Terbit: 14 Desember 2020 | Diperbarui: 26 April 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Terapi surfaktan adalah tindakan medis yang digunakan untuk mengatasi kondisi neonatal respiratory distress syndrome, aspirasi mekonium pada bayi, hingga acute respiratory distress syndrome (ARDS) pada anak-anak. Simak penjelasan lengkap mengenai prosedur hingga komplikasi yang bisa terjadi.

Terapi Surfaktan: Fungsi, Prosedur, Komplikasi, dll

Apa Itu Terapi Surfaktan?

Ini adalah terapi yang bisa digunakan untuk mengatasi bayi prematur yang berisiko tinggi mengalami neonatal respiratory distress (nRDS). Keberhasilan terapi ini untuk mengatasi nRDS membuat beberapa pakar melihat potensi terapi ini untuk mengatasi ARDS pada orang dewasa dan anak-anak. Namun hasil uji klinis gagal menunjukkan hasil yang lebih baik.

Selain itu, penting untuk diketahui bahwa pada pada dasarnya surfaktan adalah senyawa yang bisa diproduksi oleh tubuh. Senyawa ini diproduksi oleh sel alveolar tipe II. Sel-sel ini melepaskan senyawa ke ruang alveolar dan menginduksi produksi surfaktan pada janin usia gestasi 24 minggu. Sementara 80-90% surfaktan diproduksi saat usia kehamilan 34 minggu.

Baca Juga: Hamil 34 Minggu, Paru-Paru Janin Sudah Sempurna

Kandungan Surfaktan

Komponen utama surfaktan adalah phosphatidylcholine/lecithin (64%) dan phosphatidylglycerol (8%). Selain itu, surfaktan juga mengandung 10% protein. Dikarenakan memiliki saturasi asam lemak yang tinggi, molekul surfaktan mampu mengeluarkan air dan menjadikannya padat di permukaan paru-paru.

Meskipun phosphatidylcholine komponen fungsional utama surfaktan, hipotesis menyatakan bahwa phosphatidylglycerol merupakan komponen yang menstabilkan senyawa ini. Oleh karena itu, meskipun phosphatidylcholine berada pada kadar yang cukup, tidak adanya phosphatidylglycerol dikaitkan dengan insiden respiratory distress syndrome (RDS).

Selain itu, beberapa faktor tertentu meningkatkan produksi surfaktan dengan menginduksi produksi enzim yang terlibat dalam pengembangan phospholipid. Endogenous dan exogenous glucocorticoid adalah contoh peningkat produksi surfaktan.

Sementara itu terdapat faktor-faktor tertentu yang dapat menghambat produksi surfaktan dengan mengganggu perkembangan phospholipid. Ibu hamil yang mengalami diabetes sering kali membuat bayinya mengalami keterlambatan kematangan paru-paru, hal ini terkait dengan gangguan produksi surfaktan.

Indikasi Penggunaan

Saat ini, indikasi klinis tunggal yang disetujui untuk terapi surfaktan adalah neonatal respiratory distress syndrome, meskipun di masa mendatang indikasi tambahan kemungkinan besar akan disetujui.

Meskipun terapi terbatas pada bayi prematur dengan dugaan atau bukti defisiensi surfaktan, bayi dengan RDS ringan juga harus mendapatkan perawatan dengan terapi ini.

Perawatan dini jauh lebih baik daripada pengobatan setelah terjadi kegagalan pernapasan yang parah, terutama jika kebocoran udara paru sudah berkembang.

Dikarena surfaktan eksogen saat ini hanya dapat diberikan melalui jalur endotrakeal, pengobatan secara inheren terbatas pada bayi yang diintubasi. Ini adalah masalah yang penting karena terdapat kontroversi yang signifikan mengenai apakah bayi dengan RDS ringan hingga sedang dapat dikelola tanpa intubasi.

Bayi yang dirawat tanpa intubasi tidak bisa mendapatkan manfaat dari terapi ini, di sisi lain manfaat intubasi elektif semata-mata dengan tujuan untuk pemberian surfaktan perlu dipertimbangkan karena terdapat beberapa risiko seperti trauma, penempatan tabung yang tidak tepat, peningkatan tonus vagal, dan tekanan intrakranial.

Menjaga Fungsi Paru-Paru Tetap Normal

Peranan penting surfaktan lainnya adalah mempertahankan fungsi normal paru-paru yaitu dengan memfasilitasi pertukaran gas. Paru-paru mengandung area permukaan yang tipis yang secara konstan terpapar dengan partikel-partikel dan bahan infeksius.

Komponen penting dari surfaktan yang berperan penting bagi sistem pertahanan tubuh adalah protein surfaktan-A dan protein surfaktan-D. Beberapa penelitian menunjukkan peran kedua protein tersebut dalam menstimulasi fagositis makrofag alveolar, mengubah sel imun dan sel yang berperan dalam proses peradangan, memengaruhi produksi oksigen reaktif, serta meregulasi sitokin yang dilepaskan dari berbagai sel inflamasi.

Pada akhirnya, terapi ini merupakan salah satu usaha yang dilakukan untuk membantu bayi prematur bertahan hidup sehingga bayi dapat bertumbuh dengan baik.

Prosedur Terapi Surfaktan

Berikut adalah beberapa langkah prosedur terapi yang umum dilakukan, antara lain:

  • Pertama-tama bayi akan ditempatkan dengan posisi telentang. Setelah itu dokter akan melepas selang bantu napas dari ventilator.
  • Surfaktan akan dimasukkan oleh dokter melalui kateter ke dalam selang bantu napas sesuai dengan dosis dan ketika selang bebas hambatan.
  • Kemudian selang bantu napas akan kembali disambungkan dengan ventilator.
  • Setelah itu, dokter akan meningkatkan bantuan oksigen inspirasi pada ventilator untuk sementara sambil memantau kondisi bayi hingga stabil.

Beberapa teknik telah dikembangkan untuk pemberian surfaktan adalah INSURE (Intubate-Surfactant-Extubate to CPAP), cara ini telah terbukti bisa menurunkan penggunaan ventilator.

Sementara metode terbaru yang dikembangkan yaitu MIST (Minimally Invasive Surfactant Therapy), yaitu pemberian surfaktan dilakukan dengan menggunakan selang kecil NGT (nasogastric tube) ke dalam intratrakea dan bayi dapat bernapas spontan dengan CPAP. Teknik ini menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan INSURE terutama untuk komplikasinya.

Secara operasional pemberian surfaktan dilakukan sebelum bayi melakukan usaha napas, sebelum dilakukan resusitasi awal, atau paling umum yaitu setelah resusitasi awal namun dalam 10 sampai 30 menit setelah kelahiran.

Komplikasi yang Bisa Terjadi

Komplikasi akut dari terapi surfaktan terjadi akibat obstruksi jalan napas oleh cairan yang ditanamkan atau oleh sekresi yang dimobilisasi di dalam paru. Berikut adalah beberapa kompilasi yang mungkin terjadi, antara lain:

  • Desaturasi oksigen.
  • Bradikardia.
  • Perubahan tekanan darah.
  • Peningkatan tekanan intrakranial.
  • Perubahan elektroensefalogram.
  • Penyumbatan tabung endotrakeal.
  • Pneumotoraks.
  • Perdarahan paru (insiden rendah).

Secara garis besar, komplikasi berkaitan dengan lambatnya pemberian surfaktan atau akibat peningkatan tekanan jalan napas saat pemberian.

Pada beberapa penelitian, pernah dilaporkan terjadinya perdarahan paru, walaupun mekanisme pasti terjadinya perdarahan belum jelas, namun diperkirakan bahwa peningkatan ventilasi dan penurunan resistensi pembuluh darah paru yang terjadi setelah pemberian surfaktan mengakibatkan shunt dari kiri ke kanan melalui ductus arteriosus. Keadaan ini bisa menyebabkan edema paru hemorragis.

Perdarahan paru dilaporkan terjadi lebih dari 6% bayi prematur yang mendapatkan terapi ini, dan memiliki ciri khas yaitu terjadi 72 jam pertama setelah pemberian terapi surfaktan.

 

  1. Anonim. Secercah Harapan Bayi Prematur Dengan Surfaktan. https://rsupsoeradji.id/secercah-harapan-bayi-prematur-dengan-surfaktan/. (Diakses pada 14 Desember 2020).
  2. Anonim. Surfactant Therapy in Neonates and Beyond. https://rtmagazine.com/disorders-diseases/chronic-pulmonary-disorders/asthma/surfactant-therapy-in-neonates-and-beyond/. (Diakses pada 14 Desember 2020).
  3. Anonim. Surfactant replacement therapy for neonates. https://www.bettersafercare.vic.gov.au/clinical-guidance/neonatal/surfactant-replacement-therapy-for-neonates. (Diakses pada 14 Desember 2020).
  4. Fajariyah, Sri Utami, Herman Bermawi, dan Julniar M. Tasli. 2016. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Volume 3 No 3. Terapi Surfaktan pada Penyakit Membaran Hyalin. (Diakses pada 14 Desember 2020).
  5. Hite, R. Duncan. Surfactant Replacement Therapy in ARDS. https://consultqd.clevelandclinic.org/surfactant-replacement-therapy-ards/. (Diakses pada 14 Desember 2020).
  6. Miller, Edeltraud P dan Cynthia L. Armstrong. Surfactant Replacement Therapy. https://www.jognn.org/article/S0884-2175(15)32843-4/pdf. (Diakses pada 14 Desember 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi