Terbit: 15 Maret 2021 | Diperbarui: 16 Maret 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Tamponade jantung adalah gangguan fungsi jantung akibat penumpukan cairan pada kantung perikardial. Penumpukan cairan yang cepat dapat mengancam jiwa. Selengkapnya simak gejala,  penyebab, pengobatan hingga pencegahan!

Tamponade Jantung: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Tamponade Jantung?

Tamponade jantung adalah kondisi yang memengaruhi kemampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh dengan baik. Kondisi ini terjadi karena tekanan pada jantung akibat darah atau cairan menumpuk pada ruang antara otot jantung dan kantung penutup luar jantung (perikardium).

Penyakit ini merupakan kondisi yang mengancam jiwa. Jika tidak segera ditangani dengan cepat, kondisi ini dapat mengakibatkan tekanan darah rendah yang berbahaya, kerusakan organ, syok, atau bahkan kematian.

Tanda dan Gejala Tamponade Jantung

Penyakit ini dapat merusak kemampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Hal ini mengakibatkan peredaran darah tidak lancar, ini bisa menyebabkan nyeri dada dan pusing.

Beberapa gejala tamponade jantung yang dokter sebut sebagai trias beck adalah:

  • Tekanan darah rendah pada arteri.
  • Suara jantung teredam.
  • Vena leher bengkak atau menonjol.

Penderita penyakit ini mungkin juga mengalami gejala berikut:

  • Denyut nadi lemah
  • Detak jantung yang cepat (takikardia)
  • Kulit kebiruan yang terasa dingin
  • Pusing
  • Pingsan
  • Sesak napas
  • Kantuk
  • Gelisah
  • Nyeri yang tajam pada dada, punggung, perut, atau bahu

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala tamponade jantung, hubungi dokter atau segera ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan darurat medis. Ini merupakan kondisi darurat yang membutuhkan pertolongan medis secepat mungkin.

Penyebab Tamponade Jantung

Tamponade jantung adalah penyakit yang biasanya terjadi akibat tekanan oleh cairan yang menumpuk pada perikardium, kantong tipis yang mengelilingi jantung. Rongga pada sekitar jantung dapat terisi dengan darah atau cairan tubuh lainnya yang dapat menekan jantung.

Ketika cairan menekan jantung, semakin sedikit darah yang bisa masuk ke jantung. Ini mengakibatkan semakin sedikit darah yang kaya oksigen dipompa ke seluruh tubuh. Kurangnya darah yang masuk ke jantung dan bagian tubuh lainnya dapat menyebabkan syok, gagal organ, dan serangan jantung.

Berikut ini sejumlah kondisi yang mungkin menjadi penyebab penumpukan cairan pada perikardium:

  • Cedera dada akibat kecelakaan.
  • Luka tembak atau tusukan.
  • Perforasi (lubang atau luka pada dinding organ tubuh) secara tidak sengaja setelah kateterisasi jantung, angiografi, atau pemasangan alat pacu jantung.
  • Tusukan yang dibuat selama penempatan jalur sentral, yang merupakan jenis kateter untuk memberikan cairan atau obat-obatan.
  • Kanker yang telah menyebar ke kantung perikardial, seperti kanker payudara atau paru-paru.
  • Aneurisma aorta pecah.
  • Perikarditis, radang perikardium.
  • Lupus, penyakit radang ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan yang sehat.
  • Tingkat radiasi yang tinggi ke dada.
  • Hipotiroidisme, yang meningkatkan risiko penyakit jantung.
  • Infeksi yang mempengaruhi jantung.
  • Serangan jantung.
  • Gagal ginjal.

Komplikasi yang terjadi setelah operasi jantung juga dapat menyebabkan penyakit ini.

Faktor Risiko

Penyakit ini bukanlah kondisi yang umum, tetapi dapat menyerang siapa saja. Orang dengan kondisi medis tertentu lebih berisiko, termasuk:

  • HIV
  •  Penyakit ginjal stadium akhir
  •  Memiliki riwayat gagal jantung
  •  Tuberkulosis (TBC)
  •  Tumor ganas

Diagnosis Tamponade Jantung

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penyakit ini biasanya memiliki tiga gejala yang dapat dokter kenali sebagai trias beck.

Dokter akan melakukan tes lebih lanjut guna memastikan diagnosis dengan tepat. Salah satu tes tersebut adalah ekokardiogram, merupakan ultrasonografi (USG) jantung. Tes ini dapat mendeteksi apakah perikardium membengkak dan jika ventrikel kolaps karena volume darah yang rendah.

Foto rontgen dada mungkin menunjukkan jantung yang membesar dan berbentuk seperti bola jika memiliki tamponade jantung. Tes diagnostik lain mungkin dokter lakukan, termasuk:

  • Computed tomography (CT) scan. Tes untuk mendeteksi penumpukan cairan pada dada atau perubahan pada jantung.
  • Rontgen dada. Ini dapat menunjukkan apakah jantung berukuran besar yang tidak normal atau bentuknya tidak biasa akibat penumpukan cairan.
  • Magnetic resonance angiogram (MRA). Prosedur yang memakai kekuatan medan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk melihat bagaimana darah mengalir melalui jantung.
  • Elektrokardiogram (EKG). Ini merupakan pemeriksaan untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik jantung.
  • Ekokardiogram. Pemindaian ini memberikan gambaran secara rinci tentang jantung, yang dapat membantu dokter mendeteksi cairan pada perikardium atau ventrikel yang kolaps.

Baca Juga: 12 Jenis Penyakit Jantung dan Gejalanya yang Perlu Diwaspadai

Pengobatan Tamponade Jantung

Tamponade adalah penyakit yang dapat menyebabkan syok atau kematian, ini membutuhkan perawatan darurat medis. Perawatannya untuk mengurangi cairan berlebih dari sekitar jantung.

Dokter mungkin menggunakan beberapa metode untuk mengeluarkan cairan dan mengurangi tekanan pada jantung, meliputi:

  • Perikardiosintesis adalah prosedur medis untuk menguras atau menyedot cairan berlebih dari perikardium menggunakan jarum khusus.
  • Perikardiektomi merupakan operasi pengangkatan sebagian atau sebagian besar perikardium untuk mengurangi tekanan pada jantung. 
  • Torakotomi, prosedur operasi dengan membuat sayatan yang memungkinkan dokter menguras darah atau pembekuan darah dari sekitar jantung.

Menurut penelitian, dokter harus memilih prosedur minimal invasif (seperti perikardiosintesis), ini sebagai pilihan pengobatan pertama. Pilihan ini berisiko komplikasi yang tidak terlalu signifikan dan memiliki angka kematian yang lebih rendah. Namun, kasus tamponade jantung yang lebih rumit biasanya memerlukan operasi, termasuk torakotomi.

Setelah operasi, pasien dapat menerima perawatan berikut:

  • Cairan yang disuntikkan secara intravena (IV) untuk menjaga tekanan darah normal.
  • Obat untuk meningkatkan tekanan darah.
  • Pemberian oksigen untuk mengurangi stres pada jantung.

Setelah pasien tersebut stabil, dokter perlu menentukan dan mengobati penyebab utama dari penyakit ini untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Komplikasi

Penyakit ini mungkin dapat menyebabkan terjadinya komplikasi, termasuk:

  • Edema paru.
  • Perdarahan.
  • Syok.
  • Gagal jantung.
  • Kematian.

Baca Juga: Penyakit Jantung Koroner: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, dll

Pencegahan

Tidak ada cara yang mungkin dapat mencegah tamponade jantung. Namun, Anda dapat mengurangi risikonya dengan melakukan beberapa langkah berikut:

  • Menjaga kesehatan jantung dengan menjalani pola makan seimbang dan olahraga teratur.
  • Mendapatkan perawatan untuk kondisi medis, seperti lupus dan hipotiroidisme.
  • Mengurangi paparan infeksi bakteri atau virus.
  • Memeriksakan kesehatan secara rutin.
  • Berhenti merokok.

_

Selain serangan jantung atau gagal jantung, itulah penjelasan mengenai pengertian tamponade jantung hingga langkah-langkah pencegahan yang perlu Anda ketahui. 

 

  1. Anonim. 2017. Cardiac Tamponade. https://www.winchesterhospital.org/health-library/article?id=200792 (Diakses pada 15 Maret 2021)
  2. Barwell, Janet. 2019. Cardiac Tamponade. https://www.healthline.com/health/cardiac-tamponade (Diakses pada 15 Maret 2021)
  3. Fogoros, Richard N. 2020. Cardiac Tamponade Causes, Symptoms, and Treatments. https://www.verywellhealth.com/cardiac-tamponade-1746087 (Diakses pada 15 Maret 2021)
  4. Leonard, Jayne. 2018. What to know about cardiac tamponade. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323429 (Diakses pada 15 Maret 2021)
  5. Mancini, Mary C. Cardiac tamponade. https://medlineplus.gov/ency/article/000194.htm (Diakses pada 15 Maret 2021)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi