Terbit: 6 Mei 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Mom, apakah anak Anda menunjukkan ketakutan setiap belajar matematika? Apakah anak Anda sering menghindar setiap menemui hal yang berkaitan dengan angka? Jika ya, ada kemungkinan anak Anda mengalami dyscalculia.

Sulit Memahami Matematika, Mungkinkah Si Kecil Mengalami Dyscalculia?

Apa itu dyscalculia?

Belajar matematika adalah momok bagi sebagian anak. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa sekitar 7% anak yang duduk di sekolah dasar mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Hal ini disebut dyscalculia. Kesulitan anak umumnya meliputi kesulitan menghafal rumus, menghitung dan memahami simbol matematika. Dyscalculia biasanya dialami oleh anak dengan ADHD (ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), namun bukan berarti dyscalculia merupakan salah satu gangguan mental.

Gejala dyscalculia

Salah satu gejala dyscalculia yang paling mudah diamati adalah anak memiliki nilai rendah untuk matematika. Namun apabila anak belum bersekolah, salah satu gejalanya adalah di saat anak-anak seusianya sudah tidak lagi menghitung dengan jari, anak dengan dyscalculia masih perlu melakukannya.

Gejala dyscalculia yang lain adalah sulit memperkirakan ukuran, jarak, tinggi benda, dan membaca jam. Anak dengan dyscalculia juga umumnya sulit mengenali pola dan sulit menghitung uang kembalian. Terkadang anak dengan dyscalculia sulit membedakan angka yang mirip seperti 68 dan 86.

Cara mendampingi anak dengan dyscalculia

Jika anak Mom mengalami kesulitan dalam pelajaran Matematika, sebaiknya jangan terburu-buru menganggapnya mengalami dyscalculia untuk mengetahui kemungkinan gangguan lain. Lakukan pemeriksaan di klinik tumbuh kembang anak atau konsultasi pada pakar tumbuh kembang anak.

Anda juga bisa menyampaikan kondisi anak Anda pada pihak sekolah untuk membantu memberikan solusi seperti pelajaran tambahan atau waktu khusus untuk mengerjakan tugas dan ulangan di sekolah. Orang tua dan guru juga perlu menemukan cara belajar matematika yang tepat bagi anak.

Yang perlu diingat, jangan pernah berhenti memotovasi anak untuk terus belajar dan berlatih matematika. Puji setiap usahanya, dan hargai setiap perkembangan yang dialami. Dengan demikian, anak tidak lagi cemas setiap bertemu dengan angka.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi