Terbit: 6 Januari 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Tenggorokan panas adalah gejala umum infeksi atau kondisi medis tertentu. Keadaan ini dapat terjadi dengan sendirinya atau bersamaan dengan gejala lain. Ketahui berbagai penyebab yang bisa membuat tenggorokan terasa panas hingga cara mengatasinya.

Tenggorokan Panas? 11 Penyebab yang Harus Anda Kenali

Penyebab Tenggorokan Panas

Rasa terbakar atau sakit di tenggorokan biasanya adalah keadaan yang tidak perlu dikhawatirkan. Sakit tenggorokan biasanya disebabkan oleh infeksi umum, seperti pilek atau radang tenggorokan. Gejala ini jarang disebabkan oleh kondisi serius.

Akan tetapi jika suatu kondisi medis menyebabkan tenggorokan terasa terbakar, Anda biasanya akan mengalami gejala lain yang menyertainya. Berikut adalah berbagai keadaan yang membuat tenggorokan terasa panas, di antaranya:

1. Penyakit Asam Lambung

Heartburn (sensasi panas terbakar di dada) adalah gejala asam lambung. Hal ini terjadi ketika otot yang bocor antara perut dan esofagus memungkinkan asam naik ke tenggorokan.

Asam yang kuat ini menciptakan sensasi terbakar di bagian belakang tenggorokan dan dada, serta menyebabkan rasa asam atau pahit pada tenggorokan dan mulut. Ketika kondisi ini sering terjadi hal itu disebut GERD (gastroesophageal reflux disease).

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Kids Baby - Advertisement

Gejala GERD lainnya termasuk:

  • Merasakan cairan asam di bagian belakang tenggorokan.
  • Batuk.
  • Kesulitan menelan.
  • Nyeri dada.
  • Suara parau.
  • Terasa seperti makanan tersangkut di tenggorokan.

Gejala mungkin bisa menjadi lebih buruk setelah makan besar atau saat berbaring di tempat tidur pada malam hari. Perlu diketahui juga, tenggorokan panas saat hamil juga terkait dengan asam lambung, alergi, polusi, hingga paparan zat iritan tertentu.

2. Post-Nasal Drip

Post-nasal drip adalah kondisi di mana lendir yang biasanya melapisi hidung menumpuk hingga menetes ke bagian belakang tenggorokan. Infeksi saluran pernapasan, alergi, dan cuaca yang dingin dapat menyebabkan gejala ini.

Tetesan cairan yang konstan dapat mengiritasi bagian belakang tenggorokan sehingga membuat amandel membengkak dan terasa sakit. Gejala lain yang terkait dengan post-nasal drip meliputi:

  • Batuk.
  • Gatal di tenggorokan.
  • Lendir di tenggorokan.
  • Pilek.
  • Suara parau.
  • Bau mulut.

3. Strep Throat

Strep throat adalah infeksi tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri group A streptococci. Bakteri bisa menyebar melalui udara ketika seseorang yang sakit batuk atau bersin. Rasa sakitnya bisa sangat parah sehingga menimbulkan ketidaknyamanan saat menelan.

Gejala lainnya termasuk:

  • Pembengkakan amandel yang mungkin memiliki garis-garis putih di atasnya.
  • Kelenjar getah benih di leher membengkak.
  • Demam.
  • Ruam.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Nyeri.

Obat pereda nyeri yang dijual bebas dapat membantu meredakan gejala, tetapi Anda tetap dapat menularkan infeksi kepada teman dan keluarga. Oleh karena itu, Anda harus menemui dokter untuk mendapatkan antibiotik untuk mengatasi infeksi ini.

Selain itu, infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur juga bisa menyebabkan tenggorokan panas saat hamil. Infeksi ini menyebabkan tenggorokan meradang sehingga menimbulkan ketidaknyamanan pada ibu hamil.

4. Batuk Pilek

Sakit tenggorokan adalah gejala batuk pilek biasa. Infeksi virus pada saluran pernapasan bagian atas ini mungkin membuat seseorang tidak nyaman, akan tetapi keadaan biasanya tidak serius.

Selain sakit tenggorokan, keadaan ini juga menyebabkan gejala lain seperti:

  • Hidung tersumbat.
  • Bersin.
  • Pegal-pegal.
  • Sakit kepala.
  • Demam ringan.

Gejala pilek biasanya akan hilang dalam waktu seminggu hingga 10 hari.

5. Flu

Influenza atau flu adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Keadaan ini menyebabkan banyak gejala yang sama seperti pilek, termasuk sakit tenggorokan. Akan tetapi flu bisa jauh lebih serius, pada beberapa orang, hal itu dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa seperti pneumonia.

Gejala bisa muncul dalam satu hingga empat hari setelah terpapar virus flu. Beberapa gejala yang bisa muncul antara lain:

  • Demam.
  • Panas dingin.
  • Batuk.
  • Pilek.
  • Nyeri otot.
  • Sakit kepala.
  • Kelelahan.
  • Muntah.
  • Diare.

6. Mononukleosis

Mononukleosis adalah penyakit sangat menular yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr. Virus ini menyebar melalui cairan tubuh seperti air liur. Gejala biasanya muncul empat hingga enam minggu setelah terinfeksi. Sakit tenggorokan yang parah merupakan salah satu tanda penyakit ini.

Gejala lainnya, antara lain:

  • Kelelahan ekstrem.
  • Demam.
  • Pegal-pegal.
  • Sakit kepala.
  • Kelenjar getah bening di leher dan ketiak membengkak.
  • Ruam.

7. Abses Peritonsil

Abses peritonsil atau peritonsillar abscess adalah infeksi yang terjadi di kepala dan leher. Infeksi menyebabkan nanah berkumpul di bagian belakang tenggorokan sehingga menyebabkan bengkak dan nyeri.

Kondisi ini sering kali merupakan komplikasi dari tonsillitis. Apabila keadaan ini tidak segera ditangani, pembengkakan dapat mendorong amandel ke tengah tenggorokan dan menghalangi pernapasan.

Gejala lainnya termasuk:

  • Kesulitan menelan atau membuka mulut lebar-lebar.
  • Kelenjar getah bening di leher membengkak.
  • Demam.
  • Panas dingin.
  • Sakit kepala.
  • Wajah membengkak.

8. Burning Mouth Syndrome

Burning mouth syndrome atau sindrom mulut terbakar adalah kondisi yang membuat bagian dalam mulut dan tenggorokan terasa seperti terbakar. Hal ini mungkin disebabkan oleh masalah saraf atau mulut kering.

Rasa sakit seperti terbakar bisa terjadi di tenggorokan dan seluruh mulut, termasuk pipi, bibir, lidah, dan langit-langit mulut. Selain itu, Anda juga mungkin mengalami:

  • Peningkatan rasa haus.
  • Rasa logam atau pahit di mulut.
  • Kehilangan indra perasa.

9. Esofagitis

Esofagitis adalah peradangan pada esofagus. GERD, pengobatan, infeksi, atau alergi dapat menyebabkan peradangan ini. Gejala umum termasuk tenggorokan panas, kesulitan menelan, dan mulas.

Salah satu bentuk peradangan tersebut adalah esofagitis eosinofilik. Ini adalah alergi makanan kronis yang menyebabkan kerongkongan meradang. Dokter dapat memeriksa kondisi ini dengan mengambil sampel jaringan dari tenggorokan, tes tusuk kulit (skin prick test), atau tes darah.

10. Kanker

Dalam kasus yang jarang terjadi, rasa sakit atau terbakar saat Anda menelan bisa menjadi gejala kanker esofagus atau tenggorokan. Sementara tenggorokan panas akibat infeksi akan membaik dalam satu atau dua minggu, namun kanker membuat rasa sakitnya tidak hilang.

Gejala lain yang bisa terjadi adalah:

  • Kesulitan menelan atau perasaan seperti makanan tersangkut di tenggorokan.
  • Batuk yang tidak kunjung sembuh atau mengeluarkan darah.
  • Heartburn.
  • Nyeri dada.
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.
  • Suara serak atau perubahan suara.
  • Muntah.

11. Virus Corona (COVID-19)

Ini jenis baru dari Coronavirus yang menular pada manusia. Virus ini sendiri dikenal dengan nama virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Gejala COVID-19 muncul 2 hingga 14 hari setelah terpapar. Beberapa gejala yang bisa Anda kenali, antara lain:

  • Demam.
  • Batuk.
  • Kesulitan bernapas.
  • Panas dingin.
  • Nyeri otot.
  • Sakit kepala.
  • Sakit tenggorokan.
  • Kehilangan indra penciuman atau pengecap.

Pada beberapa orang, infeksi yang disebabkan oleh virus ini bisa ringan namun bisa juga menyebabkan penyakit pernapasan (paru-paru) parah yang mirip dengan SARS dan dapat mengakibatkan kematian.

Keadaan ini juga dapat menyebabkan komplikasi seperti pneumonia atau bronkitis. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada bayi dan orang tua, serta orang dengan sistem kekebalan yang lemah, memiliki penyakit jantung, atau penyakit paru-paru.

Baca Juga: 15 Obat Radang Tenggorokan yang Ampuh (Medis dan Alami)

Pengobatan Tenggorokan Panas

Saat tenggorokan terasa sakit terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk meredakannya, antara lain:

  • Berkumurlah dengan campuran 250 ml air hangat dan 1/4 sampai 1/2 sendok garam.
  • Mengisap permen pelega tenggorokan.
  • Minumlah cairan hangat, seperti teh dengan madu. Selain minuman hangat, Anda juga bisa mengonsumsi minuman dingin. Baik dingin maupun panas terasa menenangkan pada sakit tenggorokan.
  • Gunakan humidifier untuk menambah kelembapan udara. Cara ini berguna untuk mencegah tenggorokan mengering.
  • Asetaminofen atau ibuprofen bisa digunakan sebagai obat tenggorokan panas karena kemampuannya untuk meredakan nyeri.
  • Minum banyak air putih.

 

  1. Doherty, Colleen. 2020. What Is Coronavirus (COVID-19)?. https://www.verywellhealth.com/coronavirus-overview-4783291. (Diakses pada 6 Januari 2021).
  2. Gillson, Sharon. 2020. 5 Reasons Why Your Throat May Be Burning. https://www.verywellhealth.com/what-causes-a-burning-throat-1742990. (Diakses pada 6 Januari 2021).
  3. Sissons, Claire. 2019. Burning throat: 7 causes and how to treat them. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326392#home-remedies. (Diakses pada 6 Januari 2021).
  4. Watson, Stephanie. 2019. What Causes a Burning Throat and How Is It Treated?. https://www.healthline.com/health/burning-throat#see-your-doctor. (Diakses pada 6 Januari 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi