Makan Mie Instan Setiap Malam, Mahasiswa Taiwan Meninggal

mie_goreng_instan_doktersehat_3
Photo Source: Flickr/Valentin Janiaut

DokterSehat.Com– Meski memiliki rasa yang enak, mengenyangkan, mudah dibuat, dan berharga murah, sudah menjadi rahasia umum jika mie instan termasuk dalam makanan yang paling tidak baik untuk kesehatan tubuh kita.

Selain tinggi akan kandungan sodium, mie instan juga rendah gizi sehingga jika terlalu sering mengonsumsinya kita pun berisiko mendatangkan berbagai macam penyakit. Sayangnya, hal ini tidak diperhatikan oleh seorang mahasiswa berusia 18 tahun dari Taiwan.

Dilansir dari World off Buzz, mahasiswa ini setiap malam mengonsumsi mie instan sejak duduk di bangku SMA. Diduga, kebiasaan inilah yang membuatnya diserang kanker perut yang akhirnya menghilangkan nyawanya.

Setelah lulus dari SMA dan masuk kuliah, mahasiswa berjenis kelamin pria ini mulai merasakan masalah kesehatan di tubuhnya seperti perut kembung, sering mual, dan nyeri perut. Awalnya, gejala-gejala ini dibiarkan saja karena dianggap sebagai sesuatu yang tidak berbahaya, namun lama kelamaan gejalanya semakin parah sehingga membuat keluarganya khawatir.

Setelah dibawa ke rumah sakit, sang mahasiswa dan keluarganya terkejut tatkala dokter justru mendiagnosisnya dengan kanker perut. Bahkan, kanker ini sudah berada di stadium akhir yang berarti sulit untuk disembuhkan dan besar kemungkinan membuat usianya tidak lama lagi. Dalam realitanya, kanker ini memang terus menggerogoti tubuh sang mahasiwa. Hanya sekitar lebih dari setahun setelah didiagnosis terkena kanker, sang mahasiswa akhirnya meninggal dunia.

Pakar kesehatan menyebutkan bahwa mie instan bersama dengan sosis dan daging asap termasuk dalam bahan makanan yang berpotensi bisa memicu datangnya penyakit berbahaya seperti kanker sehingga sebaiknya kita hindari.

Sementara itu, untuk kanker perut, penyakit ini memang cenderung tidak menunjukkan gejala awal yang jelas. Sebagai contoh, jika penderitanya sering mengalami mual-mual, kembung, atau kenaikan asam lambung, kebanyakan dari mereka hanya berpikir jika hal ini disebabkan oleh maag atau gastritis.

Gejala lain yang akan muncul adalah penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, nyeri pada perut dan sensasi terbakar pada dada. Menurut sebuah penelitian, 80 persen penderita penyakit ini baru menyadari kondisinya tatkala sudah berada di tahap akhir.