Stress Karena Terlalu Banyak Belajar, Rambut Balita Ini Rontok!

doktersehat-anak-belajar-stres

DokterSehat.Com– Balita berusia 3 tahun yang dipanggil Tong Tong dari Shanghai, China, mengalami nasib yang cukup mengenaskan. Bagaimana tidak, di usianya yang masih semuda itu, Ia mengalami kerontokan rambut yang cukup parah. Penyebabnya ternyata karena Ia dipaksa untuk terlalu banyak belajar oleh orang tuanya.

Orang tua Tong Tong ingin buah hatinya bisa masuk ke TK elite sehingga memasukkan balita malang ini ke 5 kelas pra taman kanak-kanak yang berbeda; yakni kelas matematika, kelas piano, kelas kesenian, kelas komunikasi publik, bahkan kelas Bahasa Inggris! Karena terlalu banyak belajar, Tong Tong pun stress dan mulai menunjukkan gejala kerontokan rambut.

Pada awalnya, sang ibu menemukan ada beberapa helai rambut di bantal Tong Tong. Ia pun kemudian mengecek kondisi buah hatinya saat tidur dan menyadari jika anaknya ini kerap berkeringat dan beberapa kali tersentak saat tidur. Sayangnya, sang ibu berpikir jika kondisi ini disebabkan oleh kekurangan kalsium sehingga hanya memberikan suplemen pada buah hatinya ini. Namun, kerontokan rambut yang diderita Tong Tong justru semakin parah dan memicu bekas botak pada kepalanya. Karena khawatir, orang tuanya pun langsung memeriksakan Tong Tong ke rumah sakit yang ada di daerah Wuhan.

Sang dokter pun mendiagnosis Tong Tong terkena Alopecia Areata, semacam penyakit autoimun yang memicu kerontokan rambut pada kulit kepala atau wajah. Biasanya, hal ini terjadi pada remaja atau orang dewasa, bukannya balita. Setelah diinterogasi oleh dokter, sang ibu pun mengaku jika anaknya dipaksa untuk banyak belajar demi masuk ke dalam TK elite. Melihat adanya penjelasan ini, dokter pun meminta orang tua Tong Tong untuk tidak memaksakan anaknya belajar karena membuatnya stress dan mengalami masalah kerontokan ini.

Alopecia Areata ternyata kerap menyerang para remaja yang masih menjadi siswa sekolah menengah di China. Penyebab dari masalah kesehatan ini ternyata adalah tekanan untuk selalu mendapatkan nilai yang tinggi yang akhirnya membuat mereka stress. Cukup banyak laporan yang menyebutkan siswa sekolah yang kehilangan alis gara-gara hal ini.