Terbit: 19 Agustus 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Syok adalah kondisi ketika tubuh tidak mendapatkan aliran darah yang cukup. Jika tidak segera diobati, kemungkinan menyebabkan komplikasi serius! Simak informasi lengkapnya mulai dari definisi, gejala, penyebab, pengobatan, dan lainnya di bawah ini.

Syok: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Syok?

Syok adalah kondisi mengancam jiwa yang terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan aliran darah yang cukup. Kurangnya aliran darah berarti sel dan organ tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup untuk berfungsi dengan baik. Ini mengakibatkan sejumlah organ mengalami gangguan.

Ini merupakan kondisi medis yang harus membutuhkan perawatan segera dan bisa memburuk dengan sangat cepat. Jika tidak segera mendapatkan pertolongan medis, kondisi dapat menyebabkan komplikasi atau bahkan kematian. Sebanyak 1 dari 5 orang yang menderita syok akan meninggal karenanya.

Tanda dan Gejala Syok

Seseorang yang mengalami kondisi ini memiliki tekanan darah yang sangat rendah. Bergantung pada penyebab spesifik dan jenisnya.

Berikut ini adalah sejumlah gejala syok secara umum:

  • Kecemasan atau agitasi (gelisah).
  • Sesak napas.
  • tekanan darah turun.
  • Bibir dan kuku kebiruan.
  • Nyeri dada.
  • Jantung berdebar atau denyut nadi cepat tapi lemah.
  • Kebingungan atau linglung.
  • Pusing atau hilang kesadaran (pingsan).
  • Kulit pucat, dingin, dan lembap.
  • Keringat berlebih dan kulit lembap.
  • Urine keluar sedikit atau tidak ada.

Sedangkan gejala berdasarkan macam-macam syok dan penyebabnya, termasuk:

1. Syok Septik

Tanda-tanda syok septik, termasuk:

  • Demam
  • Nyeri otot
  • Hipotermia
  • Detak jantung cepat
  • Napas cepat

2. Syok Anafilaksis

Berikut ini gejala syok anafilaksis:

  • Sesak napas
  • Pusing
  • Kebingungan atau linglung
  • Tubuh lemas secara tiba-tiba
  • Hilang kesadaran

3. Syok Kardiogenik

Tanda-tanda syok kardiogenik, di antaranya:

  • Napas cepat
  • Sesak napas yang parah
  • Detak jantung tiba-tiba dan cepat (takikardia)
  • Hilang kesadaran
  • Denyut nadi lemah
  • Tekanan darah rendah (hipotensi)
  • Berkeringat
  • Kulit pucat
  • Tangan atau kaki dingin
  • Buang air kecil sedikit atau tidak ada

4. Syok Hipovolemik

Berikut ini tanda-tanda syok hipovolemik:

  • Perdarahan
  • Mual
  • Detak jantung cepat
  • Pernapasan cepat dan sesak napas
  • Lelah
  • Kebingungan atau pusing
  • Sedikit atau tidak ada kencing
  • Tekanan darah rendah
  • Kulit dingin dan lembap

5. Syok Neurogenik

Gejala syok neurogenik, di antaranya:

  • Tekanan darah rendah (hipotensi)
  • Pusing
  • Mual
  • Muntah
  • Tatapan kosong
  • Pingsan
  • Berkeringat banyak
  • Gelisah
  • Kulit pucat

Baca Juga: Syok Anafilaktik: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Kapan Harus ke Dokter?

Syok adalah kondisi darurat medis. Jika mengalami kondisi ini setelah cedera, bahkan jika penderitanya tampak stabil, segera hubungi nomor darurat medis atau segera pergi ke unit gawat darurat (UGD). Perawatan yang tepat dapat menyelamatkan nyawa.

Semakin cepat kondisinya dirawat, akan semakin baik. Ketika dirawat dengan cepat, risiko kerusakan pada organ vital akan lebih kecil.

Penyebab Syok

Ada banyak macam-macam syok yang masing-masing dapat disebabkan oleh beberapa kondisi yang berbeda. Berikut ini penjelasan beberapa penyebab berdasarkan jenisnya:

1. Septik

Jenis ini terjadi akibat bakteri berkembang di dalam darah dan melepaskan racun. Penyebabnya adalah pneumonia, infeksi saluran kemih, infeksi kulit (selulitis), infeksi intra-abdominal, dan meningitis.

2. Anafilaksis

Ini adalah jenis hipersensitivitas atau reaksi alergi yang parah. Penyebabnya adalah alergi sengatan serangga, obat-obatan, atau makanan seperti kacang-kacangan, beri, makanan laut.

3. Kardiogenik

Jenis ini terjadi ketika jantung tidak dapat mensuplai darah ke tubuh. Kondisi ini dapat disebabkan oleh serangan jantung atau gagal jantung kongestif.

4. Hipovolemik

Kondisi ini disebabkan oleh kekurangan darah dan cairan yang parah, seperti cedera tubuh yang traumatis, yang membuat jantung tidak dapat memompa cukup darah ke tubuh, atau anemia parah di mana tidak ada cukup darah untuk menyuplai oksigen ke seluruh tubuh.

5. Neurogenik

Jenis berikutnya disebabkan oleh cedera tulang belakang, biasanya akibat mengalami cedera atau cedera traumatis pada sumsum tulang belakang. Ini mengakibatkan kehilangan fungsi dan rangsangan dari sistem saraf simpatis. Sistem saraf simpatik bertugas mempertahankan fungsi tubuh selama aktivitas fisik.

Faktor Risiko Syok

Berikut ini sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko mengalami syok:

  • Bertambahnya usia.
  • Infark miokard.
  • Kardiomiopati.
  • Penyakit katup jantung.
  • Aritmia.
  • Trauma.
  • Perdarahan gastrointestinal.
  • Pecahnya aneurisma aorta perut.
  • Luka bakar atau sengatan panas.
  • Diare dan muntah.
  • Pankreatitis.
  • Sepsis.
  • Anafilaksis atau keracunan.
  • Cedera tulang belakang atau batang otak.
  • Penyakit endokrin.
  • Emboli paru.
  • Tamponade jantung.

Diagnosis Syok

Langkah pertama untuk mendiagnosis kondisi biasanya mengenali gejalanya secara eksternal. Dokter mungkin juga akan melakukan pemeriksaan berikut:

  • Tekanan darah rendah (hipotensi).
  • Denyut nadi lemah.
  • Detak jantung cepat.

Setelah mendiagnosis kondisi ini, prioritas utamanya adalah memberikan perawatan untuk menyelamatkan nyawa agar darah mengalir ke seluruh tubuh secepat mungkin. Prosedur ini dapat dilakukan dengan pemberian cairan, obat-obatan, darah, dan perawatan suportif. Perawatan biasanya sesuai penyebabnya.

Setelah kondisi stabil, dokter dapat mendiagnosis penyebab syok. Dokter mungkin melakukan satu atau lebih tes, seperti tes darah atau pencitraan.

1. Tes Darah

Dokter dapat melakukan tes darah untuk mendeteksi tanda-tanda berikut:

  • Kehilangan darah yang signifikan.
  • Infeksi dalam darah.
  • Overdosis obat.

2. Tes Pencitraan

Dokter akan melakukan tes pencitraan untuk memeriksa cedera atau kerusakan pada jaringan dan organ internal, di antaranya, patah tulang, kerusakan organ, robekan otot atau tendon, dan pertumbuhan abnormal.

Berikut ini beberapa tes untuk mendiagnosis syok:

  • CT (computed tomography) scan.
  • Ultrasonografi (USG).
  • Sinar-X.
  • Magnetic resonance imaging (MRI).

Pengobatan Syok

Syok adalah kondisi darurat medis yang dapat menyebabkan ketidaksadaran, masalah pernapasan, dan bahkan serangan jantung.

Berikut ini cara mengobati syok secara mandiri di rumah dan medis:

1. Perawatan secara Mandiri

Jika Anda menduga mengalami syok, segera dapatkan pertolongan medis. Sedangkan jika orang terdekat diduga mengalami kondisi ini, segera hubungi nomor darurat medis dan berikan pertolongan pertama sampai bantuan profesional tiba.

Selain itu, berikut beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi syok:

  • Selagi menunggu pertolongan medis datang, tetaplah bersamanya dan jika mungkin, tetaplah berhubungan dengan petugas darurat medis karena mereka dapat memberikan instruksi khusus untuk Anda.
  • Tetap periksa jalan napas dan pernapasannya. Lakukan cardiopulmonary resuscitation (CPR) atau napas buatan jika Anda sudah terlatih. Jika penderitanya bernapas sendiri, lanjutkan untuk memeriksa pernapasan setiap 2 menit sampai bantuan datang.
  • Jangan memindahkan orang yang diketahui atau diduga mengalami syok karena cedera tulang belakang (kecuali berada dalam bahaya cedera lebih lanjut).
  • Minta orang tersebut berbaring telentang dengan kaki ditinggikan di atas kepala (jika mengangkat kaki menyebabkan rasa sakit atau cedera) untuk meningkatkan aliran darah ke organ vital. Satu hal lagi yang harus diingat adalah jangan mengangkat kepalanya.
  • Jaga agar orang tersebut tetap hangat dan merasa nyaman. Melonggarkan pakaian jika ketat dan tutupi tubuhnya dengan selimut.
  • Jangan memberikan cairan melalui mulut, meskipun orang tersebut kehausan.
  • Berikan pertolongan pertama yang sesuai untuk mengatasi cedera apa pun.
  • Memberikan tekanan langsung harus diterapkan pada luka yang mengeluarkan darah secara signifikan.

2. Pengobatan Berdasarkan Jenisnya

Tergantung pada macam-macam syok atau penyebab, perawatannya pun berbeda. Secara umum, pemberian cairan dalam jumlah banyak untuk meningkatkan tekanan darah dengan cepat (resusitasi cairan), dengan infus saat di ambulans atau ruang unit gawat darurat (UGD) adalah pengobatan pertama untuk semua jenisnya.

Dokter juga akan memberikan obat-obatan seperti epinefrin, norepinefrin, atau dopamin ke dalam cairan untuk meningkatkan tekanan darah guna memastikan aliran darah ke organ vital lancar.

Setelah ditentukan penyebabnya melalui diagnosis, berikut ini beberapa cara mengobatinya berdasarkan macam-macam syok:

1. Septik

Jenis ini diobati dengan pemberian antibiotik yang tepat tergantung pada sumber dan jenis infeksi yang mendasari. Kebanyak pasien biasanya mengalami dehidrasi dan membutuhkan banyak cairan untuk meningkatkan dan menjaga tekanan darah tetap stabil.

2. Anafilaksis

Ini dapat diobati dengan diphenhydramine, epinephrine, obat steroid yaitu methylprednisolone, dan terkadang obat H2-Blocker (seperti famotidine dan cimetidine).

3. Kardiogenik

Jenis ini diobati dengan mengidentifikasi dan mengobati penyebab yang mendasari. Pasien yang mengalami serangan jantung mungkin memerlukan prosedur operasi atau disebut kateterisasi jantung untuk membuka penyumbatan arteri.

Sedangkan pasien yang mengalami gagal jantung kongestif mungkin memerlukan obat-obatan untuk mendukung dan meningkatkan kekuatan detak jantung. Dalam kasus yang parah atau berkepanjangan, transplantasi jantung adalah satu-satunya pengobatan.

4. Hipovolemik

Pengobatannya dapat diberikan cairan (garam) pada kasus-kasus ringan, tetapi mungkin memerlukan banyak transfusi darah pada kasus yang parah. Penyebab perdarahan juga harus diidentifikasi dan diobati.

5. Neurogenik

Jenis berikutnya adalah yang paling sulit diobati. Alasannya karena kerusakan pada sumsum tulang belakang sering kali tidak dapat diperbaiki dan menyebabkan masalah pada fungsi pengaturan alami tubuh.

Selain cairan dan pemantauan, imobilisasi (menjaga agar tulang belakang tidak bergerak), obat antiinflamasi seperti steroid dan terkadang operasi adalah pengobatan utama.

Baca Juga: Syok Hipovolemik: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Penanganan

Komplikasi Syok

Jika tidak segera ditangani cepat dan tepat, kondisi darurat medis ini dapat berakibat fatal. Berikut ini adalah beberapa komplikasi serius:

  • Kerusakan otak
  • Hentikan napas
  • Henti detak jantung
  • Kerusakan pada hati
  • Detak jantung terlalu cepat atau terlalu lambat (aritmia)
  • Gagal ginjal
  • Serangan jantung
  • Kematian

Pencegahan Syok

Beberapa jenis kondisi ini dapat dicegah dengan mengambil langkah-langkah untuk menjalani gaya hidup yang aman dan sehat. Berikut ini beberapa langkah yang dapat membantu mencegah:

  • Jika telah didiagnosis dengan alergi parah, hindari pemicunya, bawa injektor otomatis epinefrin, dan menggunakannya saat gejala pertama reaksi anafilaksis.
  • Guna menurunkan risiko kehilangan darah akibat cedera, gunakan alat pelindung saat mengambil bagian dalam olahraga kontak, mengendarai sepeda, dan menggunakan peralatan berbahaya. Kenakan juga sabuk pengaman saat bepergian dengan kendaraan bermotor.
  • Guna menurunkan kemungkinan kerusakan jantung, makan makanan yang seimbang, olahraga teratur, dan hindari merokok.
  • Tetap terhidrasi dengan minum banyak cairan. Langkah ini sangat penting terutama saat menghabiskan waktu di lingkungan yang sangat panas atau lembap.

  1. Anthony, Kiara. 2017. Neurogenic Shock. https://www.healthline.com/health/neurogenic-shock. (Diakses pada 19 Agustus 20120)
  2. Anonim. 2020. Hypovolemic Shock. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/hypovolemic-shock#1. (Diakses pada 19 Agustus 20120)
  3. Anonim. Tanpa Tahun. Shock. https://online.epocrates.com/diseases/101332/Shock/Risk-Factors. (Diakses pada 19 Agustus 20120)
  4. Kahn, April. 2018. What You Should Know About Shock. https://www.healthline.com/health/shock#diagnosis. (Diakses pada 19 Agustus 20120)
  5. Cunha, John P. 2020. What Is Shock?. https://www.medicinenet.com/shock/article.htm. (Diakses pada 19 Agustus 20120)
  6. Editorial Team. 2020. Shock. https://medlineplus.gov/ency/article/000039.htm. (Diakses pada 19 Agustus 20120)
  7. Gotter, Ana. 2018. Anaphylactic Shock: What You Need to Know. https://www.healthline.com/health/anaphylactic-shock. (Diakses pada 19 Agustus 20120)
  8. Mayo Clinic Staff. 2019. Anaphylaxis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anaphylaxis/symptoms-causes/syc-20351468. (Diakses pada 19 Agustus 20120)
  9. Mayo Clinic Staff. 2017. Cardiogenic shock. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cardiogenic-shock/symptoms-causes/syc-20366739. (Diakses pada 19 Agustus 20120)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi