yang berukuran kecil dan berbentuk seperti kupu-kupu, tepat di depan batang tenggorokan (trakea). Kondisi ini menghasilkan hormon tiroid, yang membantu mengatur metabolisme tubuh, proses kimia yang terjadi dalam tubuh.

Ukuran gondok berbeda pada setiap orang. Dalam kasus yang lebih parah, gejala gondok di antaranya batuk, perasaan keras di tenggorokan, suara serak, perubahan suara, kesulitan menelan (disfagia), dan kesulitan bernapas.

12. Mononukleosis

Mononukleosis adalah sekelompok gejala yang biasanya disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV). Penyakit yang menimbulkan benjolan di leher ini biasanya diderita remaja, tetapi usia berapapun bisa mengalaminya. Virus ini menular melalui air liur, inilah sebabnya sebagian orang menyebut penyakit ini karena berciuman.

Tidak sedikit yang mengalami infeksi EBV, terutama pada anak-anak setelah usia 1 tahun. Biasanya tidak menimbulkan gejala atau mungkin sangat ringan sehingga penderitanya tidak sadar menderita penyakit ini.

Tetapi, gejala yang mungkin dapat dirasakan di antaranya sakit kepala, kelemahan otot, kelelahan, ruam (bintik-bintik berwarna merah muda atau ungu di kulit atau di mulut), pembengkakan amandel, dan keringat malam.

Setelah mengalami infeksi EBV, Anda tidak akan mendapatkan infeksi lainnya. Setiap anak yang mendapat EBV mungkin akan kebal terhadap mononukleosis selama sisa hidupnya.

Penyebab Umum yang Mendasari Benjolan di Leher

Pembesaran kelenjar getah bening adalah kondisi yang paling sering menyebabkan benjolan di leher belakang. Kelenjar getah bening mengandung sel-sel yang membantu tubuh melawan infeksi dan menyerang sel-sel ganas atau kanker. Ketika sakit, kelenjar getah bening dapat membesar untuk membantu melawan infeksi. Penyebab umum lainnya dari pembesaran kelenjar getah bening, di antaranya:

  1. Infeksi sinus
  2. Infeksi telinga
  3. Radang tenggorokan
  4. Radang amandel
  5. Infeksi gigi
  6. Infeksi bakteri pada kulit kepala

1. Kanker

Sebagian besar benjolan leher tidak berbahaya, tetapi kanker adalah kemungkinan penyebab yang patut diwaspadai. Kemungkinan benjolan leher pada orang dewasa dapat meningkat setelah usia 50.

Menurut American Cancer Society (ACS), penggunaan tembakau (merokok) dan minum alkohol dalam jangka waktu lama menjadi dua faktor risiko terbesar terhadap kanker mulut dan tenggorokan. Faktor risiko umum lainnya untuk kanker leher, tenggorokan, dan mulut adalah infeksi human papillomavirus (HPV). Infeksi ini dapat ditularkan secara seksual.

Kanker yang menimbulkan gejala benjolan di leher, di antaranya:

  1. Kanker tiroid
  2. Kanker pada jaringan kepala dan leher
  3. Limfoma Hodgkin
  4. Limfoma non-Hodgkin
  5. Leukemia
  6. Jenis kanker lainnya, seperti kanker paru-paru, dan payudara
  7. Kanker kulit, seperti karsinoma sel basal, keratosis aktinik, karsinoma sel skuamosa, dan melanoma.

2. Virus

Tidak sedikit virus yang dapat menginfeksi manusia, banyak di antaranya dapat menyebabkan benjolan di leher, termasuk, herpes simpleks, HIV, rubella, dan faringitis virus.

3. Bakteri

Infeksi bakteri dapat menyebabkan masalah pada leher dan tenggorokan, yang mengakibatkan peradangan dan benjolan di leher, di antaranya:

  1. Infeksi dari mikobakterium atipikal, sejenis bakteri yang paling umum pada orang memiliki sistem imun lemah dan penyakit paru-paru.
  2. Cat scratch fever – infeksi bakteri yang disebabkan cakaran kucing
  3. Abses peritonsiler, yang merupakan abses pada atau dekat amandel
  4. Radang tenggorokan
  5. Radang amandel
  6. TBC
  7. Faringitis bakteri

Baca juga: Pengobatan Benjolan di Leher pada Anak

Seberapa Bahaya Benjolan di Leher?

Telah dijelaskan di atas bahwa benjolan di leher dapat disebabkan oleh berbagai kondisi dan penyakit, bisa jadi gejala yang ditimbulkan tidak sekadar benjolan. Misalnya pada penderita yang disebabkan oleh kanker, terjadi perubahan kulit di sekitar daerah tersebut. Gejala lainnya yang bisa muncul adalah adanya darah pada air liur maupun dahak.

Benjolan pada leher dapat menjadi berbahaya apabila menghalangi pernapasan, Anda bisa mengalami kesulitan bernapas atau terdengar serak saat berbicara. Benjolan di leher yang menghambat jalan napas sehingga menimbulkan keluhan tersebut adalah kondisi serius yang perlu segera mendapat penanganan.

Selain itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah lengkap, foto Rontgen, USG, CT-scan atau MRI kepala dan leher–untuk menentukan apakah benjolan di leher berbahaya atau tidak.

Baca juga: Leher Sakit Menandakan Kolesterol Tinggi?

Gejala Benjolan di Leher secara Umum

Gejala benjolan pada leher disebabkan oleh berbagai kondisi dan penyakit, berikut ini gejala  yang dapat menandakan berbahaya atau tidaknya benjolan tersebut, yaitu:

  • Benjolan bertahan lama di leher
  • Benjolan bertambah besar (dalam waktu mingguan atau bulanan)
  • Mobilitas benjolan (mobile atau immobile)
  • Batuk-batuk bertahan lama (lebih dari 2 minggu)
  • Benjolan terasa mengeras
  • Sesak napas/sulit bernapas
  • Demam
  • Sulit menelan
  • Menurunnya berat badan
  • Suara serak
  • Meningkatnya denyut jantung
  • Perubahan warna kulit di sekitar benjolan
  • Darah di air liur.

Diagnosis Benjolan di Leher

Jika menemukan benjolan pada leher Anda, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memeriksakannya ke dokter. Tergantung pada apa yang ditemukan, dokter dapat memesan satu atau lebih dari tes berikut:

1. Tes Pencitraan

Tergantung pada kondisinya, dokter dapat memesan satu atau lebih tes pencitraan untuk menyelidiki benjolan di leher, untuk menentukan apakah benjolan itu berbahaya atau tidak. Tes-tes ini dapat mencakup:

  • Pemindaian ultrasound
  • Sinar X
  • CT-scan
  • Pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI)
  • Pemindaian Positron Emission Tomography (PET)

2. Biopsi Aspirasi Jarum Halus (FNAB)

Dokter mungkin menyarankan Anda untuk menjalani biopsi untuk mengevaluasi benjolan jika ia merasa perlu. Biopsi aspirasi jarum halus adalah prosedur di mana dokter akan menggunakan jarum kecil melalui benjolan untuk menyedot beberapa sel pada benjolan untuk pengujian lebih lanjut. Untuk meningkatkan akurasi, sebagian besar FNAB dilakukan di bawah bimbingan ultrasound.

Pengobatan Benjolan di Leher

Tergantung pada apa yang ditemukan dan penyebabnya, dokter mungkin menyarankan Anda untuk menghilangkan benjolan dengan pembedahan. Kelenjar getah bening yang reaktif tidak memerlukan perawatan apa pun.

Namun dalam kasus di mana benjolan itu bersifat kanker, mungkin perlu pembedahan untuk menghilangkan kelenjar getah bening di leher karena sel-sel kanker mungkin telah menyebar. Misalnya, tumor kulit, atau lipoma besar. (Lipoma kecil yang tidak menyebabkan gangguan tidak perlu dibuang). Kemoterapi biasanya digunakan untuk mengobati kanker terkait darah seperti limfoma dan leukemia.

Dokter mungkin menyarankan Anda untuk melakukan tes tindak lanjut di kemudian hari untuk memeriksa apakah ada perubahan baru.

Secara umum, kondisi yang menyebabkan benjolan di leher dapat dirawat. Misalnya, kelenjar tiroid yang kurang aktif akan diobati dengan hormon tiroid pengganti, tiroksin. Batu yang ada di saluran saliva dapat dihilangkan, membersihkan sumbatan dan menyingkirkan benjolan. Infeksi seperti abses dapat diatasi dengan menggunakan antibiotik.

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau oleh dr. Antonius Hapindra Kasim dan dr. Jati Satriyo.

 

Sumber:

  1. Lights, Verneda dan Tricia Kinman. 2018. What’s Causing This Lump on My Neck?. https://www.healthline.com/health/neck-lump#pictures-of-neck-lumps. (Diaskes 30 Oktober 2019)
  2. Anonim. 2019. Goitre. https://www.nhs.uk/conditions/goitre/. (Diaskes 30 Oktober 2019)
  3. Wieliczko, Kathy. Tanpa Tahun. Neck Masses. https://www.chop.edu/conditions-diseases/neck-masses. (Diaskes 30 Oktober 2019)
  4. Harding, Mary. 2017. Neck Lumps and Bumps. https://patient.info/signs-symptoms/neck-lumps-and-bumps-leaflet#nav-3. (Diaskes 30 Oktober 2019)
  5. Stinson, Adrienne. 2019. Cause of a lump on the back of the neck. https://www.medicalnewstoday.com/articles/324866.php. (Diaskes 30 Oktober 2019)