Terbit: 25 November 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Sangat natural bagi Bunda untuk bertanya tentang bentuk vagina setelah melahirkan. Vagina mungkin terasa lebih lebar atau lebih kering. Ketahui bagaimana perubahan vagina setelah melahirkan dan cara mengatasinya. 

10 Perubahan Vagina setelah Melahirkan dan Cara Mengatasi

Kenapa Terjadi Perubahan Bentuk Vagina setelah Melahirkan?

Wanita pascamelahirkan mengalami perubahan fisik dan emosional, termasuk perubahan bentuk vagina. Semua itu terjadi akibat perubahan hormon dan peregangan vagina selama proses melahirkan. Berikut ini penjelasannya! 

  • Estrogen: Kenaikan level hormon estrogen sudah terjadi sejak awal kehamilan. Hormon estrogen meningkatkan aliran darah ke lipatan vagina yang akan meregang saat melahirkan. Kadar hormon estrogen akan menyusut secara drastis pascamelahirkan.
  • Relaxin: Hormon yang merelaksasi ligamen dan sendi sekitar pinggul sehingga bayi akan memiliki ruang lebih luas saat proses kelahiran. 
  • Lantai Pelvis: Perubahan lantai panggul (pelvis) yang menghubungkan uretra, vagina, anus, dan rektum. Lantai pelvis akan mengontrol buang air, seks, orgasme, pembukaan vagina, dan sebagainya. 

Beban perut selama kehamilan, efek persalinan, dan pervaginam (persalinan normal) dapat memicu kerusakan jaringan lunak di sekitar lantai pelvis yang juga berefek pada bentuk vagina. Walaupun demikian, perubahan bentuk vagina tidak semenakutkan yang Anda pikirkan.

Perubahan Vagina setelah Melahirkan

Perubahan bentuk vagina menjadi salah satu perhatian wanita setelah melahirkan. Secara natural, bentuk vagina akan berubah menjadi lebih lebar atau lebih kering namun sebenarnya Anda tidak perlu khawatir. 

Berikut ini pembahasan tentang apa saja perubahan vagina setelah melahirkan dan cara mengatasinya: 

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

1. Vagina Lebih Lebar 

Anda mungkin merasa vagina menjadi lebih lebar dan terbuka dari sebelumnya. Vagina juga mengalami sedikit memar dan pembengkakan. Jangan khawatir, gejala bengkak dan sensasi vagina longgar akan membaik dalam beberapa minggu setelah melahirkan. 

Lubang vagina akan kembali menyusut namun mungkin tidak bisa kembali 100% seperti sebelum hamil, terutama bila Anda menjalani proses kelahiran normal. Seharusnya itu tidak menjadi masalah karena sebenarnya bentuk vagina tetap rapat dan normal. Anda juga bisa mengatasinya dengan latihan lantai pelvis untuk mengencangkan kembali otot-otot vagina. 

2. Vagina Lebih Kering 

Vagina akan menjadi lebih kering akibat penurunan hormon estrogen setelah melahirkan. Manfaat hormon estrogen untuk melembapkan vagina secara alami dan meningkatkan elastisitas vagina saat proses melahirkan. 

Kadar hormon estrogen akan kembali normal saat Anda selesai menyusui dan siklus menstruasi mulai kembali. Anda dapat menggunakan pelumas vagina, obat topikal, atau obat hormon estrogen untuk mengembalikan kelembapan dan elastisitas vagina.

Baca Juga: 5 Penyebab Vagina Kering yang Bisa Ganggu Kehidupan Seksual

3. Nyeri pada Vagina 

Vagina dan perineum (bagian antara vagina dan anus) akan terasa sakit dan nyeri. Berdasarkan laporan dari American College of Obstetricians and Gynecologists, 53 hingga 79% wanita yang melahirkan secara normal akan mengalami semacam robekan pada perineum. 

Dokter akan menjahit robekan tersebut dan meresepkan obat antinyeri sesuai dengan derajat keparahan luka robekan tersebut. Gejala nyeri dan gatal vagina ini akan terjadi selama 6-12 minggu setelah melahirkan. Anda harus memastikan area vagina dan perineum selalu bersih agar tidak memperparah gejala nyeri vagina. 

4. Bekas Luka pada Vagina 

Bekas jahitan pada robekan perineum mungkin akan meninggalkan bekas luka atau jaringan parut. Anda mungkin akan merasakan bekas luka tersebut saat berhubungan seksual, namun itu akan sembuh seiring berjalannya waktu. Bila Anda merasa terganggu dan khawatir dengan jaringan parut tersebut, hubungi dokter untuk melakukan pengangkatan jaringan parut. 

5. Nyeri saat Berhubungan Seksual 

Sebaiknya, jangan terburu-buru melakukan hubungan seksual setelah melahirkan karena Anda akan merasakan nyeri tidak biasa. Bicarakan dengan pasangan Anda untuk menunggu waktu yang tepat untuk berhubungan seksual selanjutnya. Gunakan pelumas karena vagina masih kering beberapa minggu setelah melahirkan. 

6. Keputihan Lebih Banyak 

Setelah melahirkan, wanita akan mengalami masa nifas atau adaptasi tubuh antara kehamilan dan melahirkan. Wanita akan mengeluarkan sisa plasenta, darah merah, dan keputihan selama 4 hingga 6 minggu setelah proses melahirkan. Cairan vagina mungkin berwarna merah pekat, kecokelatan dan berbau, lalu berubah menjadi kekuningan saat masa nifas akan selesai. 

7. Tidak Bisa Mengontrol Buang Air Kecil 

Proses melahirkan dapat merusak atau sedikit melemahkan otot lantai pelvis yang mengatur organ rahim, kandung kemih, uretra, usus, orgasme, dan seks. Akibatnya, Anda mungkin tidak dapat menahan buang air kecil dan urine bisa keluar kapan saja, misal saat Anda tertawa, berjalan, atau melompat. Kondisi ini biasanya akan membaik seiring berjalannya waktu.

8. Perubahan Pola Menstruasi 

Bukan hanya bentuk vagina setelah melahirkan, namun Anda akan mengalami perubahan siklus menstruasi. Butuh waktu beberapa saat hingga siklus menstruasi kembali normal, terutama bila Anda melakukan program menyusui. 

Anda akan mengalami siklus menstruasi yang lebih berat atau mungkin lebih ringan setelahnya. Semua itu tergantung pada tingkat hormon estrogen. Bila hormon estrogen lebih rendah, maka lapisan rahim akan lebih tipis dan menstruasi lebih ringan.

9. Perubahan saat Orgasme 

Perubahan vagina setelah melahirkan akan terasa saat Anda orgasme. Otot lantai pelvis (panggul) yang lemah akan membuat kontraksi otot saat orgasme juga melemah. Anda mungkin tidak merasa orgasme sekuat sebelumnya, namun kekuatan otot panggul akan kembali seiring berjalannya waktu dan dapat dibantu dengan olahraga panggul. 

Baca Juga: 6 Jenis Orgasme Wanita, Tanda Mencapai Kepuasan Seksual

10. Perubahan Warna Vulva 

Vulva adalah bagian luar vagina yang bisa Anda lihat. Warna vulva akan berubah tergantung pada tingkat keparahan luka pada jaringan vagina. Wanita dengan pigmen kulit lebih cerah akan mengalami pigmentasi kulit vulva yang lebih gelap.

Semua kondisi ini sangat normal dan Anda tidak perlu khawatir. Dalam beberapa saat, kondisi vagina, hormon, dan fisik secara keseluruhan akan kembali normal lagi. Selain itu, Anda dan pasangan harus fokus pada si Kecil dan memberikan perawatan terbaik untuknya.

Cara Mengatasi Perubahan Bentuk Vagina setelah Melahirkan

Ada cara terbaik untuk mengembalikan kekuatan otot lantai pelvis, yang kemudian akan mengembalikan bentuk vagina setelah melahirkan. Lakukan senam otot panggul (Kegels), begini caranya: 

  • Ketahui di mana otot lantai pelvis Anda berada. Hentikan buang air kecil di tengah jalan, itulah otot lantai pelvis Anda. 
  • Duduk dengan kaki menekuk ke bawah, posisi bokong Anda duduk di atas telapak kaki. 
  • Buat kontraksi otot-otot tersebut, tahan selama 5 detik. 
  • Lepaskan otot selama lima detik. 
  • Ulangi 10 kali, sebaiknya 3 kali sehari. 

Baca Juga: Olahraga Setelah Melahirkan: Waktu yang Tepat dan Jenisnya

Bila Anda merasa kesulitan untuk menemukan titik otot lantai pelvis, Anda dapat melakukan latihan Kegels lainnya, seperti: 

  • Squats exercise
  • Bridge exercise
  • Split tabletop exercise
  • Bird dog exercise

Itulah pembahasan tentang perubahan vagina setelah melahirkan. Bunda tidak perlu khawatir. Tunggu sampai kondisi fisik kembali, pelajari cara merawat bayi baru lahir, dan Bunda bisa mengembalikan bentuk tubuh setelahnya.

 

  1. Davis, Nicole. 2019. 5 Pelvic Floor Exercises for Women. https://www.healthline.com/health/fitness-exercise/pelvic-floor-exercises. (Diakses pada 25 November 2020). 
  2. Miller, Korin. 2019. 9 Ways Your Vagina Might Change After You Give Birth. https://www.self.com/story/vagina-changes-after-birth. (Diakses pada 25 November 2020). 
  3. NHS. 2018. Vagina changes after childbirth. https://www.nhs.uk/live-well/sexual-health/vagina-changes-after-childbirth/#:~:text. (Diakses pada 25 November 2020). 


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi