10 Syarat Donor ASI yang Tak Boleh Diabaikan demi Keamanan Bayi

inilah-syarat-donor-ASI-yang-tak-boleh-diabaikan-doktersehat

DokterSehat.Com – Idealnya, seorang bayi bisa mendapatkan ASI ibu kandungnya sendiri. Akan tetapi, terdapat berbagai sebab yang membuat seorang ibu kandung tidak bisa memberikan ASI sekali pun untuk ASI perah.

Beberapa penyebab tersebut seperti jumlah ASI ibu yang tidak cukup, kelahiran prematur, penyakit menular, perawatan medis tertentu, memiliki bayi kembar, ibu meninggal dunia, dan lainnya.

Apabila kondisi-kondisi tersebut terjadi maka sang bayi tidak dapat menerima ASI ibu kandungnya. Hal ini menjadikan Donor ASI sebagai alternatif solusi untuk mendukung ASI Eksklusif bagi bayi.

Syarat donor ASI yang tak boleh diabaikan

Solusi donor ASI harus dilakukan dengan hati-hati dan bijaksana supaya solusi tersebut bisa bermanfaat bagi bayi. Donor ASI bisa menjadi bumerang bagi bayi dan ibu bila tidak dilaksanakan dengan aman.

ASI ibu bisa menjadi media penularan penyakit tertentu. Dalam rangka menghindari hal-hal yang tak diinginkan untuk para bayi, terdapat beberapa syarat dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) yang harus dipenuhi oleh para donor ASI yang terbagi dalam 2 penapisan.

Berikut ini adalah 10 syarat donor ASI yang tak boleh diabaikan:

Penapisan I

  1. Memiliki bayi berusia kurang dari 6 bulan
  2. Sehat dan tidak mempunyai kontra indikasi menyusui
  3. Produksi ASI sudah memenuhi kebutuhan bayinya dan memutuskan untuk mendonasikan ASI atas dasar produksi yang berlebih
  4. Tidak menerima transfusi darah atau transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhir
  5. Tidak mengkonsumsi obat, termasuk insulin, hormon tiroid, dan produk yang bisa mempengaruhi bayi. Obat/suplemen herbal harus dinilai kompatibilitasnya terhadap ASI
  6. Tidak ada riwayat menderita penyakit menular, seperti hepatitis, HIV, atau HTLV2
  7. Tidak memiliki pasangan seksual yang berisiko terinfeksi penyakit, seperti HIV, HTLV2, hepatitis B/C (termasuk penderita hemofilia yang rutin menerima komponen darah), menggunakan obat ilegal, perokok, atau minum beralkohol

Penapisan II

  1. Harus menjalani skrining meliputi tes HIV, human T-lymphotropic virus (HTLV), sifilis, hepatitis B, hepatitis C, dan CMV (bila akan diberikan pada bayi prematur)
  2. Apabila ada keraguan terhadap status pendonor, tes dapat dilakukan setiap 3 bulan
  3. Setelah melalui tahapan penapisan, ASI harus diyakini bebas dari virus atau bakteri dengan cara pasteurisasi atau pemanasan

Apabila donor ASI telah lulus syarat pada dua penapisan maka para donor ASI perlu mengikuti aturan selanjutnya.

Proses produksi ASI perah yang bermutu dan aman

Proses Donor ASI belum selesai pada saat dinyatakan lulus persyaratan donor ASI dari IDAI. Ada beberapa hal yang harus dipenuhi dan dilakukan oleh para donor ASI demi keamanan bayi.

Demi keamanan dan kebaikan bayi Indonesia, IDAI telah menetapkan agar para donor ASI menjaga mutu dan keamanan ASI ibu. Mutu dan keamanan ASI ibu bisa terjami apabila donor ASI melakukan proses produksi seperti di bawah ini :

  1. Calon pendonor ASI harus mendapatkan pelatihan tentang kebersihan, cara memerah, dan menyimpan ASI perah
  2. Sebelum memerah ASI, cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, kemudian keringkan dengan handuk bersih
  3. ASI perah diproduksi di tempat yang bersih. Bila menggunakan pompa, gunakan yang bagiannya mudah dibersihkan. Pompa ASI tipe balon karet berisiko terkontaminasi.
  4. ASI perah harus disimpan pada tempat tertutup, botol kaca, kontainer plastik dari bahan polypropylene atau polycarbonate, botol bayi gelas atau plastik standar (perhatikan tata cara penyimpanan ASI)

Baca juga: ASI Perah, Bagaimana Cara Penyajiannya yang Tepat Setelah Disimpan?

Metode pemanasan ASI perah

Tugas donor ASI telah selesai sampai pada melakukan produksi ASI perah yang bermutu dan aman berdasarkan himbauan dari IDAI. Ada tugas lanjutan yang harus dilakukan oleh ibu kandung dari sang bayi yang bertindak sebagai penerima ASI perah dari donor ASI demi terjaganya mutu ASI.

Penerima donor ASI perah sangat dianjurkan untuk melakukan metode pemanasan berdasarkan himbauan IDAI dan AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia). Metode pemanasan ini merupakan tahap akhir menjaga keamanan dan mutu ASI demi kebaik bayi Anda.

Inilah beberapa metode pemanasan terhadap ASI perah dari donor ASI, yaitu:

1. Pasteurisasi Holder

Pada umumnya setiap Bank ASI melakukan metode pemanasan ini. Metode pasteurisasi holder membutuhkan pengukur suhu dan waktu yang akurat untuk melakukannya. Metode pasteurisasi holder adalah metode pemanasan ASI perah dalam wadah kaca tertutup dengan suhu 62,5 derajat Celcius selama 30 menit.

2. Pasteurisasi Pretoria

Metode pasteurisasi pretoria adalah metode pemanasan botol yang berisikan ASI perah di dalam wadah berisi air mendidih selama 20 menit. Berikut ini adalah tahapan pasteurisasi pretoria yang dianjurkan oleh IDAI.

  1. Tempatkan ASI sebanyak 50-150 ml kedalam wadah kaca (sisa selai) 450 ml.
  2. Tutup wadah kaca dan letakkan ke dalam panci aluminium 1 liter
  3. Tuangkan air mendidih 450ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bibir panci
  4. Dapat diletakkan pemberat diatas wadah kaca, kemudian tunggu selama 30 menit
  5. Pindahkan susu, dinginkan, dan berikan kepada bayi atau simpan di lemari pendingin

3. Flash Heating

Metode flash heating adalah metode pemanasan yang dilakukan dengan cepat di dalam air dengan suhu 100 derajat celcius. Berikut ini adalah tahapan metode pemanasan flash heating yang dianjurkan oleh IDAI.

  1. Tempatkan ASI sebanyak 50-150 ml kedalam wadah kaca 450 ml
  2. Wadah kaca ditutup sampai saat dilakukan flash heating
  3. Untuk melakukan flash heating, buka tutup wadah dan letakkan dalam 1 liter Hart Pot (pemanas susu)
  4. Tuangkan air 450 ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bibir panci
  5. Didihkan air, bila telah timbul gelembung pindahkan wadah dengan cepat dari air dan sumber panas
  6. Dinginkan ASI, berikan kepada bayi atau simpan di lemari pendingin

 

Sumber:

  1. //www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/donor-asi
  2. https://aimi-asi.org/layanan/lihat/donor-asi-membantu-vs-bumerang-bagi-ibu-menyusui