Terbit: 21 April 2019
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Pembahasan tentang keperawanan masih merupakan hal yang tabu di Indonesia, begitu juga tentunya dengan tes keperawanan. Bahkan tes keperawanan dapat dikatakan sebagai hal kontroversial hampir di seluruh negara di dunia. Bagaimanakah sebenarnya tes keperawanan dalam medis? Simak ulasannya dalam artikel ini!

Tes Keperawanan, Adakah dalam Dunia Medis?

Apa Itu Tes Keperawanan?

Tes keperawanan sering juga disebut dengan pemeriksaan selaput dara (hymen) atau pemeriksaan per vaginal. Keperawanan diartikan sebagai kondisi di mana wanita belum pernah melakukan hubungan seksual penis-vagina intercourse.

Tes keperawanan merupakan pemeriksaan alat kelamin wanita yang dilakukan untuk menentukan apakah seorang wanita telah melakukan hubungan seks intercourse tersebut. Tes ini dilakukan dengan cara memeriksakan kondisi selaput dara atau hymen.

Namun, benarkah hymen dapat menjadi penentu keperawanan seseorang atau tidak?

Apa Itu Hymen atau Selaput Dara?

Selaput dara atau hymen merupakan lipatan tipis dari jaringan lendir yang terletak 1-2 cm dari lubang vagina. Hymen mengelilingi atau bahkan menutupi pembukaan vagina sepenuhnya. Hymen biasanya berwarna merah muda, tapi dapat juga terlihat berwarna keputihan.

Hymen biasanya akan menebal dan bertambah lebar ketika seorang perempuan memasuki masa pubertas dan mulai memproduksi hormon estrogen. Selaput dara pada setiap wanita dapat memiliki bentuk yang berbeda-beda. Keberadaan hymen pada tubuh wanita ini tidak memiliki fungsi yang spesifik.

hymen yang masih utuh dianggap sebagai tanda wanita masih perawan. Namun pada dasarnya pemeriksaan ini tidak memiliki manfaat secara ilmiah atau indikasi klinis. Kondisi selaput dara juga tidak dapat menjadi patokan apakah seseorang telah melakukan hubungan seksual penis-vagina intercourse atau belum.

Robekan pada hymen tidak selalu diakibatkan oleh hubungan seksual intercourse. Robekan ini juga dapat terjadi ketika melakukan olahraga seperti bersepeda, menunggang kuda, atau senam. Selain itu, beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan selaput dara robek adalah seperti penggunaan tampon, penggunaan spekulum pada pemeriksaan ginekologis, penyisipan jari, dan masturbasi.

Di sisi lain, pendarahan yang terjadi pada saat melakukan seksual intercourse juga tidak selalu menandakan robeknya hymen, tapi dapat juga disebabkan oleh faktor lainnya.

Selain kondisi di atas yang dapat menyebabkan selaput dara robek. Perlu diketahui juga, meskipun jarang, namun terdapat juga perempuan yang dilahirkan tanpa selaput dara.

Seseorang juga dapat mendapatkan hymen kembali meskipun sudah kehilangan hymen. Terdapat prosedur operasi untuk merekonstruksi hymen dan juga pemasangan hymen buatan.

Jadi, dapat dikatakan bahwa pernah atau tidaknya seseorang melakukan hubungan seksual intercourse tidak dapat diukur dengan keutuhan hymen.

Adakah Tes Keperawanan dalam Medis?

Pemeriksaan hymen atau selaput dara memang tidak dapat dihubungkan dengan konsep keperawanan yang dikenal oleh masyarakat. Meskipun begitu, dalam medis pemeriksaan hymen memang bisa saja dilakukan untuk beberapa keperluan.

Umumnya pemeriksaan hymen dilakukan untuk keperluan visum. Visum sendiri merupakan keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter yang biasanya digunakan untuk keperluan peradilan, contohnya seperti pada kasus kekerasan seksual.

Hasil dari pemeriksaan hymen bukan menyatakan seseorang perawan atau tidak, tapi dokter hanya dapat menjelaskan kondisi hymen saja. Jika memang terdapat robekan, dokter umumnya dapat mengenali penyebab dari robekan tersebut, apakah akibat dari intercourse atau disebabkan trauma lainnya.

Seseorang juga dapat meminta pemeriksaan hymen untuk sekedar mengecek kondisi hymen-nya. Misalnya seseorang yang melakukan aktivitas yang berpotensi menyebabkan robeknya hymen seperti yang disebutkan di atas. Kemudian menemukan pendarahan dan mencurigai adanya robekan pada hymen.

Baca Juga: Apa Itu Visum? Kenali Fungsi, Jenis, dan Bentuknya Berikut Ini!

Prosedur Cara Tes Keperawanan

Cara tes keperawanan atau pemeriksaan hymen yang dilakukan dalam medis adalah dengan menggunakan alat yang biasa disebut spekulum atau cocor bebek.

Spekulum merupakan alat yang digunakan agar vulva atau bibir vagina dapat terbuka sehingga dokter dapat melihat ke dalam vagina. Hymen dilihat secara langsung dengan mata telanjang. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, posisi hymen sekitar 1-2 cm dari vagina.

Namun tentu ini bukan merupakan ukuran yang pasti, karena setiap orang memiliki kondisi vagina dan hymen yang tentunya berbeda.

Adakah Cara Mengetahui Keperawanan Lainnya?

Banyak masyarakat yang percaya bahwa salah satu cara mengetahui keperawanan paling gampang dan mudah adalah dengan melihat ciri fisik. Namun tentunya hal ini hanya mitos belaka yang sama sekali tidak terbukti secara ilmiah.

Penilaian tentang keperawanan tentunya kembali pada pribadi masing-masing. Jika melihat pada konsep keperawanan secara tradisional, dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan hymen tidak dapat menjadi penilaian perawan atau tidaknya seseorang. Tidak ada cara lain untuk mengetahuinya, kecuali dari pengakuan individu itu sendiri.

Namun melakukan pemeriksaan hymen juga bukan merupakan hal yang salah. Jika Anda merasa perlu untuk mengetahui kondisi hymen, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter tentang pemeriksaan ini. Sebelum melakukan pemeriksaan, pastikan Anda telah memahami sepenuhnya tentang manfaat dan risiko dari pemeriksaan ini.

 

  1. WHO. Eliminating virginity testing. https://www.who.int/reproductivehealth/publications/eliminating-virginity-testing-interagency-statement/en/. (Diakses 21 November 2019).
  2. Women on Waves. Misconceptions about the hymen and Virginity testing. https://www.womenonwaves.org/en/page/3477/misconceptions-about-the-hymen-and-virginity-testing. (Diakses 21 November 2019).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi