Terbit: 19 Mei 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Thalassophobia adalah ketakutan berlebihan saat melihat laut atau perairan yang luas lainnya. Jika tidak diobati, phobia ini akan sangat membatasi aktivitas penderitanya. Simak penjelasan selengkapnya mulai dari definisi, penyebab, hingga cara mengatasinya.

Thalassophobia (Takut Laut), Ketahui Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Thalassophobia?

Thalassophobia adalah rasa takut yang berlebihan terhadap laut, samudera, atau perairan lainnya yang luas dan dalam, atau mungkin juga takut makhluk di dalamnya. Bagi orang yang memiliki phobia ini, lautan akan tampak menyeramkan dan berbahaya.

Salah satu jenis phobia ini dapat menyebabkan gejala dari yang ringan hingga parah. Beberapa orang mungkin merasa sedikit takut pada laut yang dalam, sementara yang lain mungkin merasa panik ketika melihat laut, gambar laut, atau bahkan hanya memikirkan laut.

Tanda dan Gejala Thalassophobia

Fobia ini memiliki gejala yang sama dengan fobia spesifik, seperti klaustrofobia (takut tempat tertutup). Karakteristik utama fobia laut, dibandingkan dengan fobia lain dan gangguan kecemasan lainnya, adalah bahwa gejala ini dipicu saat melihat perairan yang dalam.

Gejala yang menandakan thalassophobia, meliputi:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

  • Gemetar.
  • Pusing.
  • Sakit kepala ringan.
  • Berkeringat.
  • Mual
  • Mulut kering.
  • Meningkatnya detak jantung atau berdebar.
  • Kesulitan bernapas (termasuk hiperventilasi).
  • Nyeri dada.

Tanda dan gejala emosional dari fobia laut, termasuk:

  • Perasaan cemas, panik, dan khawatir.
  • Gugup.
  • Memiliki rasa akan mengalami musibah. 
  • Keinginan menjauh dari orang lain.
  • Perasaan kewalahan.
  • Ketakutan akan kematian.
  • Takut kehilangan kendali.
  • Konsentrasi yang buruk dan kesulitan mengambil keputusan
  • Ketidakmampuan untuk duduk dan diam.

Penyebab Thalassophobia

Penyebab fobia ini tidak sepenuhnya dapat dipahami, dan mungkin berbeda pada setiap penderitanya. Ini diyakini terjadi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan, atau faktor lainnya.

Berikut ini beberapa faktor yang menjadi penyebab thalassophobia:

1. Genetika

Memiliki keluarga dengan riwayat kecemasan dan fobia terhadap perairan yang dalam dapat meningkatkan risiko mengalami jenis fobia ini. Ini tampaknya ada komponen genetik yang tidak teridentifikasi untuk fobia spesifik.

Nenek moyang juga takut pada perairan dalam, dan kemungkinan besar waspada terhadap bahaya perairan dalam mungkin berumur lebih lama untuk mewariskan gen mereka. Teori ini didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa fobia spesifik bisa diwariskan.

2. Peristiwa Traumatis

Fobia laut juga dapat terjadi akibat peristiwa traumatis. Misalnya pengalaman katika masa kanak-kanak yang hampir tenggelam, melihat serangan hiu, tidak pernah belajar berenang, atau bahkan mendengar cerita kisah-kisah menakutkan tentang lautan yang mungkin dapat memicu fobia laut.

3. Mendengar Cerita

Selain mengalami atau mencermati situasi menakutkan, beberapa orang dapat merasakan fobia mereka berkembang dari cerita orang lain. Jika orang tua atau orang dewasa bercerita kepada anak tentang bahaya perairan yang dalam, seiring waktu anak tersebut bisa menjadi fobia.

4. Pola Asuh

Anak dengan pengasuh yang memiliki fobia laut dapat meningkatkan risiko ketakutan yang sama pada anak. Berdasarkan pengamatan, seiring waktu atau dalam jangka waktu yang lama ini menjadi faktor anak mengembangkan fobia terhadap perairan yang dalam.  

5. Fungsi Otak

Para peneliti sedang menyelidiki bagaimana gangguan kecemasan memengaruhi otak seseorang dan cara otak memengaruhi gangguan kecemasan.

Fobia laut akan lebih mudah berkembang ketika bagian otak untuk merespons rasa takut belum berkembang baik. Hal ini membuat rasa takut menanggapi secara spontan dan menimbulkan reaksi yang tidak masuk akal saat melihat laut atau hanya sekadar membayangkannya.

Baca Juga: Aquaphobia (Fobia Air): Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dll

Cara Mengatasi Thalassophobia

Perawatan fobia biasanya melibatkan terapi. Seseorang dengan thalassophobia mungkin mendapat manfaat dari beberapa jenis, termasuk:

1. Terapi Perilaku Kognitif

Cognitive behavioral therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif  adalah jenis terapi bicara. Tujuannya adalah untuk membantu seseorang mengubah pola pikirnya yang sebelumnya negatif menjadi positif terhadap laut. 

Seorang terapis CBT dapat membantu orang fobia laut belajar mengidentifikasi pikiran cemas tentang laut dan memahami bagaimana pikiran tersebut memengaruhi emosi, gejala fisik, dan perilakunya.

Seiring waktu, CBT bisa membantu orang mempertanyakan apakah pola pikir atau perilakunya membantu, realistis, atau sesuai untuk situasi saat ini. Hal ini dapat membantu orang tersebut mengubah responsnya terhadap pemicu fobia, sehingga mengurangi kecemasannya.

2. Terapi Exposure

Terapi ini mengharuskan orang dengan fobia laut melakukan kontak dekat dengan hal-hal atau situasi yang membuatnya merasa takut. Terkadang, kontak ini hanya dengan dibayangkan.

Tujuan terapi exposure untuk membuktikan bahwa sesuatu yang dia takuti tidaklah berbahaya. Terapi ini juga dapat membantunya merasa lebih percaya diri dengan kemampuannya dalam menghadapi situasi yang dia takuti.

Selama terapi, seorang terapis akan membantu seseorang menghadapi ketakutannya di lingkungan yang aman dan terkendali.

3. Obat-obatan

Kebanyakan orang yang melakukan terapi dapat menghilangkan gejala thalassophobia sepenuhnya. Namun, bagi orang lain mungkin masih memerlukan kombinasi terapi dan obat-obatan untuk mengatasi kondisinya.

Psikiater atau dokter mungkin akan meresepkan obat untuk membantu proses pengobatan. Obat yang biasa digunakan adalah antidepresan. Golongan obat ini untuk mengobati sejumlah gangguan depresi.

Dokter secara teratur akan menganjurkan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) atau serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs). Obat-obatan ini membantu mengontrol bahan kimia otak untuk menghasilkan efek antidepresan, dan juga membantu mengurangi gejala fobia.

Beberapa obat-oabtan dari SSRIs dan SNRIs, meliputi:

  • Citalopram
  • Escitalopram
  • Fluoxetine
  • Paroxetine
  • Sertraline
  • Desvenlafaxine
  • Duloxetine
  • Levomilnacipran
  • Venlafaxine

Baca Juga: Fobia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Komplikasi

Meskipun thalassophobia mungkin terdengar unik bagi sebagian orang, tetapi jenis fobia ini dapat membuat hidupnya sulit, bahkan bagi bagi orang di sekitarnya. Komplikasi ini pada akhirnya dapat berdampak pada banyak aspek kehidupan seseorang.

Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi, meliputi:

  • Serangan panik (panic attack). Serangan panik ditandai dengan perasaan takut yang muncul secara tiba-tiba dan intens, disertai gejala fisik dan psikologis seperti nyeri dada, perasaan tercekik, mati rasa, perasaan tidak nyata, dan ketakutan akan kematian.
  • Kesepian dan isolasi sosial. Gejala kecemasan dan ketakutan menderita serangan panik terkadang membuat orang menghindari situasi atau objek yang membuatnya takut. Hal ini menyebabkan seseorang menghindari kontak sosial dan pada akhirnya akan merasa kesepian.
  • Depresi. Penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan fobia laut juga terkadang mengalami perubahan suasana hati (mood) atau gejala depresi.
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan alkohol. Untuk mengatasi gejala kecemasan, orang dengan fobia laut terkadang menyalahgunakan obat-obatan terlarang dan minum alkohol.

 

  1. Anonim. 2020. Thalassophobia: Signs, Symptoms, & Treatments. https://www.choosingtherapy.com/thalassophobia/ (Diakses pada 19 Mei 2021)
  2. Bence, Sarah.  2021. What Is Thalassophobia?. https://www.verywellhealth.com/thalassophobia-5093770 9 (Diakses pada 19 Mei 2021)
  3. Cherry, Kendra. 2020. Coping With the Fear of the Ocean. https://www.verywellmind.com/thalassophobia-fear-of-the-ocean-4692301 (Diakses pada 19 Mei 2021)
  4. Zoppi, Lois. 2020. Causes and treatments for thalassophobia. https://www.medicalnewstoday.com/articles/thalassophobia (Diakses pada 19 Mei 2021)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi