Terbit: 14 September 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Syringomyelia adalah penyakit yang menyerang sistem saraf pusat yang berada di tulang belakang. Ketahui lebih lanjut mengenai gangguan medis yang satu ini mulai dari gejala, penyebab, hingga pengobatan dan pencegahannya.

Syringomyelia: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu Syringomyelia?

Syringomyelia adalah kondisi ketika saraf tulang belakang mengalami gangguan fungsi akibat adanya kista (syrinx). Kista yang berisi cairan tersebut lama-kelamaan akan semakin membesar hingga kemudian menghimpit sistem saraf tulang belakang.

Akibat kondisi ini, penderita akan mengalami sejumlah masalah seperti nyeri otot dan keterbatasan gerak tubuh. Belum dapat diketahui secara pasti apa yang menjadi pemicu seseorang mengalami syringomyelia, namun hal ini diduga terkait dengan sejumlah penyakit tertentu.

Ciri dan Gejala Syringomyelia

Syringomyelia adalah penyakit saraf yang bersifat kronis. Artinya, gejala penyakit ini muncul secara perlahan dan akan semakin bertambah buruk seiring berjalannya waktu. Umumnya, penderita mulai merasakan gejala pada rentang usia 20-30 tahun.

Gejala syringomyelia yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Otot melemah
  • Otot terasa nyeri
  • Otot terasa kaku
  • Pengecilan otot (atrofi otot)
  • Sensitivitas tubuh terhadap sakit dan suhu—panas dan dingin—menurun
  • Refleks tubuh berkurang
  • Disfungsi seksual

Pada kasus yang sudah terbilang parah, penderita kemungkinan akan mengalami gejala-gejala berikut ini:

  • Nyeri leher, punggung, dan lengan
  • Leher, punggung, lengan, dan kaki terasa kaku dan sulit digerakkan
  • Sakit kepala
  • Tulang belakang mengalami perubahan bentuk (skoliosis)
  • Masalah buang air besar dan buang air kecil

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Anda disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala-gejala di atas. Syringomyelia secara gejala mirip dengan sejumlah penyakit saraf lainnya, sehingga pemeriksaan medis diperlukan guna memastikan gangguan medis yang Anda alami.

Memeriksakan diri ke dokter juga perlu dilakukan apabila Anda memiliki riwayat cedera saraf tulang belakang. Pasalnya, cedera saraf tulang belakang pada perkembangannya bisa memunculkan kista yang menjadi pertanda penyakit ini.

Penyebab Syringomyelia

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, penyebab syringomyelia ini belum dapat diketahui secara pasti. Namun, munculnya kista pada saraf tulang belakang tersebut menurut para praktisi medis berkaitan dengan beberapa jenis penyakit.

Adalah malformasi chiari, salah satu penyakit yang diduga menjadi faktor pemicu syringomyelia paling umum. Malformasi chiari adalah kelainan struktur otak. Pada kasus ini, ada bagian otak yang ‘jatuh’ hingga ke wilayah saraf tulang belakang. Bagian otak tersebutlah yang lantas menghambat aliran cairan serebrospinal, yakni cairan yang ada pada saraf tulang belakang, hingga berujung pada timbulnya kista.

Di samping malformasi chiari, penyakit lainnya yang diklaim memiliki keterkaitan dengan kista saraf tulang belakang adalah sebagai berikut:

  • Kelainan struktur saraf tulang belakang
  • Cedera saraf tulang belakang
  • Perdarahan tulang belakang
  • Radang selaput otak (meningitis)
  • Tumor di sekitar tulang belakang

Kondisi ini juga menjadi komplikasi dari gangguan medis yang dikenal sebagai arachnoiditis. Arachnoiditis adalah peradangan (inflamasi) yang terjadi pada arachnoid, yakni selaput membran yang mengelilingi otak dan jaringan di tulang belakang. Arachnoiditis kemungkinan sudah ada sejak lahir, namun gejalanya baru mulai terasa beberapa tahun kemudian.

Diagnosis Syringomyelia

Apabila ditemukan adanya indikasi syringomyelia pada pasien, maka pihak fasilitas kesehatan akan merujuk Anda ke dokter spesialis saraf guna dilakukan diagnosis lebih lanjut. Prosedur diagnosis pada kasus ini dibagi ke dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu:

  • Anamnesis
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan penunjang

1. Anamnesis

Tahapan diagnosis yang pertama adalah anamnesis. Pada tahap ini, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan terkait dengan keluhan yang dialami. Pertanyaan yang diajukan antara lain sebagai berikut:

  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Seberapa sering merasakan gejala?
  • Apakah memiliki riwayat cedera pada tulang belakang?
  • Apakah saat ini sedang menderita suatu penyakit? Jika ya, penyakit apa?

Pastikan untuk memberikan informasi sejelas mungkin kepada dokter. Informasi yang jelas membantu dokter dalam menganalisis kondisi yang sedang Anda alami.

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah anamnesis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik biasanya dilakukan dengan cara meraba area punggung pasien untuk mencari tahu apakah ada abnormalitas yang mengarah pada syringomyelia ini.

Tahapan pemeriksaan fisik ini bertujuan untuk mendapatkan informasi lebih detail lagi perihal kondisi yang dialami oleh pasien. Apabila dokter merasa ada sesuatu hal yang janggal, pemeriksaan penunjang segera dilakukan.

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang tujuannya adalah untuk memastikan kondisi pasien jika pada tahap anamnesis dan pemeriksaan fisik dokter menemukan indikasi adanya masalah pada saraf tulang belakang. Pemeriksaan penunjang pada kasus ini biasanya menggunakan medium magnetic resonance imaging (MRI).

Pemeriksaan dengan MRI ini akan memberikan informasi kepada dokter mengenai kondisi saraf tulang belakang dan jaringan di sekitarnya, apakah memang terdapat kista atau tidak.

Pengobatan Syringomyelia

Pengobatan penyakit ini tergantung pada perkembangan gangguan dan apakah pasien mengalami gejala yang masuk dalam kategori serius atau tidak. Berikut penjelasannya.

1. Pengobatan untuk Gejala Ringan

Jika pasien tidak memiliki gejala atau gejala ringan, dokter mungkin tidak akan menerapkan metode khusus guna mengatasi penyakit. Akan tetapi, pasien tetap disarankan untuk melakukan kontrol medis secara berkala.

2. Pengobatan untuk Gejala Berat

Jika gejala sudah sampai mengganggu aktivitas, barulah dokter akan memberi resep obat atau pembedahan. Obat-obatan seperti gabapentin (Neurontin) biasanya yang akan diberikan. Obat ini berfungsi untuk membantu mengurangi sensasi nyeri pada bahu dan lengan yang sering dialami penderita syringomyelia.

Sementara itu, operasi bertujuan untuk mengurangi tekanan pada sumsum tulang belakang. Jenis pembedahan akan tergantung pada faktor penyebab dari kondisi ini.

Jika Anda menderita malformasi chiari, dokter mungkin menyarankan operasi untuk memperluas dasar tengkorak dan penutup otak. Ini akan mengurangi tekanan dari sumsum tulang belakang dan otak. Aliran normal cairan serebrospinal harus dipulihkan. Bagi kebanyakan orang, operasi ini dapat menyembuhkan syringomyelgia yang diderita.

Jika pasien memiliki tumor atau pertumbuhan tulang, pengangkatan tumor menjadi solusi guna menyembuhkan kista pada saraf tulang belakang tersebut.

Dalam beberapa kasus, ahli bedah akan menggunakan tabung kecil dan fleksibel—disebut shunt— untuk mengeringkan kista. Mereka akan menempatkan pintasan pada kista untuk mengalirkan kelebihan cairan. Terkadang ahli bedah dapat mengeringkan kista sepenuhnya selama operasi. Jika tidak memungkinkan, pintasan akan tetap ada setelah operasi.

Setelah operasi, dokter juga biasanya akan memberikan obat antibiotik untuk mencegah infeksi. Dokter mungkin juga merekomendasikan terapi fisik yang dapat membantu memperkuat otot-otot di tungkai yang mengalami kelemahan progresif.

Komplikasi Syringomyelia

Apabila kondisi ini sudah sampai ke tahap yang parah, maka ada sejumlah komplikasi yang bisa saja dialami oleh penderita jika tidak segera mendapatkan penanganan medis. Komplikasi yang dimaksud adalah:

  • Perubahan bentuk tulang belakang
  • Nyeri kronis di area tulang belakang
  • Penurunan fungsi motorik tubuh
  • Paralisis

Pencegahan Syringomyelia

Dikarenakan penyebab pasti syringomyelia belum diketahui, maka belum ada cara yang benar-benar bisa dilakukan guna mencegah penyakit tersebut. Akan tetapi, Anda bisa melakukan langkah-langkah antisipatif terhadap penyakit-penyakit yang dianggap berkaitan. Konsultasikan dengan dokter untuk tahu lebih lanjut.

 

  1. Anonim. Syringomyelia. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/syringomyelia/symptoms-causes/syc-20354771 (diakses pada 14 September 2020)
  2. Anonim. What is Syringomyelia? https://www.webmd.com/brain/what-is-syringomyelia#1 (diakses pada 14 September 2020)
  3. Krause, L. 2019. What is Syringomyelia? https://www.healthline.com/health/syringomyelia#symptoms (diakses pada 14 September 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi