Terbit: 10 Juli 2020 | Diperbarui: 11 Juli 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Rotavirus adalah penyebab paling umum penyakit diare pada anak kecil di seluruh dunia. Infeksi virus ini menjadi salah satu penyumbang kematian terbesar pada anak-anak dibawah usia 5 tahun, terutama di negara-negara berkembang. Salah satu cara efektif yang bisa digunakan untuk mencegah penyakit ini adalah dengan mendapatkan vaksin rotavirus. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

rotavirus-doktersehat

Apa Itu Rotavirus?

Menerapkan perilaku hidup bersih seperti sering mencuci tangan dan menjaga makanan tetap higienis adalah sesuatu yang penting, namun hal itu tidak cukup untuk mengendalikan penyebaran penyakit. Mendapatkan vaksin adalah cara terbaik untuk melindungi anak dari penyakit ini.

Fungsi Vaksin Rotavirus

Berbagai studi yang meneliti tentang vaksin ini mengungkapkan bahwa vaksin ini dapat mencegah hingga 98% infeksi parah dan mencegah 96% rawat inap yang disebabkan oleh virus ini. Pada beberapa kasus, sebagian besar bayi bahkan tidak mengalami diare sama sekali. Akan tetapi, vaksin ini tidak mencegah diare atau muntah yang disebabkan oleh virus lain.

Apakah Vaksin Ini Aman?

Sebelum disetujui untuk diedarkan ke masyarakat, vaksin ini sudah dilakukan ribuan uji coba dan terbukti aman. Vaksin RotaTeq dan Rotarix yang sekarang beredar tidak meningkatkan risiko masalah kesehatan lainnya.

Penting untuk diketahui, setiap anak yang memiliki reaksi alergi parah terhadap dosis awal vaksin, maka tidak boleh diberikan dosis vaksin lagi. Sementara jika bayi Anda sedang sakit pada saat jadwal vaksinasi, tunggulah sampai kondisi pulih baru bisa diberikan vaksin.

Selain itu, jika anak Anda memiliki sistem kekebalan yang lemah, konsultasi dengan dokter diperlukan untuk mengetahui berbagai hal yang membuat sistem imunnya melemah, serta menentukan tindakan-tindakan yang tidak meningkatkan risiko.

Efek Samping Vaksin Rotavirus

Pada dasarnya setiap vaksin memiliki kemungkinan untuk menimbulkan reaksi alergi. Berikut ini adalah tanda-tanda alergi yang bisa terjadi, di antaranya:

  • Kesulitan bernapas
  • Muncul suara mengi
  • Gatal
  • Terlihat pucat
  • Detak jantung cepat

Meski begitu, orang tua tidak perlu khawatir karena risiko muncul alergi setelah mendapatkan vaksin ini sangat kecil. Sebagian besar anak yang mendapatkan vaksin ini tidak memiliki masalah sama sekali. Namun, efek samping ringan dan sementara yang muncul setelah divaksin adalah:

  • Mudah rewel
  • Diare
  • Muntah

Pada kasus yang sangat jarang terjadi, vaksin ini bisa menyebabkan intususepsi, yaitu kondisi di mana sebagian usus terlipat dan menyusup ke dalam bagian usus lain. Kondisi ini mengakibatkan penyumbatan di dalam usus dan umumnya terjadi di bagian yang menghubungkan usus halus dan usus besar.

Meski kondisi ini biasa diobati, akan tetapi jika tidak mendapatkan perawatan hal itu bisa membahayakan nyawa. Perlu diingat bahwa mendapatkan vaksin ini jauh lebih aman daripada mendapatkan rotavirus.

Aturan dan Jenis Vaksin Rotavirus

Vaksin yang beredar di Indonesia ada 2 macam: RotaTeq® (RV5) dan Rotarix® (RV1). RotaTeq diberikan sebanyak 3 dosis yaitu pemberian pertama pada usia 6-14 minggu, pemberian kedua setelah 4-8 minggu kemudian, dan dosis ketiga maksimal pada usia 8 bulan. 
Sementara Rotarix diberikan dalam 2 dosis: dosis pertama diberikan pada usia 10 minggu dan dosis kedua pada usia 14 minggu (maksimal pada usia 6 bulan). Apabila bayi belum mendapatkan imunisasi rotavirus pada usia lebih dari 6-8 bulan, maka tidak perlu diberikan vaksin karena belum ada studi keamanan mengenai hal ini.
Hal penting yang harus diketahui oleh orang tua adalah, seorang anak harus menerima semua dosis vaksin ini sebelum mereka mencapai usia 8 bulan. Kedua vaksin diberikan dengan langsung meneteskannya di mulut anak, bukan dengan suntikan.

Kontraindikasi Pemberian Vaksin

Meski vaksin ini berguna untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh rotavirus, beberapa bayi tidak boleh mendapatkan vaksin ini. Beberapa kriteria bayi tersebut adalah:

  • Pernah mengalami reaksi alergi yang parah terhadap vaksin rotavirus di masa lalu.
  • Sangat alergi terhadap salah satu bahan dalam vaksin.
  • Memiliki gangguan imunodefisiensi kombinasi yang parah (sekelompok kelainan genetik langka yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh).
  • Pernah mengalami intususepsi (semacam penyumbatan di usus).

Sebelum mendapatkan vaksin, konsultasi dengan dokter diperlukan jika anak Anda:

  • Mengidap HIV / AIDS.
  • Mengalami kanker.
  • Sedang mengonsumsi obat yang bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Apakah Bayi Prematur Memerlukan Vaksin Rotavirus?

Imunisasi tetap bisa dilakukan sesuai dengan jadwal dan tindakan pencegahan yang sama seperti bayi lahir cukup bulan. Beberapa kondisi yang harus diperhatikan adalah apakah bayi memenuhi persyaratan usia untuk vaksin dan apakah secara klinis kondisinya stabil.

Bagaimana Penyebaran Rotavirus?

Rotavirus adalah penyakit yang penularannya melalui jalur fecal-oral, yaitu penularan virus yang terjadi melalui makanan dan tinja. Virus yang ditemukan dalam tinja bisa mengontaminasi makanan, minuman, mainan, hingga alat-alat yang digunakan untuk memasak. Selain itu, penyakit ini juga dapat ditularkan melalui droplet yang dikeluarkan melalui bersin atau batuk.

Apakah Orang Dewasa Bisa Tertular Rotavirus?

Meski infeksi virus ini lebih sering terjadi pada anak kecil, kondisi ini juga bisa terjadi pada orang dewasa. Perbedaannya, orang dewasa yang terserang penyakit ini tidak menunjukkan gejala namun dapat menyebabkan diare. Penyakit diare yang disebabkan oleh virus ini telah dilaporkan sering terjadi pada orang tua yang tinggal di panti jompo.

Biaya yang Dikeluarkan untuk Mendapatkan Vaksin

Pada dasarnya biaya vaksin di setiap rumah sakit atau rumah vaksin berbeda-beda. Hal itu tergantung pada merek vaksin atau fasilitas kesehatan yang Anda pilih. Harga vaksin rotavirus sendiri berkisar antara Rp400.000 sampai Rp450.000.

 

  1. Anonim. MELENGKAPI/ MENGEJAR IMUNISASI (BAGIAN III). https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-iii. (Diakses pada 10 Juli 2020).
  2. Anonim. Rotavirus Vaccination. https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/rotavirus/index.html. (Diakses pada 10 Juli 2020).
  3. Anonim. Rotavirus (RV) Vaccine. https://www.webmd.com/children/vaccines/rotavirus-rv-vaccine#1. (Diakses pada 10 Juli 2020).
  4. Anonim. Rotavirus. https://www.who.int/immunization/diseases/rotavirus/en/. (Diakses pada 10 Juli 2020).
  5. Anonim. Rotavirus. https://www.immunize.org/askexperts/experts_rota.asp. (Diakses pada 10 Juli 2020).
  6. Anonim. Rotavirus. https://www.vaccines.gov/diseases/rotavirus. (Diakses pada 10 Juli 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi