Terbit: 1 April 2021 | Diperbarui: 5 April 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Rematik pada ibu hamil adalah sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan, karena gangguan pada persendian ini pada umumnya tidak terlalu membahayakan janin. Lantas, bagaimana mengelola gejala rematik saat hamil? Simak penjelasan lengkap berikut ini.

Rematik saat Hamil: Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Pengaruh Rematik pada Ibu Hamil

Rematik atau rheumatoid arthritis (RA) adalah peradangan yang terjadi pada persendian. Keadaan ini terjadi akibat sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan sendi. Perlu Anda ketahui, rheumatoid arthritis pada ibu hamil tidak akan membahayakan janin yang sedang berkembang.

Faktanya, 70 hingga 80% wanita dengan RA justru mengalami perbaikan gejala selama kehamilan. Meskipun beberapa wanita dengan RA mungkin memiliki sedikit risiko keguguran atau bayi dengan berat lahir rendah, sebagian besar memiliki kehamilan normal tanpa komplikasi.

Meski terdapat beberapa obat rematik yang bisa Anda gunakan untuk meredakan gejala, beberapa obat dapat menyebabkan cacat lahir. Oleh karena itu, Anda harus berbicara dengan dokter tentang apakah Anda perlu mengubah pengobatan sebelum Anda mencoba untuk hamil.

Perubahan Rematik saat Hamil

Selama kehamilan perubahan pada sistem kekebalan tubuh adalah sesuatu yang normal. Perubahan ini memungkinkan janin untuk tumbuh dan berkembang. Beberapa dari perubahan ini berkontribusi pada perbaikan gejala RA.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Kids Baby - Advertisement

Penurunan aktivitas penyakit umumnya dimulai pada trimester pertama dan berlangsung hingga persalinan. Sayangnya, beberapa pakar tidak bisa memprediksi pasien mana yang membaik selama kehamilan dan pasien mana yang akan kambuh.

Terkadang, sulit untuk membedakan antara ketidaknyamanan yang umum terjadi pada kehamilan dan gejala RA. Ketidaknyamanan kehamilan yang mirip dengan RA meliputi:

  • Kelelahan.
  • Pembengkakan pada tangan, kaki, atau pergelangan kaki.
  • Nyeri sendi, terutama di punggung bawah.
  • Sesak napas.
  • Mati rasa atau nyeri di satu atau kedua tangan (disebabkan oleh carpal tunnel syndrome).

Sebuah penelitian menunjukkan tidak ada peningkatan kelahiran mati atau keguguran pada wanita yang menderita RA. Namun, beberapa obat seperti steroid dosis tinggi, ternyata dapat meningkatkan risiko melahirkan bayi yang lebih kecil dan meningkatkan risiko ketuban pecah dini. Rematik saat hamil yang sangat aktif juga berisiko melahirkan bayi yang lebih kecil dan kelahiran prematur.

Baca Juga: Rheumatoid Arthritis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Perawatan Rematik Sebelum Kehamilan

Pada beberapa kasus, beberapa wanita dilaporkan mengalami rasa sakit dan bengkak yang terkait dengan RA justru membaik selama kehamilan, sementara ada juga beberapa yang mengalami gejala lebih buruk (mungkin terkait dengan penghentian beberapa obat anti rematik).

Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa ada rencana tindakan yang jelas jika gejala Anda semakin parah. Selama tahap akhir kehamilan, pembengkakan, sakit punggung, dan kelelahan sering terjadi terlepas dari apakah Anda menderita RA atau tidak.

Penting untuk diketahui, agar gejala kehamilan normal ini tidak disalahartikan sebagai gejala RA, maka kekhawatiran yang Anda rasakan harus didiskusikan dengan dokter.

Rekomendasi umum yang berlaku untuk semua wanita yang sedang mempertimbangkan kehamilan adalah:

  • Jika seorang wanita menggunakan obat resep atau non resep untuk RA, obat ini harus ditinjau oleh dokter. Beberapa obat aman selama kehamilan sementara yang lain tidak.
  • Wanita yang menggunakan methotrexate harus menghentikannya setidaknya satu bulan sebelum mencoba untuk hamil, meski begitu produsen menyarankan penghentian obat ini tiga siklus menstruasi penuh sebelum mencoba hamil. Masa tunggu ini diperlukan agar efek obat pada tubuh berlalu sehingga aman untuk hamil.
  • Wanita yang menggunakan leflunomide harus menghentikan obat ini setidaknya selama dua tahun sebelum mencoba untuk hamil. Seorang wanita yang memiliki rencana untuk hamil harus mendiskusikan penggunaan obat ini dengan dokter.

Wanita dengan RA sering mengalami perbaikan dalam gejala rasa sakit dan kelelahan selama kehamilan, tetapi juga mungkin mengalami perburukan masalah ini setelah melahirkan. Oleh karena itu, seorang ibu harus bersiap menghadapi perubahan yang mungkin terjadi seperti gangguan tidur, kelelahan, stres, dan kecemasan.

Dikarenakan beberapa obat memiliki efek berbahaya bagi kehamilan, sehingga penting bagi Anda untuk menghindari kehamilan sampai tubuh Anda siap untuk hamil. Berbagai cara yang bisa digunakan untuk mencegah kehamilan adalah:

  • Kondom.
  • Kontrasepsi oral.
  • Cincin vagina.
  • Intrauterine device (IUD) atau spiral.

Baca Juga: 12 Pantangan Rematik yang Harus Dihindari, Jangan Dilanggar!

Pengobatan Rematik pada Ibu Hamil

Dokter reumatologi akan membantu Anda memutuskan rencana perawatan yang mencakup pengendalian gejala RA dan keamanan janin. Beberapa obat rematik untuk ibu hamil yang dianggap aman adalah prednisone dosis rendah, hydroxychloroquine, dan sulfasalazine.

Sementara itu, obat-obatan lain yang memiliki bukti terbatas adalah etanercept, etanercept-szzs, infliximab, infliximab-abda, atau infliximab-dyyb biosimilars. Konsultasi dengan dokter diperlukan untuk menentukan jenis obat apa yang tepat untuk ibu dan janin.

Penting untuk diperhatikan, tidak semua obat yang digunakan untuk mengobati RA dapat dikonsumsi selama kehamilan. Manfaat obat apa pun harus diimbangi dengan potensi risikonya.

Penelitian tentang keamanan obat RA selama kehamilan dan pengaruhnya terhadap janin tidak selalu meyakinkan. Untuk setiap pasien, keputusan tentang obat mana yang akan digunakan akan bergantung pada respons terhadap pengobatan, aktivitas penyakit, status kesehatan secara keseluruhan, dan faktor individu lainnya.

Sebagai contoh, methotrexate dan leflunomide harus dihindari sepenuhnya selama kehamilan, karena risiko bahaya janin yang signifikan. Jika seorang wanita meminum salah satu dari obat-obatan ini selama kehamilan, konsultasi dengan dokter reumatologi atau dokter kandungan diperlukan.

Bagi beberapa pasien, manfaat obat dalam mengendalikan penyakit dan dalam mempertahankan fungsinya mungkin lebih besar daripada kemungkinan risikonya bagi ibu atau janin. Oleh karena itu, penggunaan obat rematik untuk ibu hamil harus didiskusikan oleh pasien dan dokter, agar potensi bahaya dapat dihindari dan manfaat obat dapat ditimbang dengan cermat.

 

  1. Anonim. Family Planning and Rheumatoid Arthritis. https://www.webmd.com/rheumatoid-arthritis/family-planning-and-rheumatoid-arthritis. (Diakses pada 1 April 2021).
  2. Bermas, Bonnie L. Patient education: Rheumatoid arthritis and pregnancy (Beyond the Basics). https://www.uptodate.com/contents/rheumatoid-arthritis-and-pregnancy-beyond-the-basics. (Diakses pada 1 April 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi