Viral Kasus Cucu Tendang Kakek, Tanda Gangguan Mental?

tendang-kakek-doktersehat
Photo Source: solopos.com

DokterSehat.Com– Belakangan ini di media sosial viral kasus seorang cucu menendang kakeknya sendiri di Kendal, Jawa Tengah. Banyak yang menganggap sang cucu sebagai seorang yang durhaka, namun ada juga yang menyebut sang cucu sepertinya mengalami gangguan jiwa.

Viral Kasus Cucu Menendang Kakek

Kasat Reskrim Polres Kabupaten Kendal, AKP Nanung Nugroho menyebut kejadian ini berlangsung pada Senin, 17 November 2019 di Desa Kedungboto, Limbangan, Kendal. Sang pemuda yang menjadi pelaku adalah Yusminardi yang berusia 22 tahun. Dia adalah cucu dari Wasidi, kakek berusia 65 tahun. Kasus penendangan ini terjadi di rumah Warsidi.

“Setelah kami selidiki, diketahui bahwa sang kakek ditendang dan dipukul dengan tangan kosong di rumahnya sendiri,” ucap Nanung.

Kasus penganiayaan ini terjadi karena sang cucu kesal akibat bak mandi di rumah yang berbau amis. Sebelumnya, sang korban memindahkan ikan wader dari kolam ikan yang rusak ke dalam bak mandi ini. Korban juga memberi pakan ikan di bak mandi tersebut. Karena merasa jijik dengan kondisi air bak mandi, sang cucu marah kepada kakeknya.

Istri Wasidi atau nenek dari Yusminardi sudah berusaha untuk melerai, namun amarah Yusminardi sudah tak terbendung. Saat itulah sepupu dari pelaku mengabadikan penganiayaan ini dengan ponsel dan videonya kemudian viral di media sosial.

Yusminardi kemudian diperiksa oleh aparat kepolisian. Sang kakek kemudian melakukan visum. Hanya saja, karena kasus ini berlangsung di dalam internal keluarga, jika sang kakek memaafkan bisa jadi kasus hukumnya tidak dilanjutkan.

“Saya menyesal. Sudah bertahun-tahun ikut (di rumah) kakek, kok saya main tangan. Saya memang sedang banyak masalah jadi mudah marah,” ucap Yusminardi.

Mudah Marah Tanda Gangguan Jiwa?

Mudah marah dan emosi yang meledak-ledak seringkali dikaitkan dengan karakter seseorang. Hanya saja, pakar kesehatan menyebut hal ini bisa jadi memang terkait dengan gangguan jiwa, khususnya depresi. Masalahnya adalah banyak orang yang mengabaikan gejala ini.

Memang, kemarahan bisa terjadi karena hal-hal yang terlihat sepele seperti terjebak kemacetan, tak sengaja menumpahkan kopi, atau hal-hal lainnya, namun jika kita sering mengalami ledakan emosi untuk hal-hal yang sebenarnya kecil, bisa jadi hal ini adalah tanda depresi. Fakta ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan hasilnya pada 2014 silam.

Dalam penelitian ini, disebutkan bahwa orang yang berada dalam tekanan yang terlalu besar dan kemudian marah, bisa jadi menandakan adanya masalah pada kondisi metalnya. Mereka yang tidak mampu mengendalikan amarah ini bisa jadi menandakan depresi atau kemarahan terhadap diri sendiri.

“Mudah marah memang tidak terlihat seperti depresi, namun bisa jadi hal ini memang terkait,” ucap psikolog Marianna Strongin.

Hanya saja, dia juga menekankan kemarahan akibat depresi cenderung berbeda dengan marah yang biasa. Kemarahan karena depresi cenderung mudah meledak dan sangat sulit untuk dikendalikan.

“Orang yang mengalaminya bisa saja menyadari bahwa dia kesulitan untuk mengendalikan amarahnya. Saat datang ke psikolog, baru ketahuan kemarahan ini ternyata adalah gejala dari depresi,” lanjut Strongin.

Depresi, Kemarahan, dan Kesedihan Memiliki Kaitan

“Sedih adalah tahapan depresi dan marah bisa dianggap sebagai aksi untuk melampiaskan dari gejala depresi,” jelas Strongin.

Selain kemarahan, orang yang depresi juga cenderung ingin menarik dari pergaulan sosial, termasuk dari keluarga atau orang-orang terdekatnya. Marah dianggap sebagai salah satu cara efektif untuk menjauhkan diri dari orang lain tersebut.

 

Sumber:

  1. Blackwood, Emily. 2019. The Depression Symptom We Rarely Talk About. huffpost.com/entry/depression-anger-symptom_l_5c5858d0e4b087104755e3d1. (Diakses pada 22 November 2019).