Terbit: 3 November 2020
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Anda dapat menjalani tes alergi untuk memastikan apakah Anda memiliki alergi pada zat tertentu. Tes ini tentu penting dilakukan, mengingat alergi dapat menyebabkan reaksi yang dapat sangat membahayakan tubuh. Simak selengkapnya tentang pemeriksaan medis satu ini!

Tes Alergi: Jenis, Prosedur, Biaya, dll

Apa Itu Tes Alergi?

Tes alergi adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk menentukan apakah tubuh memiliki reaksi alergi terhadap zat tertentu. Pemeriksaan ini dapat berupa tes kulit, tes darah, atau tes diet eliminasi. Tes ini dilakukan oleh seorang spesialis alergi.

Alergi adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap suatu zat yang ada pada lingkungan. Reaksi berlebihan ini dapat menyebabkan beberapa reaksi seperti:

  • Pilek
  • Bersin
  • Sinus tersumbat
  • Mata gatal dan berair

Zat yang menyebabkan alergi disebut dengan alergen. Secara umum terdapat tiga jenis alergen, yaitu:

  • Alergen yang dihirup dan memengaruhi tubuh ketika bersentuhan dengan selaput lubang hidung, tenggorokan, atau paru-paru. Jenis yang paling umum adalah serbuk sari.
  • Alergen yang tertalan atau bentuk makanan. Contohnya seperti kacang tanah, kedelai, makanan laut.
  • Alergen kontak yang menghasilkan reaksi ketika bersentuhan dengan kulit. Contohnya adalah tumbuhan ivy yang menyebabkan ruam dan gatal.

Cara tes alergi adalah dengan memaparkan sejumlah kecil alergen, kemudian mencatat reaksi tubuh yang dihasilkan.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Sensodyne - Advertisement

Mengapa Tes Alergi Penting untuk Dilakukan?

Alergi adalah salah satu kondisi kesehatan yang paling umum. The World Allergy Organization mencatat bahwa asma –yang dianggap sebagai proses penyakit alergi– bertanggung jawab atas 250.000 kematian setiap tahun.

Dapat dikatakan bahwa alergi merupakan kondisi yang tidak dapat disepelekan karena dapat menyebabkan komplikasi yang parah. Ketika reaksi alergi muncul, obat alergi dapat mengatasinya, namun pada dasarnya mencegah reaksi muncul adalah hal yang lebih utama.

Tes ini membantu Anda mengetahui alergen apa yang menyebabkan alergi pada Anda sehingga Anda dapat menghindarinya.

Baca Juga: Alergi Dingin: Penyebab, Gejala, Obat, Cara Mencegah, dll

Persiapan Tes Alergi

Sebelum melaksanakan pemeriksaan, dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan Anda secara keseluruhan. Dokter juga akan bertanya tentang gejala yang Anda alami dan bagaimana cara Anda biasa mengatasinya. Pemeriksaan fisik juga dapat dilakukan untuk mencari petunjuk lain tentang gejala yang Anda alami.

Sebelum tes dijalankan, Anda mungkin akan diperintahkan untuk berhenti sementara mengonsumsi beberapa jenis obat yang dapat memengaruhi hasil tes seperti:

  • Obat antihistamin baik obat bebas maupun obat resep.
  • Jenis obat untuk mengatasi heartburn seperti famotidine.
  • Obat untuk asma seperti omalizumab.
  • Antidepresan trisiklik seperti amitriptyline.
  • Benzodiazepine seperti diazepam atau lorazepam.

Prosedur Tes Alergi

Secara umum terdapat beberapa prosedur tes alergi yang berbeda mulai dari tes kulit, tes darah, dan elimination diet. Tes kulit sendiri terbagi menjadi 3 jenis yaitu tes tusuk kulit, patch test, dan tes injeksi atau intradermal.

Berikut adalah prosedur pemeriksaan alergi berdasarkan jenisnya:

1. Tes Tusuk Kulit (Skin Prick Test)

Tes tusuk kulit juga disebut sebagai tes tusuk (puncture) atau tes gores (scratch test) biasanya dilakukan untuk mengidentifikasi alergi terhadap serbuk sari, jamur, bulu hewan peliharaan, tungau debu, dan makanan.

Terdapat 50 zat berbeda yang akan digunakan pada tes ini. Zat tersebut akan diaplikasikan ke kulit dengan menggunakan jarim kecil (lanset) yang hampir tidak menembus permukaan kulit. Anda tidak akan merasakan sakit, kemungkinan hanya akan menimbulkan sedikit ketidaknyamanan ringan pada kulit.

Berikut adalah cara tes alergi dengan skin prick test:

  1. Petugas akan membersihkan bagian kulit yang akan diuji dengan alkohol.
  2. Dibuat sebuah tanda kecil pada kulit yang mewakili suatu alergen.
  3. Setetes ekstrak alergen dioleskan di sebelah tanda kecil tersebut.
  4. Lanset digunakan untuk menusuk ekstrak alergen ke permukaan kulit. Setiap ekstrak membutuhkan lanset yang berbeda.

Reaksi alergi akan diamati setelah 15 menit alergen ditusukkan. Jika Alergi terhadap zat tersebut, maka akan muncul benjolan merah dan gatal pada bagian kulit tersebut.

Petugas juga kemungkinan akan menggoreskan dua zat tambahan untuk melihat apakah kulit bereaksi normal. Zat tersebut adalah seperti:

  • Histamin. Kebanyakan orang akan bereaksi terhadap zat ini. Bila paparan histamin tidak menimbulkan reaksi, kemungkinan tes tusuk jarum Anda tidak akan menunjukkan reaksi bahkan meskipun Anda memiliki alergi.
  • Gliserin atau garam. Kebanyakan orang kulitnya tidak bereaksi terhadap zat ini. Seseorang yang bereaksi terhadap gliserin kemungkinan memiliki kulit yang sensitif. Ini membantu mencegah diagnosis alergi yang salah.

2. Tes Injeksi Kulit atau Tes Intradermal

Apabila skin prick test dianggap kurang meyakinkan, Anda bisa mencoba tes intradermal atau tes injeksi kulit.

Ekstrak alergen akan disuntikkan tepat ke lapisan dermis kulit bagian lengan. Setelah 15 menit, tanda reaksi alergi akan diamati. Umumnya tes ini dilakukan untuk memeriksa alergi racun serangga atau obat penisilin.

3. Uji Tempel (Patch Test)

Umumnya pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi apakah suatu zat menyebabkan dermatitis kontak. Tes ini dapat mendeteksi reaksi alergi yang kemunculannya tertunda dan reaksinya baru muncul setelah beberapa waktu.

Alergen akan dioleskan ke sebuah patch yang akan ditempelkan pada kulit Anda. Terdapat kurang lebih 20-30 alergen yang biasanya diujikan, termasuk lateks, wewangian, pengawet, obat-obatan, logan, resin, dan pewarna rambut.

Patch akan dipasang pada lengan atau punggung selama 48 jam. Anda disarankan untuk menghindari aktivitas yang menimbulkan keringat berlebih agar patch tidak terlepas.

Setelah patch dilepas, dokter akan mengamati ada tidaknya iritasi pada tempat tambalan yang mengindikasikan alergi.

4. Tes Darah

Tes darah alergi biasanya dilakukan jika muncul reaksi alergi parah pada tes kulit. Sampel darah akan diambil dan diuji di laboratorium agar mendeteksi keberadaan antibodi yang melawan alergen tertentu.

Antibodi ini disebut dengan immunoglobulin E (IgE). Sejumlah kecil kadar IgE dianggap normal. Namun jumlah IgE yang besar dapat mengindikasikan Anda memiliki alergi.

5. Elimination Diet

Tes satu ini berguna untuk menentukan makanan yang menyebabkan reaksi alergi. Prosedur yang dilakukan termasuk menghilangkan makanan tertentu dalam pola makan Anda, kemudian menambahkannya kembali.

Reaksi yang muncul akan membantu menentukan makanan apa saja yang menimbulkan alergi.

Baca Juga: Alergi Makanan: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, dll

Risiko Tes Alergi

Tes alergi, terutama tes pada kulit, biasanya menyebabkan gatal ringan, pembengkakan, dan kemerahan pada kulit. Gejala ini biasanya akan hilang dalam hitungan jam atau dapat juga bertahan hingga beberapa hari. Anda dapat mengatasinya dengan krim steroid topikal ringan.

Selain itu, pemeriksaan alergi juga dapat menyebabkan reaksi alergi yang parah dan membutuhkan pertolongan medis segera. Hal ini lah yang menyebabkan tes ini harus dilakukan di tempat khusus yang memang memadai untuk pertolongan medis darurat terhadap alergi.

Apabila Anda mengalami reaksi parah sesaat setelah pulang dari tes ini, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter.

Biaya Tes Alergi

Biaya yang dikeluarkan untuk tes ini dapat berbeda-beda berdasarkan jenis tes yang diambil. Estimasi biayanya adalah antara Rp60.000-Rp1.400.000. Biaya pada setiap rumah sakit atau laboratorium tentunya akan berbeda-beda.

 

  1. Anonim. Allergy Blood Test. https://medlineplus.gov/lab-tests/allergy-blood-test/. (Diakses 3 November 2020).
  2. Anonim. Allergy skin tests. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/allergy-tests/about/pac-20392895. (Diakses 3 November 2020).
  3. Krans, Brian. 2019. Allergy Testing. https://www.healthline.com/health/allergy-testing#purpose. (Diakses 3 November 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi