Terbit: 3 April 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Adrian Setiaji

Tortikolis adalah gangguan pada otot leher yang menyebabkan kepala miring ke bawah. Kondisi dapat terlihat ketika anak mengalami kesulitan memutar ke sisi yang berlawanan. Jika bayi Anda memiliki kondisi ini saat lahir, hal itu disebut tortikolis otot kongenital (tipe yang paling umum). Sementara jika terjadi setelah lahir, hal itu disebut ‘acquired‘ bukan bawaan, kondisi yang dikaitkan dengan masalah medis yang lebih serius. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Tortikolis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Tortikolis?

Kata tortikolis sendiri berasal dua kata dasar latin ‘tortus‘ dan ‘collum‘ yang jika digabungkan memiliki arti ‘twisted neck’ atau ‘leher bengkok’. Kondisi ini kadang-kadang disebut wryneck dan lebih umum terjadi pada anak-anak. Secara umum, kondisi ini diklasifikasikan sebagai bawaan atau setelah lahir (terjadi kemudian pada masa anak-anak).

Gejala Tortikolis

Pada beberapa kasus, orang tua mungkin tidak bisa melihat gejala yang muncul selama 6 sampai 8 minggu pertama kehidupan. Biasanya gejala menjadi jelas begitu bayi mulai bisa mengambil kendali kepala atau leher. Beberapa gejala yang bisa terjadi, antara lain:

  • Kepala anak miring ke satu sisi dengan dagu menunjuk ke bahu yang berlawanan. Sekitar 75% bayi dengan tortikolis, bagian kanannya yang terpengaruh.
  • Kepala sulit berputar ke samping, atas, dan bawah
  • Benjolan lunak di otot leher bayi. Ini adalah kondisi yang tidak berbahaya dan biasanya hilang dalam 6 bulan.
  • Matanya sulit untuk mengikuti objek, hal itu disebabkan karena kepalanya juga harus ikut memutar untuk mengikuti suatu objek.
  • Kesulitan menyusui di satu sisi atau lebih suka menyusui di satu sisi saja.
  • Seorang anak terlihat bekerja keras untuk menggerakkan kepala dan menjadi kesal karena gerakannya terbatas.
  • Kepala rata di satu sisi atau kedua sisi akibat berbaring di satu posisi terlalu lama. Kondisi ini disebut ‘positional plagiocephaly‘.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Jika Anda melihat tanda dan gejala seperti di atas, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Meski begitu, sebagian besar bayi dengan tortikolis tidak memiliki masalah medis lainnya. Pada kasus yang jarang terjadi, kondisi ini dikaitkan dengan infeksi, patah tulang, reaksi alergi terhadap obat-obatan, atau kondisi genetik seperti sindrom Down atau sindrom Klippel-Feil (kelainan tulang langka pada leher).

Penyebab Tortikolis

Penyebab tortikolis bawaan sejak lahir tidak diketahui pasti, namun kondisi ini mungkin terkait dengan posisi abnormal (posisi sungsang) atau ‘kesesakan’ saat berada di dalam rahim. Hal ini menyebabkan cedera pada otot leher (sternocleidomastoid) yang meninggalkan luka saat sembuh. Jumlah bekas luka di otot menentukan seberapa ketat otot itu. Selain itu, kondisi ini juga bisa terjadi pada wanita yang mengalami displasia pinggul.

Setelah Lahir

Jika anak mengalami tortikolis setelah lahir, penyebabnya sangat bervariasi dan memiliki tingkat keparahan mulai dari jinak hingga yang sangat serius. Beberapa penyebab tersebut, antara lain:

  • Infeksi ringan (biasanya virus)
  • Trauma ringan pada kepala dan leher
  • Gastroesophageal reflux disease (GERD)
  • Infeksi pernapasan dan jaringan lunak pada leher
  • Kelainan pada tulang belakang leher (seperti atlantoaxial subluxation)
  • Masalah penglihatan (ocular torticollis)
  • Reaksi abnormal terhadap obat-obatan tertentu (dystonic reaction)
  • Spasmus nutans (kondisi jinak biasanya menyebabkan kepala terayun bersama dengan gerakan mata yang tidak terkontrol)
  • Sindrom Sandifer (gabungan dari GERD dengan kejang di leher)

Diagnosis Tortikolis

Ketika seorang anak dicurigai memiliki tortikolis dengan kelainan kerangka yang mendasarinya, pencitraan X-ray atau magnetic resonance imaging (MRI) diperlukan untuk mengonfirmasi diagnosis. Selain itu, dokter juga mungkin melakukan pemeriksaan fisik dan neurologis lengkap untuk menentukan jenisnya.

Pengobatan Tortikolis

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan orang tua adalah apakah tortikolis bisa sembuh? Jawabannya adalah bisa. Pada dasarnya perawatan yang umum dilakukan adalah bedah dan non-bedah.

  • Perawatan Non-bedah

Perawatan standar untuk kondisi bawaan terdiri dari program latihan untuk meregangkan otot sternocleidomastoid. Terapi tortikolis termasuk memutar leher bayi ke salah satu sisi sehingga dagu menyentuh setiap bahu. Kemudian memiringkan kepala dengan lembut hingga telinga menyentuh bahu.

Latihan-latihan ini harus dilakukan beberapa kali sehari. Dokter atau terapis fisik akan mengajarkan cara melakukan latihan ini.

  • Perawatan Bedah

Jika opsi non-bedah tidak memperbaiki tortikolis, dokter mungkin menyarankan operasi. Sekitar 10% anak dengan kondisi bawaan memerlukan operasi. Operasi memperpanjang otot sternocleidomastoid biasanya dijadwalkan setelah anak mencapai usia prasekolah. Prosedur ini dapat dilakukan sebagai operasi rawat jalan, artinya anak Anda bisa pulang pada hari yang sama usai operasi.

Pencegahan Tortikolis

Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah tortikolis, antara lain:

  • Cobalah untuk sering melakukan tummy time atau latihan tengkurap, setidaknya tiga kali sehari. Cara ini akan memperkuat otot leher, lengan, perut, dan punggungnya.
  • Ubah posisi bayi sesering mungkin ketika anak bangun.
  • Batasi jumlah waktu bayi Anda beristirahat di car seat, kursi goyang, atau ayunan bayi.

 

 

  1. What Is Torticollis?. https://www.webmd.com/parenting/baby/what-is-torticollis#1. (Diakses pada 3 April 2020).
  2. Congenital Muscular Torticollis (Twisted Neck). https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases–conditions/congenital-muscular-torticollis-twisted-neck. (Diakses pada 3 April 2020).
  3. Torticollis. http://www.childrenshospital.org/conditions-and-treatments/conditions/t/torticollis. (Diakses pada 3 April 2020).
  4. 5 Must-Know Points About Infantile Torticollis. https://blog.cincinnatichildrens.org/healthy-living/child-development-and-behavior/6-must-know-points-about-infantile-torticollis. (Diakses pada 3 April 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi