Sunat Bisa Mengurangi Risiko AIDS

DokterSehat.com – Penularan HIV/AIDS bisa terjadi melalui hubungan seksual. Tahukah Anda bahwa sunat (sirkumsisi) bisa mengurangi risiko penularan penyakit yang mematikan ini? Ya. Menurut penelitian penularan penyakit AIDS ini bisa ditekan hingga lebih dari 60 % dengan bersunat. Jadi dengan kata lain pria bersunat lebih rendah risikonya untuk terkena HIV/AIDS daripada pria yang tidak bersunat.

Menurut David Lewis dari University of the Witwatersrand, Afrika Selatan, sunat merupakan pencegahan yang sederhana, murah, hanya memakan waktu 20 menit dan dilakukan sekali seumur hidup.

Bahkan pada uji coba tahun 2006 di Kenya, Uganda, dan Afrika Selatan, membuktikan bahwa risiko penularan HIV bisa ditekan hingga separuhnya. Penelitian jangka panjang bahkan menunjukkan sunat memiliki manfaat lebih besar dari yang selama ini diketahui. Para ahli menyebut manfaat sunat sebagai “vaksin melalui operasi” karena memiliki efek pencegahan yang efektif dan murah.

Oleh karena itulah, sekarang ini para ahli terus mengampanyekan pentingnya sunat pada pria dari negara-negara sub-Sahara Afrika yang menjadi “rumah” bagi sepertiga dari 33 juta orang yang hidup dengan HIV/AIDS di dunia. Diperkirakan 175.000 prosedur sirkumsisi telah dilakukan di lebih dari 13 negara yang merupakan negara prioritas menurut Badan Dunia Pencegahan AIDS pada pertengahan tahun 2010 lalu.

Studi terbaru dilakukan antara tahun 2007 dan 2010 di kota provinsi Orange Farm yang sudah melakukan 20.000 prosedur sirkumisisi terutama pada kelompok usia 15-24 tahun yang merupakan kelompok paling aktif secara seksual.

Dalam forum AIDS internasional yang berlangsung di Roma, Italia, pekan ini, para ahli memaparkan tiga bukti ilmiah terbaru manfaat sunat untuk mencegah infeksi HIV. Manfaat dari sunat tersebut sebagai berikut:

  1. Merasa lebih bergairah secara seksual. Pria yang disunat mengaku mereka lebih bergairah secara seksual. Hal ini terungkap dalam penelitian terhadap 316 pria berusia rata-rata 22 tahun yang menjalani prosedur sunat antara Februari dan September 2009. Setahun setelah operasi, 220 pria mengatakan mereka aktif secara seksual dan seperempatnya menggunakan kondom saat berhubungan seks. Sekitar 87,7 % menjawab tidak ada kesulitan dalam mencapai orgasme setelah disunat dan 92,3 % mengaku lebih bergairah.
  2. Tetap bisa melakukan seks yang aman. Pria yang baru disunat merasa mereka tak berbeda dengan pria yang tidak disunat dalam mempraktikkan seks yang aman. Kesimpulan itu merupakan hasil wawancara dengan 2.207 pria di Kenya, enam bulan pascaoperasi. Hal tersebut menjawab ketakutan para ahli bahwa pria yang disunat akan menolak melindungi dirinya dari infeksi HIV.

Namun, menurut Peraih Nobel tahun 2008, Francoise Barre-Sinoussi, yang menemukan HIV sebagai penyebab AIDS, rasa percaya diri yang berlebihan pada pria yang sudah disunat perlu dikhawatirkan. Karena tidak ada yang bisa menjamin perlindungan sampai 100 %, bahkan vaksin sekalipun. Berhentilah berpikir satu upaya perlindungan sudah cukup. Prosedur sunat adalah bagian dari upaya perlindungan diri selain juga pemakaian kondom, tambah Francoise.

Manfaat perlindungan dari sunat tidak ditemui pada perempuan yang melakukan hubungan seks dengan pria yang terinfeksi HIV. Hal yang sama juga berlaku pada pria homoseksual yang melakukan hubungan seks dengan orang dengan HIV AIDS.

 

 

Sumber: health.kompas.com