Terbit: 5 November 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Sudah menjadi rahasia umum jika merokok bisa memberikan banyak dampak buruk bagi kesehatan. Bahkan, penelitian terbaru membuktikan bahwa orang yang merokok cenderung memiliki wajah yang lebih jelek dibandingkan orang yang tidak merokok. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Penelitian Membuktikan Bahwa Wajah Perokok Lebih Jelek

Wajah Perokok Lebih Jelek

Dalam dunia medis, terdapat istilah yang menunjukkan wajah para perokok, yakni Smoker’s Face. Istilah ini sudah ada sejak 1980-an dan dibuat demi mengubah pandangan pada kebiasaan merokok yang dulu sering dianggap sebagai hal yang keren, macho, dan bisa membuat rasa percaya diri semakin meningkat.

Dalam penelitian yang dipublikasikan hasilnya dalam jurnal PLOS Genetics, disebutkan bahwa wajah para perokok cenderung lebih tua dari usianya. Hal ini disebabkan oleh adanya dua varian genetik pada tubuh mereka yang tidak ditemukan di orang-orang yang tidak merokok.

Selain itu, kebiasaan merokok terbukti bisa membuat gigi kita menjadi lebih kuning. Bahkan, dalam beberapa kasus, gigi bisa saja keropos atau menghitam akibat hal ini. Sebagian perokok aktif yang melakukannya sejak usia muda bahkan mengalami gigi tanggal. Hal ini tentu bisa membuat wajah terlihat lebih tua.

Kandungan di dalam rokok terbukti bisa merusak peredaran darah, termasuk pada kulit. Hal ini bisa meningkatkan risiko terkena kulit kering dan kulit pucat. Kulit juga akan kehilangan keelastisitasannya sehingga membuat keriput lebih mudah muncul, khususnya di bagian mulut atau sekitar mata.

Pakar kesehatan menyebut dampak ini seringkali muncul saat para perokok memasuki usia awal 30-an. Apalagi jika mereka sudah merokok sejak usia yang sangat muda. Hal ini tentu akan menyebabkan penuaan dini dan gangguan kesehatan lainnya.

Berbagai Dampak Kesehatan yang Bisa Disebabkan oleh Merokok

Pakar kesehatan menyebut ada beberapa dampak kesehatan yang bisa didapatkan jika kita masih terbiasa merokok. Apalagi jika kita melakukannya sejak usia muda.

Berikut adalah dampak-dampak tersebut.

  1. Bisa Menyebabkan Kanker

Di dalam sebatang rokok bisa ditemukan setidaknya 60 bahan kimia berbahaya bersifat karsinogen atau yang bisa menyebabkan kanker. Hal ini berarti, terbiasa merokok akan meningkatkan risik terkena beberapa jenis kanker yang berbahaya layaknya kanker usus, kanker paru, kanker mulut, dan lain-lain.

  1. Memicu Penyakit Paru Obstruktif Kronik

Penyakit paru obstruktif kronik adalah gangguan pernapasan yang cukup berbahaya. Masalahnya adalah, 92 persen penderita penyakit ini adalah orang-orang yang aktif atau setidaknya pernah merokok. Beberapa jenis penyakit yang terkait dengan masalah kesehatan ini adalah asma, TBC, dan bronchitis.

  1. Bisa Menyebabkan Penyakit Jantung

Cukup banyak kasus penyakit jantung koroner atau serangan jantung yang disebabkan oleh kebiasaan merokok. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan beracun yang bisa ditemukan di dalam asap rokok.

Kandungan ini bisa menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan otot-otot jantung. Selain itu, nikotin juga bisa menyebabkan plak menumpuk di dalam pembuluh darah yang bisa memicu datangnya penyakit kardiovaskular.

  1. Bisa Memicu Hipertensi

Salah satu penyebab utama mengapa kasus hipertensi atau tekanan darah tinggi di Indonesia cukup tinggi adalah kebiasaan merokok yang dilakukan oleh sebagian masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kemampuan nikotin dalam memicu penyempitan pembuluh darah atau penumpukan plak di dalamnya. Masalahnya adalah hipertensi bisa berlanjut menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.

  1. Bisa Meningkatkan Risiko Diabetes

Ternyata, para perokok lebih rentan terkena diabetes. Hal ini disebabkan oleh kandungan beracun di dalamnya yang bisa memicu gangguan fungsi insulin dengan signifikan.

 

Sumber:

  1. Sparks, Hannah. 2019. Study confirms that cigarettes will give you ugly ‘smoker’s face’. nypost.com/2019/11/01/study-confirms-that-cigarettes-will-give-you-ugly-smokers-face/. (Diakses pada 5 November 2019).

DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi