Terbit: 26 Januari 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Vaksin difteri adalah vaksin yang digunakan untuk mencegah penyakit difteri, yaitu infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Ketahui apa itu vaksin difteri, kandungan, cara kerja, jadwal, efek samping dll.

Vaksin Difteri: Fungsi, Dosis, Prosedur, Efek Samping, dll

Apa Itu Vaksin Difteri?

Vaksin difteri adalah serangkaian vaksin untuk mencegah difteri, yaitu infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Infeksi bakteri ini menyebabkan demam, lemas, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar, hingga masalah pernapasan.

Pada stadium lanjut, penyakit ini dapat merusak sistem saraf, ginjal, jantung, hingga risiko kematian sehingga pencegahannya dengan vaksin sangat direkomendasikan baik untuk bayi, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.

Jenis Vaksin Difteri

Terdapat 4 jenis vaksin yang digunakan untuk pencegahan penyakit ini, yaitu:

  • Vaksin DTaP: Vaksin yang digunakan untuk mencegah infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae, tetanus, dan batuk rejan pada anak-anak.
  • Vaksin DT: Vaksin yang digunakan untuk melindungi anak-anak dari infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae dan tetanus.
  • Vaksin Tdap: Vaksin yang digunakan untuk mencegah infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae, tetanus, dan batuk rejan pada praremaja, remaja, dan orang dewasa.
  • Vaksin Td: Vaksin yang digunakan untuk melindungi praremaja, remaja, dan orang dewasa dari infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae dan tetanus.

Vaksin DTaP dan Tdap digunakan untuk mencegah tiga infeksi sekaligus, yaitu infeksi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan. Sementara itu, vaksin Td hanya melindungi dari risiko paparan difteri dan tetanus saja.

Keempat jenis vaksin ini adalah serangkaian obat untuk mencegah difteri, namun semua jenis vaksin ini harus digunakan sesuai jadwal, dosis, dan ketentuan tertentu.

Baca Juga: Difteri: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan

Kandungan Vaksin Difteri

Vaksin DTaP terdiri dari antigen pertusis aselular serta toksoid difteri dan tetanus atau toksin yang sudah tidak aktif lagi.  Kandungan vaksin ini adalah toksoid difteri buatan sekitar 15 hingga 25 Lf unit untuk menghasilkan respons kekebalan tubuh yang aktif dengan mengembangkan antibodi dan antitoksin terhadap toksoid.

Jadwal dan Dosis Vaksin Difteri

Berikut ini adalah panduan jadwal vaksin, yaitu:

1. Vaksin DTaP

Vaksin DTaP ditujukan untuk bayi dan anak berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15 hingga 18 bulan, serta satu kali pada usia 4 hingga 6 tahun.

DTaP ini dilakukan dalam serangkaian 5 kali suntikan dengan jadwal sebagai berikut:

  • Dosis Pertama: Usia dua bulan atau minimum 6 minggu.
  • Dosis Kedua: Usia 4 bulan dan harus diberikan minimum 4 minggu setelah dosis pertama.
  • Dosis Ketiga: Usia 6 bulan dan harus diberikan minimum 4 minggu setelah dosis kedua.
  • Dosis Keempat: Usia 12 bulan dan harus diberikan minimum 6 minggu setelah dosis ketiga.
  • Dosis Kelima: Usia 4-6 tahun yang diberikan minimum 6 minggu setelah dosis keempat.

2. Vaksin Tdap

Vaksin Tdap direkomendasikan untuk siapapun di atas usia 11 tahun yang belum pernah melakukan vaksin ini sebelumnya, dalam kategori sebagai berikut:

  • Orang dewasa dan yang berusia 65 tahun ke atas yang akan berada di sekitar bayi.
  • Orang tua berusia 65 tahun ke atas yang tidak pernah melakukan vaksin sebelumnya.
  • Wanita hamil antara usia 27-36 tahun dianjurkan menerima satu kali dosis vaksin.

Baca Juga: Difteri Pada Anak: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dll

3. Vaksin Td

Vaksin Td dianjurkan untuk digunakan oleh siapapun yang memiliki risiko tetanus dan difteri. Vaksin Td ini dilakukan setiap 10 tahun sekali dengan dosis yang disesuaikan dan pengecualian apabila mereka belum pernah melakukan vaksin ini sebelumnya.

Jadi, vaksin DTaP dan DT digunakan untuk bayi dan anak di bawah usia 7 tahun. Sementara vaksin Tdap dan Td digunakan untuk anak dan orang dewasa. Untuk jadwal dan dosis yang tepat, Anda perlu berkonsultasi pada dokter Anda.

Prosedur Vaksin Difteri

Vaksin dilakukan dengan cara disuntik pada bagian otot tubuh dan hanya dapat dilakukan oleh profesional kesehatan. Pada anak-anak, umumnya vaksin dilakukan di otot paha. Sementara pada orang dewasa, vaksin dilakukan di otot lengan atas.

Vaksin ini sebaiknya hanya dilakukan apabila kondisi tubuh sedang sehat, tidak menderita penyakit apapun seperti demam atau flu biasa serta menggunakan vaksin dengan kualitas baik.

Kenapa Harus Vaksin Difteri?

Difteri dapat menyebabkan komplikasi penyakit serius seperti kelumpuhan, infeksi paru-paru, hingga memicu penyakit jantung. Berdasarkan data terkait, terdapat 3 persen kasus kematian akibat infeksi bakteri ini atau 1 dari 5 anak dan orang dewasa yang mengidap penyakit ini memiliki risiko kematian.

Di Indonesia, penyakit difteri bahkan pernah menjadi kasus luar biasa di Jakarta.  Dilaporkan juga terdapat sekitar 591 kasus dengan 32 kematian di 95 Kabupaten/Kota di 20 Provinsi di Indonesia sejak 1 Januari sampai 4 November 2017.

Karena mengancam banyak orang, vaksin ini sangat penting untuk mencegah penyakit difteri dan menjaga kesehatan Anda. Kampanye vaksin untuk mencegah infeksi dan penyakit pun terus digalakkan demi kesehatan seluruh masyarakat.

Siapa yang Harus Vaksin Difteri?

Berikut ini adalah daftar semua golongan yang dianjurkan untuk melakukan vaksin ini, yaitu:

  • Bayi usia 2 bulan, 4 bulan, 16 bulan, dan 15 bulan hingga 18 bulan.
  • Anak usia 4-6 tahun.
  • Pengasuh bayi termasuk orang tua, kakek dan nenek, serta pengasuh bayi.
  • Wanita hamil pada usia trimester ketiga.
  • Petugas kesehatan yang memiliki kontak langsung dengan bayi dan pasien.
  • Orang-orang yang akan berpergian ke negara endemik difteri.
  • Orang yang mengalami luka parah atau luka terbakar wajib diberi vaksin Tdap untuk mengurangi risiko tetanus.

Siapa yang Tidak Harus Vaksin Difteri?

Siapapun tidak dianjurkan menggunakan vaksin ini apabila:

  • Memiliki reaksi alergi terhadap vaksin.
  • Epilepsi atau masalah sistem saraf lainnya.
  • Sindrom Guillain-Barré (GBS).
  • Memiliki riwayat alergi terhadap vaksin tertentu.

Bila Anda memiliki kondisi tersebut, sebaiknya hubungi dokter Anda untuk alternatif imunisasi atau pengobatan lain bila Anda memiliki kondisi terkait difteri.

Seberapa Efektif Vaksin Difteri?

Serangkaian vaksin ini sangat efektif untuk mencegah difteri, tetanus, dan batuk rejan pada orang-orang yang menerima vaksin rangkaian primer. Vaksin ini efektif dalam melindungi Anda dari difteri selama sekitar 10 tahun untuk bayi dan orang dewasa, serta risiko batuk rejan dalam dosis kelima.

Baca Juga: 8 Kandungan Vaksin yang Berguna bagi Tubuh

Efek Samping Vaksin Difteri

Berikut ini risiko efek samping vaksin, yaitu:

  • Nyeri dan bengkak pada area kulit yang disuntikkan
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Demam ringan

Efek samping ini termasuk dalam efek samping biasa pasca imunisasi yang biasa terjadi dan akan hilang dalam 1-2 hari. Apabila Anda mengalami efek samping yang lebih parah dan lama, harap segera hubungi dokter.

 

  1. Children’s Hospotal of Philadelphia. 2019. A Look at Each Vaccine: Diphtheria, Tetanus and Pertussis Vaccines. https://www.chop.edu/centers-programs/vaccine-education-center/vaccine-details/diphtheria-tetanus-and-pertussis-vaccines. (Diakses pada 26 Desember 2019).
  2. CDC. 2019. Diphtheria, Tetanus, and Whooping Cough Vaccination: What Everyone Should Know. https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/dtap-tdap-td/public/index.html#how-well-do-they-work.  (Diakses pada 26 Desember 2019).
  3. CDC. 2018. Diphtheria Vaccination. https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/diphtheria/index.html.  (Diakses pada 26 Desember 2019).
  4. CDC 2019. Vaccine (Shot) for Diphtheria. https://www.cdc.gov/vaccines/parents/diseases/diphtheria.html.  (Diakses pada 26 Desember 2019).
  5. Rokom. 2017. Menkes: Difteri Menular, Berbahaya dan Mematikan, Namun Bisa Dicegah dengan Imunisasi. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20171211/0224027/menkes-difteri-menular-berbahaya-dan-mematikan-namun-dicegah-imunisasi/.  (Diakses pada 26 Desember 2019).
  6. Shawnna A. Ogden; John T. Ludlow; Abdul Waheed; Khalid Alsayouri. 2019. Diphtheria Tetanus Pertussis (DTaP) Vaccine. ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK545173/. (Diakses pada 26 Desember 2019).
  7. Vaccinesgov. 2019. Diphtheria. https://www.vaccines.gov/diseases/diphtheria.  (Diakses pada 26 Desember 2019).
  8. WebMD. 2019. Tetanus, Diphtheria, Pertussis Vaccine for Adults. https://www.webmd.com/vaccines/tdap-vaccine-for-adults#1.  (Diakses pada 26 Desember 2019).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi