Terbit: 13 September 2021 | Diperbarui: 17 September 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Vaksin Sinopharm adalah salah satu platform vaksin untuk menekan penyebaran COVID-19. Jenis vaksin ini sudah disahkan oleh WHO untuk penggunaan darurat. Di Indonesia sendiri, BPOM sudah menguji keamanan dan kehalalannya sehingga Sinopharm juga termasuk vaksin yang layak digunakan di Indonesia. Simak penjelasan selengkapnya mulai dari manfaat, keamanan obat, dosis, efek samping, dan lainnya di bawah ini!

Vaksin Sinopharm: Manfaat, Dosis, Efikasi, Efek Samping, dll

Apa Itu Vaksin Sinopharm?

Sinopharm adalah vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh Beijing Bio-Institute of Biological Products (BBIBP-CorV). Mereka membuat vaksin virus corona yang tidak aktif (sudah dimatikan). Ini adalah vaksin Corona China pertama yang telah disahkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk penggunaan darurat.

Cara Kerja Vaksin Sinopharm

Sinopharm bekerja dengan cara mengendalikan sistem kekebalan tubuh untuk membuat antibodi terhadap virus Corona SARS-CoV-2. Antibodi akan dibentuk ketika protein kunci  pada protein virus yang sudah dimatikan, dimasukkan ke dalam tubuh orang yang menerima vaksinasi. 

Untuk membuat BBIBP-CorV, para peneliti dari Beijing Institute mendapatkan tiga varian virus Corona dari pasien di rumah sakit China. Kemudian mereka memilih salah satu varian karena mampu berkembang biak dengan cepat dalam sel ginjal kera yang ditanam dalam tangki bioreaktor.

Apakah Sinopharm Aman?

Strategic Advisory Group of Experts on Immunization/SAGE (Kelompok Penasihat Strategis Ahli tentang Imunisasi) WHO telah menilai data kualitas, keamanan, dan kemanjuran (efikasi) vaksin secara menyeluruh dan telah menganjurkan penggunaannya untuk orang berusia 18 tahun ke atas.

Data keamanan masih terbatas untuk orang berusia 60 tahun ke atas atau lansia (karena  sedikitnya jumlah peserta dalam uji klinis) sehingga pemberian vaksin Sinopharm pada pasien >60 tahun masih perlu observasi yang ketat.

Baca Juga: Mengenal 8 Jenis Vaksin COVID-19 dan Efikasinya

Siapa yang Boleh Mendapatkan Vaksin?

Mengingat persediaan vaksin terbatas, awalnya vaksin COVID-19 diberikan kepada petugas kesehatan yang berisiko tinggi terpapar dan orang tua harus diprioritaskan untuk mendapatkan vaksin. Namun, vaksin Sinopharm kini sudah diberikan untuk masyarakat umum.

Vaksin ini tidak dianjurkan untuk orang berusia di bawah 18 tahun. Namun tidak menutup kemungkinan ketika hasil penelitian lebih lanjut untuk kelompok usia tersebut muncul, maka vaksin Sinopharm dapat diberikan.

Apakah Ibu Hamil Bisa Divaksin Sinopharm?

Penelitian sementara tentang vaksin COVID-19 BBIBP untuk wanita hamil masih berjalan  namun belum cukup untuk menilai efikasi vaksin atau risiko terkait vaksin untuk kehamilan. Namun, perlu diingat bahwa vaksin ini mengandung virus yang dimatikan dengan profil keamanan yang baik, termasuk untuk wanita hamil.

Oleh karena itu, efektivitas vaksin COVID-19 BBIBP pada wanita hamil diharapkan bisa dibandingkan dengan yang diamati pada wanita tidak hamil dengan usia yang sama.

Semantara WHO menganjurkan penggunaan vaksin COVID-19 BBIBP pada ibu hamil ketika manfaat vaksin untuk ibu hamil lebih besar daripada potensi risikonya. Guna membantu melakukan penilaian ini, wanita hamil harus mendapatkan informasi tentang risiko COVID-19 dalam kehamilan, kemungkinan manfaat vaksinasi dalam konteks epidemiologi lokal, dan keterbatasan data keamanan saat ini pada wanita hamil.

WHO tidak menganjurkan tes kehamilan sebelum vaksinasi, dan menunda kehamilan atau mempertimbangkan untuk mengakhiri masa kehamilan karena vaksinasi.

Baca Juga: Vaksin COVID-19 untuk Ibu Hamil, Ketahui Efikasi hingga Efek Sampingnya

Siapa yang Tidak Boleh Mendapatkan Sinopharm?

Seseorang dengan riwayat anafilaksis terhadap komponen vaksin apa pun tidak dianjurkan untuk memperoleh vaksin ini. Juga siapa pun dengan suhu tubuh di atas 38,5ºC harus menunda vaksinasi sampai demam sembuh.

Dosis dan Cara Memberikan Vaksin Sinopharm

SAGE menganjurkan penggunaan vaksin COVID-19 BBIBP sebanyak 2 dosis (0,5 ml) yang diberikan secara intramuskular (IM) atau disuntikan ke otot. WHO menganjurkan jarak waktu 3-4 minggu antara dosis pertama dan kedua.

Jika pemberian dosis kedua kurang dari 3 minggu setelah dosis pertama, dosis tidak perlu diulang. Sedangkan jika pemberian dosis kedua tertunda lebih dari 4 minggu, ini harus segera diberikan jika memungkinkan. Semua orang yang divaksinasi disarankan menerima dua dosis.

Efikasi (Kemanjuran) Vaksin Sinopharm Indonesia

Hasil uji klinis telah menunjukkan bahwa 2 dosis yang diberikan dengan interval 21 hari, memiliki kemanjuran 79% terhadap infeksi SARS-CoV-2 yang bergejala 14 hari atau lebih setelah pemberian dosis kedua. Sementara kemanjuran vaksin terhadap rawat inap sekitar 79%.

Penelitian tidak dirancang dan didukung untuk menunjukkan kemanjuran terhadap penyakit parah pada penderita komorbiditas, kehamilan, atau orang berusia 60 tahun ke atas. Waktu rata-rata tindak lanjut yang tersedia pada saat pemantauan bukti adalah 112 hari. Sementara dua uji efektivitas vaksin sinopharm lainnya sedang berlangsung tetapi data belum tersedia.

Apakah Sinopharm Efektif untuk Varian Baru COVID-19?

Sejauh ini SAGE menganjurkan penggunaan vaksin ini, berdasarkan Peta Jalan Prioritas WHO. Ketika data baru tersedia, WHO akan memperbarui rekomendasi yang sesuai. Jenis vaksin ini belum dievaluasi dalam konteks peredaran varian yang mengkhawatirkan.

Baca Juga: 10 Varian Baru Virus Corona (COVID-19) yang Patut Diwaspadai!

Efek Samping Vaksin Sinopharm

Efek samping vaksin seringkali disebut sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).  Namun, data yang dipublikasikan untuk mendukung vaksin ini masih kurang. Data dari uji coba fase 1/2 yang melibatkan sekitar 600 sukarelawan muncul di The Lancet Infectious Diseases pada Oktober 2020. Hasil pengujian melaporkan bahwa vaksin ini aman dan ditoleransi dengan baik oleh peserta uji coba.

Efek samping yang paling sering terjadi dalam percobaan ini, termasuk

  • Demam.
  • Nyeri di tempat bekas suntikan.

WHO memantau data keamanan dari tiga uji klinis, yang mencakup data untuk 16.671 peserta yang mendapatkan vaksin Sinopharm. Sebagian besar data ini adalah pria berusia 18-59 tahun.

Berdasarkan data tersebut, berikut ini efek samping yang paling sering terjadi:

  • Sakit kepala.
  • Kelelahan.
  • Reaksi di tempat suntikan.

Efek samping ini mirip dengan vaksin resmi lainnya terhadap COVID-19 dan sebagian besar ringan hingga sedang. Silakan konsultasi pada penyedia layanan kesehatan untuk mendapatkan vaksin COVID-19 ini.

 

  1. Anonim. 2021. The Sinopharm COVID-19 vaccine: What you need to know. https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/the-sinopharm-covid-19-vaccine-what-you-need-to-know (Diakses pada 13 September 2021)
  2. Corum , Jonathan dan Carl Z. 2021. How the Sinopharm Vaccine Works. https://www.nytimes.com/interactive/2020/health/sinopharm-covid-19-vaccine.html (Diakses pada 13 September 2021)
  3. Pike, Harriet. 2021. Sinopharm COVID-19 vaccine: Should you worry about the side effects?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/sinopharm-covid-19-vaccine-should-you-worry-about-the-side-effects (Diakses pada 13 September 2021)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi