Terbit: 9 Mei 2020
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Vaksin rabies adalah vaksinasi yang diberikan untuk mencegah penyakit rabies. Vaksin ini dapat diberikan sebelum pasien terpapar virus atau segera setelah pasien terpapar virus. Simak informasi selengkapnya tentang vaksin ini mulai dari dosis, efek samping, interaksi obat, dan informasi lainnya!

vaksin-rabies-doktersehat

Rangkuman Informasi Vaksin Rabies

 Nama Obat  Vaksin rabies
 Nama Dagang  Verorab
 Kelas obat  Vaksin
 Kategori  Obat keras
 Manfaat Obat  Mencegah infeksi rabies
 Digunakan oleh  Anak-anak dan dewasa
 Kontraindikasi  Hipersensitif
 Dosis Obat  1. Dosis Sebelum Paparan

  • Imunisasi primer: 1 ml pada hari ke 0, 7, dan 28. Dosis ketiga dapat diberikan pada hari ke-21 jika diperlukan.
  • Dosis tambahan (diberikan pada orang memiliki risiko berkelanjutan): 1 ml diberikan setahun setelah imunisasi primer, kemudian 1 ml setiap 3-5 tahun.

2. Dosis Setelah Paparan

  • Orang yang tidak diimunisasi atau imunisasi rabiesnya tidak lengkap: 1 ml pada hari 0, 3, 7, 14, dan 28. Dosis ke-5 dapat diberikan pada hari ke-30 bila diperlukan.
  • Orang yang sudah menjalani imunisasi rabies lengkap: 1 ml pada hari ke-0 dan 3.
 Sediaan Obat  Injeksi

 

Apa Itu Vaksin Rabies?

Vaksin rabies adalah vaksin yang digunakan untuk mencegah rabies. Vaksin ini diberikan pada individu yang memiliki risiko terkena penyakit ini. Namun meskipun sudah diberikan vaksin, seseorang yang digigit atau dicakar oleh hewan yang kemungkinan menderita rabies, tetap harus mendapatkan penanganan medis.

Rabies sendiri merupakan virus mematikan yang dapat menularkan manusia melalui air liur hewan yang terinfeksi. Umumnya virus ini ditularkan melalui gigitan hewan ke manusia.

Rabies dapat ditularkan oleh hewan liar seperti kelelawar, rubah, monyet atau dapat juga ditularkan dari hewan yang umum menjadi hewan peliharaan seperti anjing atau kucing.

Fungsi Vaksin Rabies

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, fungsi vaksin ini adalah untuk mencegah penyakit rabies. Vaksin ini diberikan pada orang-orang yang memiliki risiko terkena penyakit ini. Vaksin juga dapat diberikan pada individu yang terlanjur terkena gigitan hewan yang berpotensi memiliki rabies.

Siapa yang Membutuhkan Vaksin Ini?

Vaksin ini memang tidak diberikan pada semua orang, tapi terdapat kelompok tertentu yang dianggap memiliki risiko tinggi dan wajib mendapatkannya. Orang yang memiliki risiko tinggi terkena rabies termasuk:

  • Dokter hewan, pawang hewan, dan mahasiswa kedokteran hewan.
  • Pekerja laboratorium rabies.
  • Orang yang bekerja dengan vaksin hidup untuk memproduksi vaksin ini dan immunoglobulin rabies.
  • Orang yang menjelajahi gua (spelunkers).
  • Orang yang memiliki aktivitas yang membuatnya kontak dengan virus rabies atau hewan yang mungkin terinfeksi.
  • Wisatawan internasional yang melakukan kontak dengan dengan hewan di daerah di mana rabies biasa terjadi.

Seseorang yang digigit atau dicakar hewan yang berpotensi rabies juga harus segera mendapatkan vaksin ini. Jika ditangani dengan cepat, vaksin ini masih bisa mencegah rabies meskipun gigitan atau cakaran sudah terjadi.

Apabila orang yang sudah mendapatkan vaksin digigit atau dicakar oleh hewan yang berpotensi terinfeksi, maka orang tersebut juga harus tetap meminta bantuan petugas kesehatan untuk memastikan kondisinya aman.

Jika digigit atau dicakar oleh hewan yang berpotensi rabies, segera bersihkan luka dan temui penyedia layanan kesehatan. Dokter yang akan menentukan apakah Anda membutuhkan vaksin ini atau tidak.

Peringatan Vaksin Rabies

Berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum mendapatkan vaksin ini:

  • Hati-hati penggunaan pada pasien penyakit akut atau ringan, riwayat demam kejang demam pribadi atau dalam keluarga, atau riwayat gangguan pendarahan seperti trombositopenia.
  • Hati-hati pemberian vaksin pada bayi prematur atau individu dengan imaturitas pernapasan.
  • Hati-hati penggunaan pada anak-anak, wanita hamil, dan ibu menyusui.
  • Tunda vaksin apabila sedang demam atau mengalami penyakit akut.

Kontraindikasi Vaksin Rabies

Tidak semua orang bisa mendapatkan vaksin ini. Terdapat beberapa kondisi di mana seseorang tidak bisa mendapatkan vaksin ini karena dapat memperburuk kondisi kesehatannya.

Berikut adalah kelompok orang yang tidak direkomendasikan:

  • Hipersensitif
  • Imunosupresi (penurunan sistem imun tubuh) parah

Interaksi Obat Vaksin Rabies

Interaksi obat adalah penurunan efektivitas obat atau meningkatkan risiko efek samping akibat dari penggunaan dua atau lebih obat secara bersamaan. Penggunaan vaksin ini dengan obat-obatan tertentu berpotensi menimbulkan interaksi obat.

Berikut adalah interaksi obat yang mungkin terjadi:

  • Efektivitas obat menurun ketika diberikan bersama antimalarial, kortikosteroid, dan imunosupresan lainnya.
  • Meningkatnya risiko pendarahan atau hematoma ketika diberikan bersama antikoagulan.

Sebelum mendapatkan vaksin ini, pastikan Anda memberi tahu pada dokter tentang obat yang belakangan atau sedang Anda konsumsi.

Anda juga perlu bertanya pada dokter tentang makanan dan minuman yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi selama mendapatkan vaksin ini. Konsumsi makanan dan minuman tertentu bersama vaksin ini juga mungkin menyebabkan interaksi obat.

Efek Samping Vaksin Rabies

Vaksin ini berpotensi menimbulkan beberapa efek samping meliputi:

  • Nyeri, kemerahan, bengkak, atau gatal di area suntikan
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Sakit perut
  • Nyeri otot
  • Pusing
  • Gatal
  • Nyeri sendi
  • Demam
  • Gangguan sistem saraf seperti sindrom Guillain-Barre (jarang terjadi)
  • Reaksi alergi

Efek samping yang muncul pada setiap orang dapat berbeda-beda. Efek samping ringan dapat hilang dengan sendirinya. Apabila Anda mengalami efek samping serius atau reaksi alergi, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan.

Dosis Vaksin Rabies

Jenis vaksin rabies secara umum ada 2, yaitu vaksin yang diberikan sebelum paparan dan vaksin yang diberikan sesudah paparan.

Kedua jenis vaksin ini diberikan dengan dosis yang berbeda. Berikut adalah dosis yang lazim diberikan:

1.  Dosis Sebelum Paparan

  • Imunisasi primer: 1 ml pada hari ke 0, 7, dan 28. Dosis ketiga dapat diberikan pada hari ke-21 jika diperlukan.
  • Dosis tambahan (diberikan pada orang memiliki risiko berkelanjutan): 1 ml diberikan setahun setelah imunisasi primer, kemudian 1 ml setiap 3-5 tahun.

2. Dosis Setelah Paparan

  • Orang yang tidak diimunisasi atau imunisasi rabiesnya tidak lengkap: 1 ml pada hari 0, 3, 7, 14, dan 28. Dosis ke-5 dapat diberikan pada hari ke-30 bila diperlukan.
  • Orang yang sudah menjalani imunisasi rabies lengkap: 1 ml pada hari ke-0 dan 3.

Dosis di atas adalah dosis yang lazim diberikan. Dosis dapat berubah bergantung pada kondisi dan kebutuhan pasien.

Cara Pakai Vaksin Rabies

Berikut adalah petunjuk penggunaan vaksin:

  • Vaksin diberikan melalui injeksi dan hanya dilakukan oleh tenaga medis profesional.
  • Ikuti jadwal pemberian vaksin sesuai dengan yang diinstruksikan oleh dokter.

Petunjuk Penyimpanan Vaksin Rabies

Vaksin harus disimpan dengan benar agar efektivitasnya tidak menurun. Berikut adalah petunjuk penyimpanan vaksin ini yang harus diperhatikan:

  • Simpan pada suhu antara 2-8.
  • Jangan biarkan vaksin membeku.
  • Hindari cahaya dan sinar matahari langsung.
  • Bagian yang tidak digunakan harus dibuang sesuai prosedur yang berlaku.

Harga Vaksin Rabies

Harga vaksin ini dapat berbeda-beda pada setiap rumah sakit. Kisaran harganya adalah sekitar Rp300.000-Rp500.000 untuk satu dosis vaksin.

Hati-hati dalam memilih tempat di mana Anda mendapatkan vaksin. Pastikan Anda mendapatkan vaksin yang sesuai dengan standar kesehatan.

  1. Anonim. Vaccine, rabies. http://www.mims.com/indonesia/drug/info/vaccine,%20rabies/?type=brief&mtype=generic. (Diakses 9 Mei 2020).
  2. Anonim. 2020. Rabies VIS. https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/rabies.html. (Diakses 9 Mei 2020).
  3. Anonim. Rabies. 2019. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rabies/symptoms-causes/syc-20351821. (Diakses 9 Mei 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi