Terbit: 30 Maret 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Antonius Hapindra Kasim

Syok anafilaktik adalah reaksi alergi yang parah dan berpotensi mengancam jiwa. Kondisi ini dapat terjadi dalam beberapa detik atau menit setelah terpapar zat yang membuat Anda alergi seperti makanan atau sengatan hewan. Saat tubuh mengalami kondisi ini, tekanan darah akan menurun dan saluran udara menyempit sehingga menghalangi pernapasan normal. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Syok Anafilaktik: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Syok Anafilaktik?

Seperti penjelasan sebelumnya, syok anafilaktik adalah kondisi berbahaya dan berpotensi mengancam jiwa yang disebabkan oleh reaksi alergi. Alergi sendiri terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang bereaksi berlebihan terhadap zat yang tidak berbahaya yang disebut alergen. Reaksi ini menyebabkan tubuh melepaskan senyawa kimia yang menyebabkan iritasi dan gejala lainnya. Biasanya, reaksi alergi ringan hanya menyebabkan gejala seperti ruam atau pilek.

Syok anafilaktik sendiri adalah sesuatu yang jarang terjadi dan dapat mengancam jiwa jika tidak segera mendapatkan penanganan medis yang cepat dan tepat. Meski begitu, jika seseorang pernah mengalami alergi jenis ini, tubuhnya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami reaksi alergi lain. Selain itu, Anda juga memiliki risiko lebih tinggi jika memiliki riwayat keluarga dengan kondisi ini atau menderita asma.

Gejala Syok Anafilaktik

Gejala syok anafilaktik biasanya terjadi dalam beberapa menit setelah terpapar alergen. Namun, pada beberapa kasus lain gejala bisa terjadi 30 menit atau lebih lama setelah paparan terjadi. Tanda dan gejala yang bisa dikenali, antara lain:

  • Kulit gatal, memerah, atau pucat
  • Tekanan darah rendah (hipotensi)
  • Kesulitan bernapas
  • Denyut nadi bisa melemah atau cepat
  • Pusing
  • Penurunan kesadaran atau pingsan

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Segera cari bantuan medis jika mengalami reaksi alergi parah, jangan menunggu sampai gejalanya menghilang. Apabila seseorang yang mengalami syok anafilaktik membawa epinephrine autoinjector, berikanlah dengan segera. Jika gejala membaik setelah injeksi, pergi rumah sakit tetap diperlukan untuk memastikan gejala tidak kambuh.

Penyebab Syok Anafilaktik

Sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi yang berguna untuk melawan zat asing seperti bakteri atau virus. Namun ada juga sistem kekebalan tubuh yang bereaksi berlebihan terhadap zat yang biasanya tidak menyebabkan reaksi alergi.

Pemicu syok anafilaktik yang paling umum pada anak-anak adalah alergi makanan seperti kacang-kacangan, ikan, kerang, dan susu. Sementara pemicu pada orang dewasa adalah:

  • Obat-obatan tertentu, termasuk antibiotik, aspirin, penghilang rasa sakit  yang dijual bebas, dan intravenous (IV) contrast yang digunakan dalam beberapa tes pencitraan.
  • Sengatan lebah, semut, atau hewan lainnya.

Faktor Risiko

Tidak banyak faktor risiko yang diketahui menyebabkan syok anafilaktik, akan tetapi terdapat beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko, di antaranya:

  • Jika Anda pernah mengalami syok anafilaktik sebelumnya, risiko untuk mengalami reaksi serius ini akan meningkat. Reaksi di masa depan mungkin lebih parah daripada reaksi pertama.
  • Rhinitis alergi atau asma. Orang yang memiliki kedua kondisi tersebut berisiko lebih tinggi mengalami kondisi ini.
  • Penyakit lain termasuk penyakit jantung dan akumulasi abnormal dari jenis sel darah putih tertentu.

Diagnosis Syok Anafilaktik

Dokter akan bertanya tentang reaksi alergi sebelumnya, termasuk apakah Anda telah bereaksi terhadap:

  • Makanan tertentu
  • Obat-obatan
  • Lateks
  • Sengatan serangga

Guna membantu diagnosis, Anda mungkin disarankan untuk:

  • Tes darah untuk mengukur jumlah enzim tertentu (tryptase) yang dapat meningkat hingga tiga jam setelah syok anafilaktik.
  • Uji alergi bisa dilakukan dengan tes kulit atau tes darah untuk membantu menentukan pemicunya.

Pengobatan Syok Anafilaktik

Selama serangan alergi terjadi, Anda (sebagai penolong) mungkin diharuskan untuk melakukan cardiopulmonary resuscitation (CPR) terhadap pasien jika ditemui syok anafilaktik dengan henti napas atau henti jantung. Selain itu, pasien mungkin akan diberikan obat-obatan, antara lain:

  • Epinephrine untuk mengurangi respons alergi tubuh.
  • Intravena (IV) antihistamin dan kortison untuk mengurangi radang saluran udara dan meningkatkan pernapasan.
  • Beta-agonist (seperti albuterol) untuk mengatasi gangguan pernapasan.

Komplikasi Syok Anafilaktik

Tanpa perawatan yang cepat seseorang mungkin tidak dapat bernapas. Seseorang mungkin mengalami kerusakan otak akibat kurangnya suplai oksigen ke otak.

Beberapa orang dengan anafilaktik dapat memiliki kondisi alergi kedua yang disebut anafilaktik bifasik. Reaksi sekunder ini dapat terjadi 12-72 jam setelah reaksi alergi pertama.

Komplikasi lainnya yang bisa terjadi, antara lain:

  • Gagal ginjal.
  • Syok kardiogenik, suatu kondisi yang menyebabkan jantung  tidak memompa cukup darah ke tubuh.
  • Aritmia, detak jantung yang terlalu cepat atau terlalu lambat.
  • Serangan jantung.

Dalam beberapa kasus, syok anafilaktik bisa membuat kondisi medis yang sudah ada sebelumnya menjadi semakin memburuk. Semakin cepat Anda mendapatkan perawatan, semakin sedikit komplikasi yang mungkin dialami.

Pencegahan Syok Anafilaktik

Cara terbaik untuk mencegah kondisi ini adalah menghindari zat yang menyebabkan reaksi alergi. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Jika Anda alergi terhadap sengatan serangga, kenakan kemeja dan celana lengan panjang, jangan berjalan tanpa alas kaki, hindari menggunakan parfum, cologne, atau lotion beraroma kuat.
  • Jika Anda memiliki alergi makanan, baca dengan cermat label semua makanan kemasan yang Anda beli. Saat Anda makan di luar, cari tahu bahan dan bagaimana setiap hidangan disiapkan, sejumlah kecil makanan yang menyebabkan alergi dapat menyebabkan reaksi serius.
  • Beri tahu dokter tentang reaksi obat yang Anda alami.

Hal penting lainnya yang tidak boleh dilewatkan adalah menyiapkan kit darurat yang tersedia setiap saat. Jika Anda memiliki epinephrine autoinjector, jangan lupa periksa tanggal kedaluwarsanya.

 

  1. Anaphylaxis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anaphylaxis/symptoms-causes/syc-20351468. (Diakses pada 30 Maret 2020).
  2. Allergies and Anaphylaxis. https://www.webmd.com/allergies/anaphylaxis#1. (Diakses pada 30 Maret 2020).
  3. Gotter, Ana. 2016. Anaphylactic Shock: What You Need to Know. https://www.healthline.com/health/anaphylactic-shock. (Diakses pada 30 Maret 2020).
  4. Villines, Zawn. 2018. What are the symptoms of anaphylactic shock. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321118#treatment. (Diakses pada 30 Maret 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi