Menjadi Vegetarian Bisa Tingkatkan Risiko Stroke

vegetarian-doktersehat
Photo Source: Flickr/Jens Ohlig

DokterSehat.Com– Banyak orang yang berpikir jika menerapkan gaya hidup vegetarian akan memberikan manfaat bagi kesehatan. Hal ini memang benar. Dalam penelitian terbaru, disebutkan bahwa menerapkan pola makan ini akan menurunkan risiko terkena penyakit jantung dengan signifikan, namun penelitian ini juga mengungkap fakta lain, yakni bisa membuat risiko stroke meningkat. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Dampak Menjadi Vegetarian dan Risiko Stroke

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh BMJ Trusted Source, Inggris, diketahui bahwa para partisipan dicek kebiasaan makannya dalam kurun waktu 18 tahun. Para partisipan ini adalah yang menerapkan pola makan vegetarian, pemakan daging, serta pengonsumsi daging ikan.

“Pola makan vegetarian dan vegan cenderung semakin populer karena dianggap jauh lebih baik bagi kesehatan. Selain itu, gaya hidup ini dianggap lebih ramah lingkungan dan dianggap tidak menyakiti hewan,” ungkap peneliti Tammy Tong.

Hasil dari penelitian ini adalah, orang yang hobi mengonsumsi daging ikan atau menerapkan gaya hidup vegetarian cenderung memiliki risiko terkena penyakit jantung lebih rendah, tepatnya 13 persen dan 22 persen dibandingkan dengan orang yang hobi makan daging. Meski terlihat sebagai sesuatu yang baik, dalam realitanya ada fakta lain yang cukup mengejutkan para peneliti.

Orang-orang yang menjadi vegetarian ternyata 20 persen lebih rentan terkena stroke hemoragik dibandingkan dengan pengonsumsi daging-dagingan. Sebagai informasi, stroke hemoragik adalah stroke yang dipicu oleh pecahnya pembuluh darah menuju otak yang dipicu oleh kerusakan pembuluh darah atau penyumbatan darah. Selain itu, penyebab dari hal ini juga bisa dipicu oleh hipertensi tak terkontrol atau aneurisma otak.

Tong menyebut peningkatan risiko stroke ini terkait dengan gaya hidup vegetarian yang membuat kadar kolesterol total di dalam darah sangat rendah. Beberapa nutrisi lain yang dibutuhkan tubuh juga tidak tercukupi dengan baik layaknya vitamin B12, asam folat, serta vitamin B6. Padahal, nutrisi-nutrisi ini dibutuhkan tubuh untuk mencegah stroke.

“Kekurangan vitamin D karena gaya hidup vegetarian juga bisa mempengaruhi risiko stroke. Karena alasan inilah pola makan ini harus dilakukan dengan arahan dokter atau ahli gizi sehingga bisa mendapatkan suplemen yang dibutuhkan, bukannya dilakukan dengan sembarangan,” ucap Tong.

Berbagai Dampak Lain dari Menjadi Vegetarian

Selain bisa meningkatkan risiko stroke, pakar kesehatan menyebut ada dampak lain yang bisa didapatkan jika kita menerapkan gaya hidup vegetarian.

Berikut adalah dampak-dampak kesehatan tersebut.

  1. Kekurangan Vitamin B12

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, hal pertama yang akan didapatkan jika menjadi vegetarian adalah tidak mendapatkan asupan vitamin B12 dengan cukup. Masalahnya adalah vitamin ini sangat penting dalam proses metabolisme tubuh.

Vitamin ini bisa dikonsumsi dengan suplemen yang bisa didapatkan dengan mudah di pasaran.

  1. Mengalami Masalah Kepadatan Tulang

Tidak mengonsumsi produk hewani bisa menurunkan asupan kalsium atau vitamin D yang berperan besar bagi kekuatan dan kesehatan tulang. Risiko untuk mengalami osteoporosis atau patah tulang tentu akan meningkat.

  1. Kekurangan Asam Lemak Omega 3

Asam lemak omega 3 sangatlah penting bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Jika tidak memenuhinya, dikhawatirkan risiko terkena penyakit kardiovaskular akan meningkat.

  1. Kekurangan Zat Besi

Menjadi vegetarian bisa membuat kita tidak mendapatkan asupan zat besi dengan cukup dan akhirnya rentan terkena anemia.

  1. Kekurangan Protein

Banyak penganut gaya hidup vegetarian yang mengalami masalah protein, namun sebenarnya hal ini bisa diatasi dengan mengonsumsi sumber protein nabati seperti produk kedelai.

 

Sumber:

  1. Avramova, Nina. 2019. Vegetarians Might Have Higher Risk of Stroke than Meat Eaters, Studi Says. cnn.com/2019/09/04/health/vegetarian-vegan-diet-stroke-heart-disease-risk-intl. (Diakses pada 5 September 2019)