Terbit: 6 Februari 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Hati adalah salah satu organ tubuh yang memiliki fungsi penting yaitu untuk memproses nutrisi, memproduksi protein, mencegah infeksi dalam tubuh, dll. Dalam kondisi hati yang rusak parah, dokter mungkin akan menyarankan transplantasi hati. Ketahui apa itu transplantasi hati, prosedur, jenis, cara mendapatkan donor hati, dll.

Transplantasi Hati: Jenis, Prosedur, Tahap, Biaya, dll

Apa Itu Transplantasi Hati?

Transplantasi hati adalah prosedur pembedahan untuk mengangkat dan mengganti hati yang rusak serta tidak berfungsi secara memadai dengan hati baru yang sehat dari pendonor, baik organ hati dari pendonor yang sudah meninggal atau dari organ hati pendonor yang masih hidup.

Transplantasi hati adalah pilihan pengobatan terakhir untuk pasien dengan komplikasi penyakit hati kronis stadium akhir yang tidak dapat diobati dengan obat atau perawatan lainnya.

Transplantasi hati dapat menyelamatkan hidup pasien saat kondisi hati mereka tidak lagi bekerja dengan baik. Kondisi hati yang sehat sangat dibutuhkan karena hati memegang peranan esensial dalam menjaga fungsi kerja tubuh seperti mengatasi bakteri dan racun dari darah, mencegah infeksi, mengelola nutrisi, dll.

Jenis Transplantasi Hati

Terdapat dua jenis cangkok hati, yaitu transplantasi organ dari donor hidup dan donor dari pendonor yang sudah meninggal.

1. Donor Hidup

Donor hidup adalah donor organ dari pendonor yang masih hidup. Biasanya, donor hidup adalah pilihan utama penderita penyakit liver stadium akhir.

Donor hidup umumnya berasal dari keluarga, teman, atau kerabat sedarah. Pendonor harus melakukan serangkaian persiapan untuk memastikan bahwa organ cocok dengan pasien, meliputi golongan darah, ukuran tubuh, dan kondisi medis lainnya. Sementara pasien mungkin harus mencari sampai ada transplantasi donor hidup yang sesuai dengan kondisinya.

2. Donor yang Sudah Meninggal

Transplantasi juga dapat dilakukan dari organ yang didapat dari orang yang sudah meninggal, dimana keluarga dari orang yang sudah meninggal tersebut sudah menyetujui untuk mendonorkan organ yang masih berfungsi ke pasien yang membutuhkan.

Pendonor sudah meninggal dimana otaknya sudah berhenti bekerja, namun jantungnya masih berfungsi. Donor diletakan di mesin pernapasan agar tetap bekerja atau berdetak di unit perawatan intensif selama transplantasi dilakukan.

Berdasarkan data di tahun 2013, 96% cangkok hati dilakukan dengan donor orang yang sudah meninggal dan hanya 4% yang menggunakan donor hidup. Kedua jenis transplantasi tersebut harus melalui berbagai tes dan pemeriksaan untuk menentukan apakah pasien cocok untuk melakukan transplantasi dan apakah organ yang dibutuhkan cocok dengan kondisi pasien.

Siapa yang Butuh Transplantasi Hati?

Dokter akan merekomendasikan pasien untuk melakukan transplantasi hati apabila kondisi pasien penyakit hati stadium akhir sudah sangat membahayakan jiwa dan tidak ada pilihan perawatan lain untuk menolong kondisi tersebut.

Transplantasi hati juga disarankan untuk pasien kanker hati, gagal hati, atau sirosis akut yang tidak dapat diobati dengan cara lain.

Berikut ini adalah beberapa penyebab sirosis atau kerusakan organ hati akibat penyakit liver berkepanjangan dan menyebabkan jaringan parut yang mungkin membutuhkan transplantasi hati, yaitu:

  • Hepatitis B dan C.
  • Penyakit liver alkoholik, kerusakan organ hati akibat konsumsi alkohol berkepanjangan.
  • Penyakit hati berlemak non alkohol, kerusakan hati akibat penumpukan lemak di hati.
  • Penyakit genetik terkait kondisi hati seperti hemochromatosis dan penyakit Wilson.
  • Penyakit terkait empedu seperti sirosis bilier primer, kolangitis sklerosis primer, dan atresia bilier.
  • Kanker hati tertentu yang berefek pada ketidakmampuan hati bekerja dengan maksimal.
  • Penyakit liver stadium akhir.
  • Gagal hati akut akibat komplikasi dari efek samping obat-obatan tertentu.

Umumnya, pasien telah menjalani berbagai metode pengobatan dan perawatan untuk mengatasi kondisi yang diderita. Apabila tidak memungkinkan lagi, dokter akan menyarankan transplantasi organ juga dengan mempertimbangkan beberapa faktor, termasuk:

  • Tingkat keparahan penyakit.
  • Kondisi medis atau komplikasi penyakit lain yang mungkin dimiliki.
  • Riwayat penyakit pasien seperti TBC atau infeksi kronis.
  • Kondisi kesehatan fisik secara keseluruhan.
  • Kondisi kesehatan mental pasien.
  • Faktor luar seperti dukungan keluarga dan perawatan lanjutan.

Bahkan sebelum menyarankan untuk transplantasi organ, dokter akan menganalisis apakah cangkok hati akan memperbaiki kondisi pasien dan berapa besar tingkat keberhasilan yang mungkin dicapai.

Transplantasi organ adalah prosedur operasi besar yang membutuhkan banyak persiapan dan pertimbangan. Apabila pasien memiliki komplikasi penyakit serius lainnya yang akan mengurangi peluang keberhasilan transplantasi organ, maka pasien tersebut tidak dianjurkan untuk melakukan transplantasi organ.

Baca Juga: Penyakit Hati: Pengertian, Jenis-Jenis, dan Cara Pencegahannya

Prosedur Transplantasi Hati

Transplantasi organ membutuhkan serangkaian prosedur medis yang dipersiapkan dengan detail dan umumnya memakan waktu yang cukup lama sebelum hingga transplantasi selesai dilakukan. Berikut ini adalah prosedur cangkok hati, yaitu:

1. Sebelum Operasi

Sebelum operasi, Anda disarankan untuk berkonsultasi dengan berbagai spesialis, seperti spesialis hati, spesialis  bedah transplantasi, koordinator transplantasi, psikiater, spesialis yang mengatasi ketergantungan bahan kimia, spesialis anestesi, hingga konselor keuangan karena biaya transplantasi yang sangat tinggi.

Ini dibutuhkan untuk menganalisis apakah Anda sesuai dengan kandidat pasien yang harus melakukan transplantasi dan kesiapan serta kondisi Anda dalam beberapa penting faktor tersebut.

Anda juga akan menjalani beberapa pemeriksaan seperti, sinar-X, biopsi hati, ekokardiogram, tes fungsi paru, tes darah, serta evaluasi medis keseluruhan. Apabila ada kondisi medis lainnya, pemeriksaan tambahan mungkin dibutuhkan.

Setelahnya, pihak rumah sakit akan mencatat dan memasukan Anda dalam daftar tunggu transplantasi organ untuk mencari donor yang cocok dengan Anda.

2. Prosedur Saat Operasi

Selama operasi, ahli bedah menggunakan alat medis pendukung agar tubuh Anda tetap bekerja dengan baik selama dan setelah beberapa hari pasca operasi. Ahli beda akan mengangkat jaringan hati yang rusak dan seluruh organ, lalu menggantinya dengan hati donor. Operasi ini dilakukan selama 6-12 jam.

3. Perawatan Pasca Operasi

Pasien membutuhkan sekitar 2-3 minggu perawatan di rumah sakit pasca operasi, atau lebih cepat tergantung pada tingkat kesembuhan pasien.

Dokter akan memantau apakah transisi organ baru di tubuh pasien sempurna dan dapat bekerja dengan baik. Dokter juga akan memberi panduan lengkap tentang kondisi dan perawatan kesehatan setelah operasi.

Anda juga harus meminum beberapa jenis obat, khususnya obat anti-rejection atau disebut juga dengan imunosupresan. Imunosupresan adalah obat untuk membantu agar tubuh Anda tidak menolak organ baru yang dicangkok dan agar organ tersebut dapat berfungsi dengan baik. Pasien transplantasi organ umumnya baru benar-benar pulih dalam 3-6 bulan.

Tahap Mencari Donor untuk Cangkok Hati

Pasien harus mencari pendonor dengan organ yang cocok. Anda dapat berkonsultasi ke pusat transplantasi di luar rumah sakit tempat Anda berobat. Anda juga harus berkonsultasi tentang biaya dan waktu yang dibutuhkan secara keseluruhan.

Berikut ini adalah tahap mencari donor, yaitu:

1. Tahap Skrining

Pihak rumah sakit akan menganalisis dan memeriksa semua pendonor organ yang mungkin cocok dengan Anda. Sementara pendonor akan melalui serangkaian tes seperti golongan darah, usia, ras, ukuran tubuh, serta beberapa tes seperti uji hepatitis, HIV, dan berbagai infeksi lainnya.

Apabila Anda yang memiliki potensial donor yang tepat dengan Anda, pihak rumah sakit akan menghubungi Anda.

2. Menunggu Donor

Anda masuk ke dalam daftar tunggu setelah serangkaian pemeriksaan tersebut. Mengingat banyak kandidat yang menunggu donor, tim dokter akan mengukur skor prioritas pasien berdasarkan tiga tes darah yaitu tes kreatinin, bilirubin, dan INR.

Pasien dengan urgensi paling tinggi akan menerima transplantasi lebih awal setelah menemukan donor yang cocok. Selama menunggu, pasien harus tetap menjaga pola makan dan gaya hidup sehat, serta perawatan dengan obat-obatan tertentu.

3. Menemukan Donor yang Cocok

Tim koordinator transplantasi akan menghubungi Anda apabila mereka menemukan donor yang cocok. Anda akan melakukan serangkaian tes tambahan seperti rontgen dada, tes darah, dll.

Apabila donor sesuai, maka proses dilanjutkan ke proses transplantasi. Bila tidak, Anda harus menunggu lagi karena transplantasi hanya dapat dilakukan dengan donor dan kondisi yang tepat.

Baca Juga: Penyakit Liver: Penyebab, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan

Risiko dan Efek Samping Transplantasi Hati

Berikut ini adalah kemungkinan komplikasi pasca cangkok hati, yaitu:

1. Penolakan

Sistem imun di tubuh Anda mungkin berpikir bahwa cangkok hati yang baru adalah benda asing yang harus dihancurkan sehingga sistem imun menyerang organ baru tersebut dan terjadilah penolakan organ.

Berdasarkan data, 64% pasien memiliki risiko penolakan organ dalam 90 hari pertama, karena itulah obat anti-rejection sangat diperlukan.

2. Infeksi

Infeksi mungkin terjadi karena pengaruh obat anti-rejection imunosupresan. Obat Imunosupresan bekerja dengan cara menekan sistem imun agar tidak menghancurkan organ baru. Efeknya adalah sistem imun menjadi lemah dan infeksi pun mungkin terjadi.

Biaya Transplantasi Hati

Berapa biaya transplantasi hati? Transplantasi organ membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Estimasi biaya transplantasi hati adalah lebih dari 500 juta. Ini tergantung pada tingkat keparahan penyakit dan fasilitas serta perawatan dari rumah sakit.

Anda mungkin harus bertanya seputar penggunaan asuransi kesehatan yang dapat digunakan untuk biaya transplantasi organ.

Tips Sehat Pasca Transplantasi Hati

Berikut ini adalah tips untuk pasien pasca cangkok hati, yaitu:

  • Jangan merokok dan minum alkohol.
  • Makan buah dan sayur setiap hari.
  • Pastikan mencukupi nutrisi harian.
  • Jaga berat badan.
  • Minum air putih yang cukup.
  • Olahraga teratur.

Jaga pola hidup dan pola makan sehat. Anda mungkin harus melakukan pemeriksaan medis rutin untuk memantau kondisi liver dan kesehatan secara umum.

Transplantasi hati adalah prosedur medis yang dilakukan untuk menyelamatkan hidup pasien dari penyakit hati kronis yang tidak dapat ditangani dengan pilihan pengobatan lain.

 

  1. Cherney, Kristeen dan Rachel Nall. 2018. The Facts About Liver Transplant. https://www.healthline.com/health/liver-transplant-survival. (Diakses pada 6 Februari 2020).
  2. Huizen, Jennifer. 2018. How long will I survive after a liver transplant?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321754.php. (Diakses pada 6 Februari 2020).
  3. MayoClinic. 2018. Liver transplant. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/liver-transplant/about/pac-20384842. (Diakses pada 6 Februari 2020).
  4. Web MD. 2018. Liver Transplantation. https://www.webmd.com/hepatitis/digestive-diseases-liver-transplantation#1. (Diakses pada 6 Februari 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi