Terbit: 1 Agustus 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Pasangan yang sedang menjalani promil atau program kehamilan tidak hanya disarankan untuk mengonsumsi makanan yang bergizi saja agar kesuburannya meningkat. Mereka juga disarankan untuk melakukan tes kesehatan khususnya pada wanita untuk memperlancar proses kehamilan dan menurunkan risiko bayi cacat.

5 Jenis Tes Kesehatan yang Harus Dilakukan Wanita Sebelum Hamil

Kalau pasangan ingin memulai program kehamilan dengan lancar mulai dari proses pembuahan hingga kelahiran ada baiknya melakukan beberapa tes kesehatan di bawah ini. Masing-masing tes kesehatan memiliki kelebihan sendiri-sendiri sehingga Anda bisa mendapatkan semua manfaatnya.

  1. Tes gula darah di dalam tubuh

Gula darah dari wanita harus stabil selama hamil sehingga kondisi diabetes atau pradiabetes sangat diwaspadai. Sebelum melakukan program kehamilan, wanita harus mengecek gula darahnya secara berkala agar dokter bisa memberikan saran tentang cara menurunkan kadar gula untuk memperlancar kehamilan.

Kalau selama kehamilan wanita sering mengalami kenaikan gula darah dan susah dikontrol, risiko bayi lahir tidak normal akan tinggi. Peluang wanita melakukan persalinan secara Caesar akan tinggi. Selain itu, kemungkinan anak lahir dengan gula darah rendah dan bayi lahir mati semakin tinggi.

Pengecekan gula darah akan membuat wanita lebih waspada. Kalau ada kondisi yang mengarah ke diabetes, mereka bisa mengatasinya sesegera mungkin.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

  1. Tes darah untuk penyakit atau kelainan genetis

Setiap orang memiliki gen yang membawa beberapa kondisi tertentu misal penyakit yang diturunkan dari generasi ke generasi. Penyakit genetis ini mungkin bisa diatasi dengan baik, tapi tidak sedikit pula yang dampaknya cukup besar sehingga bisa mengganggu anak kalau mulai tumbuh besar.

Pengecekan ini dilakukan untuk menghindari penyakit-penyakit yang tidak diinginkan menimpa bayi. Kalau pasangan memiliki penyakit atau membawa gen penyakit yang berbahaya dan susah diatasi, salah satu cara untuk mendapatkan kehamilan adalah dengan program bayi tabung, Program ini dilakukan untuk melakukan pengetesan embrio.

  1. Tes fungsi kelenjar tiroid

Masalah kelenjar tiroid pada ibu juga memengaruhi janin yang dikandungnya. Apabila wanita mengalami gangguan hipotiroid atau kelenjar yang terlalu sedikit pertumbuhan bayi di janin tidak akan normal. Peluang bayi mengalami gangguan kesehatan saat dilahirkan akan sangat besar.

Hampir sama dengan kondisi hipotiroid, wanita yang mengalami hipertiroid juga berisiko memiliki kandungan yang tidak sehat. Bayi yang dikandungnya berisiko mengalami pembesaran tiroid saat lahir. Tes untuk tiroid ini juga bisa digunakan untuk mendeteksi kemungkinan penyakit seperti hepatitis atau sifilis menular ke janin.

  1. Pap smear

Wanita yang sudah aktif secara seksual memiliki risiko terinfeksi HPV. Infeksi ini bisa menyebabkan banyak sekali gangguan mulai dari munculnya kutil kelamin dan kalau sudah parah bisa menyebabkan kanker serviks. Kanker ini bisa tumbuh di leher rahim dan berpotensi ganggu kehamilan dan kesehatan ibu.

Pap smear dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan pada vagina. Kalau ada gangguan dan bersifat kanker, penanganan seperti biopsi harus dilakukan sebelum terjadi kehamilan.

  1. Cek ada atau tidaknya penyakit menular seksual

Wanita yang sehat tidak akan memiliki gangguan pada sistem seksual dan reproduksinya. Sebelum mendapatkan kehamilan ada baiknya untuk melakukan tes penyakit kelamin. Kalau ada penyakit apa pun jenisnya, penyembuhan harus segera dilakukan agar peluang terjadi kehamilan sehat tinggi.

Kalau saat hamil terdapat penyakit kelamin yang berbahaya, kemungkinan bayi tertular cukup tinggi. Selain itu kesehatan bayi hingga kelahiran prematur bisa saja terjadi.

Nah, meski sebelum menikah pasangan akan sama-sama melakukan cek kesehatan, tidak ada salahnya melakukan tes lagi agar kehamilan yang direncanakan berjalan lancar.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi