Dampak Terlalu Banyak Makan Keju bagi Kesehatan

keju-doktersehat
Photo Source: Flickr/shardsofblue

DokterSehat.Com– Sebenarnya, jika dibandingkan dengan bahan makanan lainnya di Indonesia, keju masih belum digunakan setiap hari, namun pakar kesehatan menyebut bahan makanan khas Barat ini bisa memberikan dampak yang kurang baik bagi kesehatan jika terlalu banyak dikonsumsi.

Dampak Kebanyakan Makan Keju

Sebagaimana kita ketahui, apapun yang berlebihan tidaklah baik. Jika kita mengonsumsi keju dengan berlebihan, maka risiko untuk terkena masalah kesehatan juga akan meningkat.

Berikut adalah berbagai dampak berlebihan makan keju tersebut.

  1. Bisa Membuat Kadar Kolesterol Naik

Rutin makan keju sebenarnya tidak apa-apa bagi kesehatan, asalkan tidak dilakukan terlalu sering atau dengan porsi yang berlebihan. Jika kita mengonsumsinya setiap hari misalnya, bisa jadi akan meningkatkan risiko terkena kenaikan kadar kolesterol. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan lemak jenuh di dalamnya.

Masalahnya adalah jika sampai kadar kolesterol naik, maka risiko untuk terkena penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung atau stroke akan meningkat dengan signifikan. Karena alasan inilah sebaiknya memang kita membatasi konsumsinya.

  1. Bisa Menyebabkan Kenaikan Berat Badan

Dibalik rasa keju yang cenderung gurih, pakar kesehatan menyebut keju sebagai makanan dengan kandungan kalori yang tinggi. Jika kita mengonsumsinya terlalu banyak atau terlalu sering, dikhawatirkan akan membuat berat badan naik. Apalagi jika kita cenderung malas berolahraga dan kurang gerak.

Masyarakat Indonesia seringkali mengonsumsi keju sebagai bagian dari camilan seperti martabak manis. Meski rasanya enak, keberadaan kalori di dalam camilan-camilan ini bisa membuat berat badan naik. Masalahnya adalah kenaikan berat badan bisa berimbas pada peningkatan risiko terkena berbagai masalah kesehatan yang lebih serius.

  1. Bisa Membuat Tekanan Darah Naik

Keju ternyata termasuk dalam makanan yang tinggi kandungan sodium. Jika dikonsumsi dengan berlebihan, dikhawatirkan akan membuat tekanan darah dan meningkatkan risiko hipertensi. Masalahnya adalah hipertensi termasuk dalam faktor yang bisa menyebabkan masalah pada jantung dan pembuluh darah, gangguan ginjal, serta osteoporosis.

  1. Bisa Mengganggu Pencernaan

Sebagaimana produk turunan susu pada umumnya, keju memiliki kandungan laktosa yang cenderung sulit untuk diolah oleh perut. Bagi masyarakat Indonesia yang mengalami masalah intoleransi laktosa, makan keju dengan berlebihan bisa saja menyebabkan gejala seperti perut kembung, begah, hingga konstipasi.

  1. Bisa Meningkatkan Risiko Kanker

Berdasarkan penelitian yang diunggah hasilnya dalam jurnal berjudul European Journal of Cancer pada 2011, disebutkan bahwa mengonsumsi keju setiap hari bisa meningkatkan risiko terkena kanker kandung kemih.

Dalam penelitian yang dilakukan para peneliti dari Belgia dan Belanda ini, disebutkan bahwa hobi makan keju hingga melebihi 53 gram setiap hari bisa membuat risiko terkena kanker kandung kemih naik hingga 40 persen. Fakta ini terungkap setelah para peneliti mengecek kondisi 386 partisipan sehaat dan 200 partisipan yang sudah mengidap kanker.

Batasan Makan Keju

Jika kita mengonsumsi keju sebanyak 100 gram, maka kita bisa mendapatkan kalori sebanyak 236 kkal, lemak sebanyak 20,3 gram, dan protein sebanyak 22 gram. Selain itu, kita bisa mendapatkan kalsium, zat besi fosfor, dan beberapa jenis vitamin.

Pakar kesehatan menyarankan kita untuk mengonsumsi keju maksimal sekitar 30 gram saja setiap hari. Hal ini disebabkan oleh kadar kalori di dalam keju dengan jumlah tersebut yang sudah memiliki 125 kalori. Jika kita mengonsumsinya dengan bahan makanan lain, bisa jadi hal ini akan membuat asupan kalori menjadi lebih banyak dari biasanya.

Melihat fakta ini, sebaiknya memang kita lebih cermat dalam mengonsumsi keju demi mencegah datangnya masalah kesehatan.

 

Sumber:

  1. 2019. What happens to your body if you eat too much cheese?. timesofindia.indiatimes.com/life-style/food-news/what-happens-to-your-body-if-you-eat-too-much-cheese/photostory/71506044.cms. (Diakses pada 12 Oktober 2019).