Sorang wanita bernama Xiaoyan melahirkan bayi di sebuah rumah sakit yang ada di Kota Wuhan, Tiongkok. Masalahnya adalah sang ibu termasuk dalam orang yang diduga terinfeksi virus corona. Bagaimana kondisi sang bayi dan ibunya?

bayi-virus-corona-doktersehat

Suspek Virus Corona Melahirkan Bayi

Xiaoyan diketahui berusia 28 tahun dan sudah mengandung selama 37 minggu saat dirinya harus diperiksa akibat diduga terpapar virus corona. Sebagaimana kita ketahui, tempat Xiaoyan tinggal, yakni Kota Wuhan adalah pusat dari wabah virus yang bisa memicu pneumonia yang sangat parah tersebut. Saat melahirkan, Xiaoyan masih belum dipastikan sudah terpapar virus corona atau tidak.

Dokter langsung menjalani operasi caesar pada Xiaoyan karena kondisi kesehatannya yang semakin menurun. Selain itu, posisi bayi yang sudah menekan rahim Xiaoyan juga menjadi pertimbangan dokter melakukan prosedur ini.

Masalahnya adalah prosedur persalinan ini ternyata cukup berbahaya. Hal ini disebabkan oleh kondisi Xiaoyan yang sedang mengalami demam tinggi dan terus-menerus mengalami batuk. Para dokter dan tenaga medis lainnya juga rentan terinfeksi virus corona saat melakukannya.

Salah satu dokter yang terlibat dalam proses persalinan ini, Zhao Yin dari Union Hospital, Wuhan mengaku sangat sulit melakukan proses persalinan ini akibat dirinya harus memakai pakaian pelindung demi mencegah penularan virus corona.

“Aku sulit mendengar atau melihat apapun karena sekujur tubuhku berkeringat. Aku tetap harus memakai pakaian pelindung, masker, dan kaca mata khusus,” terangnya.

Sang bayi dengan berat 3,1 kg terlahir dengan selamat. Sang ibu juga masih dalam proses pemulihan sekaligus menunggu hasil pemeriksaan virus corona. Sang bayi langsung dipulangkan dari rumah sakit demi mencegah penularan virus corona.

Virus Corona Juga Bisa Menyerang Anak dan Bayi?

Kasus penularan virus corona yang ditemukan di Malaysia pada 25 Januari 2020 lalu mengungkap fakta bahwa orang yang tertular adalah nenek dengan usia 65 tahun dan dua cucunya yang masih berusia 11 dan 2 tahun. Selain itu, ada kabar yang menyebut bayi berusia sembilan bulan yang berasal dari Beijing juga terpapar virus ini.

Melihat fakta ini, pakar kesehatan pun menyarankan siapa saja, termasuk anak-anak untuk memberikan perlindungan bagi tubuhnya demi mencegah penularan virus corona yang bisa memicu pneumonia dan dampak berbahaya lainnya.

Hanya saja, pakar kesehatan menyebut kasus penularan virus corona pada anak atau bayi cenderung rendah. Fakta ini terungkap dari penelitian yang dilakukan Emerging Infectious Diseases pada 2010 lalu. Selain itu, Badan Pencegah dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga menyebut kasus virus corona yang menyerang anak-anak atau bayi hanya terjadi kurang dari 5 persen dari total kasus.

Meskipun begitu, jika sampai anak terpapar virus corona, risiko untuk terkena infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA akan meningkat. Selain itu, virus corona yang menyebar dari Wuhan adalah jenis baru sehingga ada kemungkinan bisa memberikan dampak kesehatan yang lebih buruk, termasuk dalam hal memicu pneumonia.

Rendahnya Persentasi Kasus Virus Corona Pada Anak Dipengaruhi Beberapa Faktor

Jika dicermati, anak-anak dan bayi biasanya dilarang untuk masuk ke dalam rumah sakit, terkecuali jika mereka membutuhkan pertolongan medis. Alasan dari larangan ini adalah sistem kekebalan tubuh mereka yang masih berkembang dan belum sempurna sehingga dianggap rentan terpapar infeksi atau kuman yang bisa saja membuat mereka jatuh sakit.

Selain itu, banyak orang tua yang cenderung jarang membawa anak-anak atau bayi di tempat keramaian. Hal ini membuat mereka tidak mudah tertular penyakit yang sedang mewabah. Hanya saja, jika ada anggota keluarga yang juga terpapar virus corona, bisa jadi mereka juga akan ikut tertular.

 

Sumber

  1. Anonim. 2020. Suspected Chinese coronavirus patient gives birth to baby by caesarean. https://www.channelnewsasia.com/news/asia/suspected-wuhan-virus-patient-gives-birth-baby-caesarean-12361770. (Diakses pada 29 Januari 2020).