Terbit: 16 Oktober 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Flu burung sempat menghebohkan masyarakat Indonesia dan beberapa negara lainnya di Indonesia beberapa tahun lalu. Hanya saja, belakangan kasus virus flu burung ini kembali muncul di Tegal, Jawa Tengah.

Kasus Flu Burung Ditemukan di Tegal, Jawa Tengah. Waspada!

Virus Flu Burung Merebak di Tegal, Jawa Tengah

Dinas Kelautan dan Perikanan, Pertanian, dan Pangan (DKPPP) Kota Tegal menyebut telah ada lebih dari 150 unggas yang ditemukan dalam kondisi mati mendadak. Setelah melakukan pemeriksaan pada mayat para unggas ini, ditemukan bahwa penyebabnya adalah virus flu burung.

Beberapa jenis unggas yang ditemukan dalam kondisi sakit atau mati mendadak adalah ayam kalkun, ayam kampung, ayam negeri, dan ayam petelur. Kematian para unggas ini berlangsung hanya dalam waktu tiga hari setelah berada dalam kondisi sakit.

DKPPP Kota Tegal pun langsung melakukan pemusnahan 19 ekor ayam di Kelurahan Keturen, Tegal Selatan demi mencegah penyebaran virus flu burung.

Mengenal Lebih dalam Flu Burung

Flu burung memiliki nama lain avian influenza. Tak hanya menyerang unggas, virus flu burung juga bisa menyerang manusia. Jika sampai kita mengalaminya, dampaknya bisa ringan atau yang cukup parah dan bisa membahayakan nyawa.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

Biasanya, orang-orang yang tertular penyakit flu burung pernah melakukan kontak pada burung yang sudah terinfeksi atau mengonsumsi daging unggas yang tidak diolah dengan baik.

Berdasarkan berbagai jenis virus flu burung yang bisa ditemukan, pakar kesehatan menyebu virus H5N1 sebagai yang paling sering muncul. Tercatat, hingga tahun 2019 telah ada 1.300 kasus infeksi flu burung pada manusia yang membuat 455 orang meregang nyawa. Khusus di Indonesia, 200 kasus flu burung menyebabkan 168 kematian dari tahun 2005 hingga 2018.

Gejala Flu Burung pada Manusia

Jika sampai infeksi flu burung menyerang manusia, maka dampaknya bisa sampai memicu infeksi pernapasan yang ringan layaknya demam atau batuk, serta infeksi pernapasan yang berat layaknya pneumonia.

Banyak kasus infeksi virus H5N1 menyebabkan masalah pencernaan seperti diare, mual-mual, dan muntah. Pengidapnya juga bisa mengalami radang tenggorokan, sulit bernapas, nyeri dada, nyeri otot, dan sakit kepala yang parah.

Faktor yang Membuat Lebih Berisiko Terkena Flu Burung

Pakar kesehatan menyebut ada beberapa hal yang bisa membuat kita memiliki risiko lebih besar terkena flu burung. Berikut adalah beberapa faktor berisiko terkena flu burung:

  1. Tinggal di Area dengan Unggas dalam Jumlah yang Banyak

Jika kita tinggal di rumah atau lingkungan yang memiliki unggas seperti burung peliharaan, ayam, dan unggas lainnya, maka risiko tertular virus flu burung akan meningkat. Bahkan, jika di sekitar rumah kita ada peternakan unggas atau kebun binatang, risikonya juga akan meningkat.

Hal ini disebabkan oleh adanya kemungkinan kita melakukan kontak baik itu langsung ataupun tidak langsung pada beberapa hal dari unggas tersebut layaknya bulu, kotoran, hingga air liurnya. Berbagai hal ini bisa saja membawa virus flu burung.

  1. Mengunjungi Wilayah dengan Kasus Flu Burung

Jika kita berkunjung ke negara atau wilayah dengan kasus flu burung yang sedang mewabah, maka risiko untuk tertular penyakit ini akan meningkat. Apalagi jika di area tersebut juga masih banyak burung.

  1. Mengolah Makanan dari Unggas dengan Cara yang Kurang Tepat

Jika daging ayam, daging bebek, daging burung dara, atau bahkan telur tidak kita olah hingga benar-benar matang, bisa jadi ada virus di dalamnya yang masuk ke dalam tubuh dan membuat kita tertular.

Mengingat flu burung bisa menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius layaknya pneumonia, gangguan ginjal, masalah jantung, dan kematian dini. Sebaiknya memang kita mewaspadainya.

 

Sumber:

  1. Setiadi, Tresno. 2019. Virus Flu Burung Merebak di Tegal, 150 Unggas Mati Mendadak. regional.kompas.com/read/2019/10/16/08593881/virus-flu-burung-merebak-di-tegal-150-unggas-mati-mendadak. (Diakses pada 16 Oktober 2019).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi