Terbit: 5 Oktober 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Vape atau rokok elektrik masih dianggap sebagai rokok yang jauh lebih aman jika dibandingkan dengan rokok konvensional. Bahkan, banyak perokok aktif yang kini mulai beralih ke vape karena percaya akan anggapan ini. Masalahnya adalah pakar kesehatan justru menyebut vape memiliki bahayanya sendiri. Tak main-main, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bahkan menyebut vape bisa memicu kematian dini!

Vape Rusak Sistem Imun dan Memicu Kanker

Dampak Vape bagi Risiko Kanker

Pakar kesehatan menyebut kandungan di dalam vape bisa menyebabkan kerusakan organ-organ dalam tubuh. Hal ini juga bisa membuat sistem imun tubuh rusak. Padahal, jika sampai hal ini terjadi, tubuh akan lebih rentan terkena penyakit berbahaya, termasuk kanker.

Tanpa disadari, vape memiliki banyak sekali kandungan beracun yang bisa menyebabkan peradangan di dalam tubuh. Hal inilah yang bisa memicu kematian. Beberapa bahan beracun tersebut adalah nikotin, gliserol, blikol, alkanal, hingga beberapa jenis logam. Bahan-bahan ini mampu merusak sel-sel serta organ dalam.

Beberapa jenis organ yang akan mendapatkan dampak buruk langsung dari kandungan beracun di dalam vape adalah ginjal, liver, lambung, serta kulit. Masalahnya adalah racun ini bisa menyebabkan kerusakan sel atau memicu pertumbuhan sel-sel tidak normal yang kemudian berujung pada datangnya kanker.

“Vape sangat berbahaya bagi kesehatan. Kami dengan tegas melarang penggunaan vape karena dampaknya jauh lebih besar dari yang kita sangka,” ucap dr. Eka Ginanjar, Sekjen Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

Aturan Vape di Indonesia

Agus Dwi Susanto, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menyebut kasus penyakit paru yang dipicu oleh penggunaan vape di Indonesia masih belum tercatat. Hal ini disebabkan oleh buruknya sistem pendataan terkait dengan hal ini. Kondisi ini sangatlah berbeda dengan di Amerika Serikat. Di negara tersebut, tercatat vape telah memakan banyak korban dan membuat pakar kesehatan di negara tersebut mewaspadainya.

Sebagai informasi, data yang dikeluarkan hingga 4 Oktober 2019 menghasilkan fakta bahwa di Amerika Serikat, 19 orang telah meregang nyawa akibat penyakit paru terkait vape. Bahkan, tercatat telah ada lebih dari 1.000 kasus penyakit paru akibat konsumsi rokok elektrik di negara tersebut.

IDI sendiri telah mengeluarkan pernyataan yang isinya dengan tegas melarang penggunaan vape. Hal ini disebabkan oleh dampaknya yang sama saja dengan rokok biasa. Selain itu, IDI juga menyebut vape terkait langsung dengan penyakit paru, penyakit jantung, kanker, masalah otak, dan gangguan sistem imun. IDI juga sudah memberikan rekomendasi bagi pemerintah untuk segera melarang peredaran rokokk elektrik.

“Kami minta pemerintah segera mengeluarkan peraturan pelarangan vape di Indonesia hingga ada vape yang dinyatakan aman bagi kesehatan,” ungkap IDI.

Vape Bukan Versi Lebih Aman dari Rokok

Ketua Humas Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Rhomedal Aquino mengaku bahwa vape memang tidak benar-benar aman, namun ia bersikukuh jika rokok elektrik jauh lebih aman dibandingkan dengan rokok biasa. Ia mengaku sudah berkali-kali mengirim surat kepada BPOM demi menentukan status keamanan vape namun tidak pernah direspons.

APVI secara terbuka meminta BPOM dan Kemenkes untuk segera melakukan penelitian terkait dengan vape demi memastikan apakah memang produk ini benar-benar berbahaya atau tidak.

BPOM sendiri mengaku tidak memiliki kewenangan untuk menentukan peredaran rokok elektrik, namun berdasarkan penelitian yang mereka lakukan pada 2015 serta 2017, disebutkan bahwa kandungannya memang bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan, jauh lebih buruk dari yang diduga.

 

Sumber:

  1. 2019. Racun dalam Vape Ganggu Kekebalan Tubuh dan Picu Kanker. cnnindonesia.com/gaya-hidup/20191003162526-255-436461/racun-dalam-vape-ganggu-kekebalan-tubuh-dan-picu-kanker. (Diakses pada 5 Oktober 2019).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi