Syok Hipovolemik: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Penanganan

syok-hipovolemik-doktersehat

DokterSehat.Com – Kehilangan banyak darah atau cairan dalam tubuh adalah kondisi yang tidak dapat disepelekan. Jika seseorang kehilangan terlalu banyak darah atau cairan, fungsi berbagai organ tubuh akan terganggu. Kondisi ini disebut sebagai syok hipovolemik. Kenali lebih lanjut tentang penyebab, gejala, diagnosis, dan penanganan dari syok hipovolemik!

Pengertian Syok Hipovolemik

Syok hipovolemik adalah kondisi di mana tubuh kehilangan darah atau cairan mencapai 20% jumlahnya secara tiba-tiba. Kondisi ini termasuk ke dalam kondisi darurat yang mengancan jiwa dan harus segera mendapatkan penanganan.

Menurunnya volume darah dalam jumlah yang cukup besar membuat jantung tidak mampu untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup ke seluruh tubuh. Hal ini menyebabkan organ-organ tubuh tidak dapat bekerja dengan sebagaimana mestinya.

Darah membawa oksigen dan zat penting lainnya untuk disalurkan ke seluruh bagian tubuh. Ketika asupan darah dalam aliran darah berkurang, organ-organ tubuh akan kehilangan zat-zat penting lebih cepat sebelum zat-zat tersebut tergantikan dengan asupan baru, sehingga organ dapat berhenti bekerja dan gejala syok terjadi.

Penyebab Syok Hipovolemik

Penyabab syok hipovolemik adalah akibat tubuh kehilangan darah atau cairan secara signifikasn dan tiba-tiba. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kondisi seperti berikut ini:

  • Pendarahkan akibat sayatan atau luka serius
  • Pendarahan akibat cedera traumatis akibat kecelakaan
  • Pendarahan internal dari organ perut
  • Pendarahan akibat kehamilan ektopik yang pecah
  • Pendarahan pada saluran pencernaan
  • Pendarahan vagina yang berlebihan
  • Endometrosis

Selain kehilangan darah, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh kehilangan cairan tubuh. Ketika cairan tubuh hilang dalam jumlah besar, volume darah juga dapat menurun. Berikut adalah kondisi yang dapat menyebabkan hal ini terjadi:

  • Diare berat dan berkepanjangan
  • Luka bakar parah
  • Muntah berlebihan dan berkepanjangan
  • Keringat berlebih

Gejala Syok Hipovolemik

Syok hipovolemik ditandai dengan berbagai macam gejala. Gejalanya bervariasi, bergantung pada seberapa banyak tubuh kehilangan volume darah. Meskipun gejalanya ringan, kondisi ini tetap merupakan kondisi darurat medis.

Pendarahan internal akan lebih sulit dikenali dan baru terlihat ketika gejala syok muncul. Sedangkan pada pendarahan eksternal, umumnya gejala sudah dapat langsung terlihat. Berikut adalah beberapa tanda syok hipovolemik!

Gejala syok hipovolemik yang termasuk gejala ringan adalah sebagai berikut ini:

  • Sakit kepala
  • Pusing
  • Mual
  • Kelelahan
  • Keringat berlebih

Sedangkan gejala syok hipovolemik yang parah dan membutuhkan penanganan segera adalah seperti:

  • Kulit lembap dan dingin
  • Kulit pucat
  • Pernapasan cepat dan pendek
  • Detak jantung cepat
  • Urin sedikit atau tidak keluar sama sekali
  • Kebingungan
  • Lemah
  • Denyut nadi lemah
  • Bibir dan kuku membiru
  • Hilang kesadaran

Sedangkan jika terjadi pendarahan internal, tanda syok hipovolemik adalah sebagai berikut ini:

  • Nyeri perut
  • Darah pada tinja
  • Tinja hitam dan kering
  • Darah dalam urin
  • Muntah darah
  • Sakit dada
  • Pembengkakan pada perut

Jika mengalami gejala syok hipovolemik, maka sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan perawatan medis secepatnya. Semakin lama gejala syok hipovolemik dibiarkan, kondisi kerusakan organ akan semakin parah dan kondisi semakin mengancam jiwa.

Beberapa jenis komplikasi yang mungkin terjadi akibat syok hipovolemik adalah seperti kerusakan organ seperti ginjal atau otak, serangan jantung, dan kelumpuhan tangan atau lengan.

Diagnosis Syok Hipovolemik

Dokter akan memulai pemeriksaan dengan memeriksa suhu, denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah pasien. Jika pasien dalam keadaang terjaga, dokter mungkin akan menanyakan tentang riwayat medis pasien. Namun umumnya pasien dengan syok hipovolemik tidak terlalu responsif.

Selain melihat pada gejala fisik, dokter juga menggunakan berbagai macam pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis syok hipovolemik. Berikut adalah beberapa pemeriksaan yang mungkin dilakukan:

  • Tes darah untuk memeriksa keseimbangan elektrolit, serta memastikan fungsi ginjal dan hati.
  • CT scan atau ultrasound untuk memvisualisasikan organ tubuh.
  • Ekokardiogram, pemeriksaan ultrasound untuk jantung.
  • Elektrokardiogram, pemeriksaan untuk menilai irama jantung.
  • Endoskopi, pemeriksaan untuk kerongkongan dan organ pencernaan lainnya.
  • Katerisasi jantung sebelah kanan untuk memeriksa seberapa efektif jantung memompa darah
  • Kareter kemih, dilakukan untuk mengukur jumlah urin dalam kandung kemih.

Langkah pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis akan ditentukan oleh dokter berdasarkan gejala yang dialami oleh pasien.

Penanganan Syok Hipovolemik

Syok hipovolemik adalah kondisi yang dapat menyebabkan kematian jika tidak diatasi. Jika Anda mengalami atau mememukan seseorang yang mengalami gejala syok hipovolemik, segera hubungi tenaga medis.

Sebelum petugas kesehatan datang atau sebelum sampai di rumah sakit, terdapat beberapa langkah penanganan syok hipovolemik agar kondisinya tidak semakin memburuk. Berikut adalah beberapa hal yang harus dilakukan:

  • Mintalah orang yang diduga mengalami syok untuk berbaring rata dengan kaki terangkat sekitar 30 cm.
  • Jangan menggerakkan orang tersebut jika dicurigai terdapat cedera pada kepala, leher, maupun punggung.
  • Jaga orang tersebut tetap hangat untuk mencegah hipotermia.
  • Jangan berikan cairan melalui mulut.
  • Jangan mengkat kepala mereka.
  • Bersihkan kotoran-kotoran yang ada di sekitar lokasi cedera, namun jangan lepaskan benda yang mungkin tertanam atau tersangkut pada luka.
  • Jika area cedera bersih, gunakan benda semacam handuk untuk menahan darah agar tidak semakin banyak jumlah darah yang keluar.

Penanganan syok hipovolemik oleh petugas medis biasanya dimulai dengan memberikan tranfusi cairan atau darah melalui infus. Tujuannya adalah untuk meningkatkan sirkulasi darah dan mengisi kembali darah yang hilang untuk menstabilkan kerusakan akibat syok hipovolemik.

Transfusin yang mungkin diberikan termasuk transfusi plasma darah, trombosit, sel darah merah, atau kristaliod intravena. Dokter juga mungkin akan memberikan obat-obatan untuk meingkatkan sirkuklasi darah dan meningkatkan kekuatan pompa jantung.

Obat-obatan yang diberikan adalah seperti dopamine, dobutamin, norepinefrin, atau epinefrin. Pemberian antibiotik juga mungkin dilakukan untuk mencegah infeksi bakteri dan syik septik. Kondisi jantung pasien akan dipantau untuk melihat ekfektivitas perawatan yang dilakukan.

 

Sumber:

  1. Hypovolemic Shock – https://www.healthline.com/health/hypovolemic-shock diakses 6 Maret 2019
  2. What Is Hypovolemic Shock? – https://www.webmd.com/a-to-z-guides/hypovolemic-shock#1 diakses 7 Maret 2019