Menjadi Vegetarian Bisa Cegah Diabetes?

elebihan-dan-kekurangan-diet-vegetarian-doktersehat

DokterSehat.Com– Selain karena dipengaruhi faktor keturunan, diabetes juga bisa disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, khususnya dalam hal menerapkan pola makan yang buruk. Banyak orang yang kemudian berpikir jika menerapkan pola makan yang lebih sehat seperti menjadi vegetarian bisa mencegah datangnya penyakit ini.

Dampak menjadi vegetarian dalam hal risiko diabetes

Pakar kesehatan menyebut pola makan vegetarian bisa membuat kesehatan fisik dan psikis penderita diabetes tipe 2 menjadi semakin membaik. Mereka juga akan lebih baik dalam mengendalikan kadar gula darah, lipid, dan kolesterol. Hal ini berarti, penderita diabetes yang menerapkan gaya hidup ini cenderung mampu mencegah datangnya komplikasi dengan lebih baik.

Berdasarkan sebuah penelitian yang dipublikasikan hasilnya dalam jurnal PLoS Medicine pada Juni 2016 silam, dihasilkan fakta bahwa orang sehat yang cenderung menerapkan pola makan dari bahan-bahan nabati memiliki risiko terkena diabetes tipe 2 lebih rendah. Pola makan ini berupa makanan dengan indeks glikemik rendah seperti sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, dan beberapa jenis buah-buahan.

Selain itu, mereka yang menerapkan pola makan vegetarian ternyata cenderung memiliki berat badan yang ideal. Padahal, diabetes terkait dengan masalah berat badan. Meskipun banyak kasus orang kurus dengan masalah kesehatan ini, dalam realitanya 80 persen penderita diabetes tipe 2 mengalami masalah kelebihan berat badan. Hal ini disebabkan oleh kondisi ini bisa mempengaruhi sensitivitas insulin tubuh.

Hanya saja, bukan berarti orang-orang vegetarian pasti terbebas dari risiko diabetes. Jika mereka suka mengonsumsi camilan atau minuman dengan kandungan gula yang tinggi seperti biskuit, kue, atau minuman-minuman rasa buah, bisa jadi hal ini akan membuat kadar gula di dalam tubuhhnya berada dalam kondisi yang tinggi dan akhirnya menyebabkan kenaikan risiko diabetes.

Beberapa efek samping menjadi penganut gaya hidup vegetarian

Meskipun secara umum baik bagi kondisi tubuh, pakar kesehatan menyebut ada beberapa dampak negatif yang bisa didapatkan jika kita menerapkan gaya hidup vegetarian.

Berikut adalah dampak negatif tersebut.

  1. Kekurangan vitamin B12

Jika kita benar-benar menerapkan gaya hidup vegetarian dengan ketat dan sama sekali tidak mengonsumsi produk hewani seperti telur dan susu, maka ada kemungkinan kita akan kekurangan vitamin B12. Hal ini biasanya ditandai dengan munculnya gejala seperti anemia, tubuh yang lemas, sering mengalami kesemutan, dan gangguan keseimbangan.

Hal ini disebabkan oleh peran besar dari vitamin B12 yang bisa mempengaruhi proses metabolisme, sistem saraf pusat, dan produksi sel darah merah.

  1. Kekurangan zat besi

Zat besi bisa ditemukan dari bahan daging-dagingan. Jika kita sama sekali tidak mengonsumsi daging-dagingan, baik itu daging merah, daging unggas, serta daging ikan, maka kita akan kekurangan asupan zat besi dan akhirnya rentan mengalami anemia yang bisa menyebabkan gejala tubuh lemah, lemas, sulit berpikir, dan mudah terkena infeksi.

Wanita hamil yang kekurangan asupan zat besi juga cenderung lebih rentan mengalami kelahiran prematur atau melahirkan bayi dengan berat badan yang terlalu rendah.

Jika kita menerapkan gaya hidup vegetarian, pastikan untuk mengonsumsi makanan dari bahan nabati yang kaya akan kandungan zat besi dua kali lebih banyak karena biasanya lebih sulit dicerna oleh tubuh. Sebagai contoh, kita bisa mengonsumsi buah jeruk dalam jumlah yang banyak setiap hari.

  1. Kekurangan seng

Kekurangan seng bisa menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh dan lambatnya proses penyembuhan luka. Penganut gaya hidup vegetarian bisa mengonsumsi kacang-kacangan demi memenuhi kebutuhan seng tersebut.

  1. Kekurangan kalsium

Jika penganut gaya hidup vegetarian juga tidak mau minum susu dan produk turunannya, maka mereka pun akan lebih rentan terkena kekurangan kalsium. Hal ini bisa berimbas pada menurunnya kekuatan dan kesehatan tulang. Mereka harus memperbanyak konsumsi brokoli, kubis, dan sereal atau roti yang sudah diberi tambahan kalsium demi mengantisipasinya.