Terbit: 19 Juli 2021 | Diperbarui: 21 Juli 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Vaksin Pfizer atau BNT162b2 adalah salah satu vaksin yang saat ini digunakan di Indonesia untuk membantu mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19). Vaksin COVID Pfizer ini adalah salah satu jenis vaksin dari platform mRNA (messenger RNA) yang sudah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Vaksin Pfizer: Manfaat, Dosis, Keamanan, Efek Samping, dll

Apakah Vaksin Pfizer Aman?

Berdasarkan data uji klinik fase 3, efikasi vaksin pada usia 16 tahun ke atas menunjukan keberhasilan sebanyak 95,5 % dan pada remaja usia 12-15 tahun sebesar 100 %. Data imunogenisitas menunjukkan pemberian 2 dosis vaksin Comirnaty dalam selang 3 minggu menghasilkan respons imun yang baik.

Selain itu, hasil pengkajian menunjukan bahwa secara umum keamanan vaksin dapat ditoleransi pada semua kelompok usia. Dalam memberikan persetujuan izin penggunaan darurat, BPOM telah melakukan pengkajian bersama Tim Ahli Komite Nasional Penilai Vaksin COVID-19 dan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) terkait dengan keamanan dan efikasi dari vaksin COVID-19 Pfizer.

Penilaian terhadap data mutu vaksin ini juga telah dilakukan dengan mengacu pada pedoman evaluasi mutu vaksin yang berlaku secara internasional dan hasilnya telah memenuhi standar persyaratan mutu vaksin.

Sementara terkait pengadaan vaksin Pfizer Indonesia, Kementerian Kesehatan dengan PT Pfizer Indonesia dan BioNTech SE telah menyepakati untuk menyediakan 50 juta dosis vaksin sepanjang tahun 2021.

PT Pfizer Indonesia dan BioNTech SE menyediakan 50 juta dosis setelah BPOM mengeluarkan persetujuan penggunaan dalam kondisi darurat.

Selain tingkat keamanan vaksin yang ingin diketahui masyarakat umum, banyak orang juga bertanya ‘vaksin Pfizer buatan mana?’. Vaksin ini dikembangkan oleh sebuah perusahaan Amerika bernama Pfizer di New York dan BioNTech, sebuah perusahaan bioteknologi Jerman yang berbasis di Mainz, Jerman.

Baca Juga: Vaksin Sinovac: Manfaat, Dosis, Keamanan, Efek Samping, dll

Efek Samping Vaksin Pfizer

Kejadian reaksi yang paling sering timbul dari penggunaan vaksin ini adalah nyeri pada tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, menggigil, nyeri sendi, dan demam. Sebagian besar efek samping adalah ringan sampai sedang dan jangka pendek. Tidak semua orang mendapatkan efek samping.

Seperti semua vaksin, ada kemungkinan akan ada efek samping yang serius, tetapi ini jarang terjadi. Efek samping yang serius mungkin seperti reaksi alergi.

Bolehkah Ibu Hamil dan Menyusui Mendapatkan Vaksin Pfizer?

World Health Organization (WHO) merekomendasikan penggunaan Pfizer vaksin pada wanita hamil diperlukan jika manfaat vaksinasi bagi wanita hamil lebih besar daripada potensi risikonya.

Sementara jika Anda sedang menyusui, tidak ada alasan yang diketahui untuk menghindari menyusui usai divaksin. Jika zat dari vaksin masuk ke ASI, Anda tidak perlu khawatir karena zat tersebut akan dicerna oleh sistem pencernaan bayi.

Badan POM sendiri mengikuti arahan dari WHO bahwa vaksin Pfizer bisa diberikan kepada ibu hamil selama memang ketika proses skrining sebelum vaksinasi, tidak ditemukan hal-hal yang membuat vaksinasi tidak bisa diberikan.

Siapa yang Dianjurkan Mendapatkan Vaksin Pfizer?

Vaksin ini direkomendasikan untuk kelompok prioritas seperti petugas kesehatan yang berisiko tinggi terpapar dan para lansia.

Vaksin COVID Pfizer juga telah ditemukan dan efektif pada orang dengan berbagai kondisi yang berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit parah, termasuk hipertensi, diabetes, asma, penyakit paru-paru, hati, ginjal, serta infeksi kronis yang stabil dan terkontrol.

Studi lebih lanjut diperlukan untuk seseorang yang sistem kekebalannya terganggu. Rekomendasi sementara adalah bahwa orang-orang dengan gangguan kekebalan merupakan bagian dari kelompok yang direkomendasikan untuk divaksin. Konsultasi dengan dokter diperlukan sebelum Anda mendapatkan vaksin.

Sementara itu, bukti menunjukkan bahwa remaja lebih mungkin menularkan SARS-CoV-2 seperti orang dewasa. WHO merekomendasikan bahwa setiap negara harus mempertimbangkan untuk memberikan vaksin pada anak usia 12 hingga 15 tahun. Anak-anak pada usia ini yang memiliki penyakit penyerta menempatkannya pada risiko penyakit COVID-19 yang serius

Siapa yang Tidak Dianjurkan Mendapatkan Vaksin Pfizer?

Jika Anda pernah mengalami reaksi alergi parah (anafilaksis) atau reaksi alergi langsung, meskipun tidak parah, terhadap bahan apa pun dalam vaksin mRNA (seperti polyethylene glycol), Anda tidak boleh mendapatkan vaksin mRNA.

Jika Anda mengalami reaksi alergi yang parah atau segera setelah mendapatkan dosis pertama, Anda tidak boleh mendapatkan dosis kedua dari vaksin yang sama. Reaksi alergi langsung berarti reaksi dalam waktu 4 jam setelah terpapar, termasuk gejala seperti gatal-gatal, bengkak, atau mengi.

Selain itu, hingga saat ini belum ada data yang lengkap mengenai kemanjuran atau keamanan untuk anak-anak di bawah usia 12 tahun, hal inilah yang membuat anak di bawah usia tersebut tidak boleh divaksin.

Baca Juga: Vaksin Astrazeneca: Manfaat, Dosis, Keamanan, Efek Samping, dll

Dosis Vaksin Pfizer

Anda memerlukan 2 dosis vaksin Pfizer-BioNTech. Efek perlindungan mulai berkembang 12 hari setelah dosis pertama, tetapi perlindungan penuh membutuhkan dua dosis. Anda harus mendapatkan dosis kedua 4 minggu (28 hari) setelah dosis pertama.

Penelitian tambahan diperlukan untuk memahami potensi perlindungan jangka panjang setelah dosis tunggal. Saat ini direkomendasikan bahwa produk yang sama harus digunakan untuk dosis kedua.

Apakah Vaksin Pfizer Mampu Mencegah Varian Virus yang Baru?

WHO Strategic Advisory Group of Experts on Immunization (SAGE) telah meninjau semua data yang tersedia, yaitu tentang kinerja vaksin dalam pengujian untuk menilai kemanjuran terhadap berbagai varian. Berbagai tes  menunjukkan bahwa vaksin COVID Pfizer efektif melawan varian virus yang baru.

Apakah Vaksin Pfizer Mencegah Infeksi dan Penularan?

Hingga saat ini tidak ada data substantif yang tersedia terkait dampak vaksin ini pada penularan atau pelepasan virus.

Sementara itu menurut sebuah studi, vaksin ini menghasilkan respons sistem kekebalan yang kuat sehingga dapat melindungi dari COVID-19 dalam jangka panjang. Temuan ini menunjukkan bahwa seseorang yang sudah menerima vaksin mRNA mungkin tidak memerlukan dosis booster. Namun, hal ini tergantung pada apakah varian berkembang lagi di luar kondisi saat ini.

paket obat isolasi mandiri doktersehat

 

  1. Anonim. 2021. Badan POM Terbitkan EUA Comirnaty (Vaksin COVID-19 Pfizer) Sebagai Vaksin Kedua Platform mRNA. https://www.pom.go.id/new/view/more/pers/618/Badan-POM-Terbitkan-EUA-Comirnaty–Vaksin-COVID-19-Pfizer—Sebagai-Vaksin-Kedua-Platform-mRNA.html. (Diakses pada 19 Juli 2021).
  2. Anonim. Pfizer/BioNTech COVID-19 vaccine. https://www2.hse.ie/screening-and-vaccinations/covid-19-vaccine/pfizer-biontech/. (Diakses pada 19 Juli 2021).
  3. Anonim. 2021. Pfizer-BioNTech COVID-19 Vaccine Overview and Safety. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/vaccines/different-vaccines/Pfizer-BioNTech.html. (Diakses pada 19 Juli 2021).
  4. Walsh, Grace. 2021. Pfizer vaccine: Which country developed it, how effective is it and who would be on the priority list?. https://www.goodto.com/wellbeing/health/pfizer-vaccine-developed-effective-priority-list-566657. (Diakses pada 19 Juli 2021).
  5. Rokom. 2021. 50 Juta Dosis Vaksin Pfizer Bakal Diterima Indonesia. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/berita-utama/20210714/4138127/50-juta-dosis-vaksin-pfizer-bakal-diterima-indonesia/. (Diakses pada 19 Juli 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi