Terbit: 2 Maret 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Kita tentu pernah melihat iklan lowongan pekerjaan yang menyaratkan seseorang mampu bekerja di bawah tekanan. Padahal, tekanan ini bisa menyebabkan datangnya stres. Kebanyakan orang berpikir jika stres adalah sesuatu yang wajar. Padahal, jika sampai kita terus-menerus mengalami stres, maka risiko untuk terkena berbagai macam penyakit pun akan muncul. Salah satunya adalah datangnya kanker.

hubungan-stres-dengan-kadar-kolesteroldoktersehat

Kaitan antara stres dan risiko kanker

Sebuah penelitian yang dilakukan di Dalian Medical University, Tiongkok dengan melibatkan tikus percobaan menghasilkan fakta bahwa stres dalam jangka panjang cenderung meningkatkan risiko perkembangan sel kanker. Temuan ini kemudian dipublikasikan hasilnya dalam Journal of Clinical Investigation. Dalam penelitian ini, disebutkan bahwa stres terkait dengan adanya hormon epinefrin.

“Meski kita sudah membunuh seluruh sel tumor, namun jika sel induk kankernya tidak dibunuh, maka tumor ini akan terus tumbuh,” ungkap salah satu peneliti yang terlibat, Keith Kelley dari University of Illinois, Chicago.

Kelley menyebut penelitian ini sebagai yang pertama kali dilakukan untuk mengetahui kaitan antara stres kronis dengan risiko perkembangan sel-sel induk yang menyebabkan kanker payudara. Para peneliti menggunakan tikus percobaan untuk mengetahuinya.

Hasilnya adalah, tikus yang dikondisikan agar mengalami kondisi stres cenderung mengalami depresi dan kecemasan berlebih. Tikus-tikus ini kemudian memiliki tumor kanker dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan tikus-tikus dari kelompok yang tidak dikondisikan stres. Tumor pada tikus yang mengalami stres juga tumbuh dengan sangat cepat meskipun para peneliti masih belum benar-benar menemukan rincian tentang bagaimana stres mampu membuat perkembangan kanker menjadi lebih cepat.

“Sepertinya stres bisa menyebabkan keluarnya biokimia khusus yang mampu meningkatkan pertumbuhan sel kanker. Hanya saja, kami belum benar-benar menemukan kaitannya,” ungkap Quentin Liu yang memimpin penelitian ini.

Penyakit yang bisa disebabkan oleh stres

Selain meningkatkan risiko terkena kanker, pakar kesehatan menyebut ada beberapa penyakit lain juga bisa muncul jika kita mengalami stres dalam jangka panjang.

Berikut adalah penyakit-penyakit yang bisa muncul tersebut.

  1. Penyakit jantung

Pakar kesehatan menyebut masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek stres pada kesehatan jantung, namun cukup banyak pakar kesehatan yang menyebut stres terkait dengan peningkatan tekanan darah dan kadar kolesterol. Hal inilah yang dipercaya ikut menyebabkan meningkatnya risiko terkena penyakit jantung.

Stres juga bisa membuat kita lebih rentan mengalami perubahan gaya hidup menjadi semakin tidak sehat seperti merokok, mengonsumsi alkohol, hingga semakin malas bergerak yang bisa memicu datangnya penyakit jantung.

  1. Diabetes

Hormon kortisol yang jumlahnya meningkat saat stres ternyata bisa mempengaruhi kemampuan tubuh dalam mengendalikan kadar gula darah. Bahkan jika kita mengalami depresi, risiko untuk mengalami gangguan kadar gula darah yang terkait dengan risiko diabetes juga meningkat.

Stres juga membuat kita seperti memiliki keinginan berlebih untuk makan. Padahal, sudah menjadi rahasia umum jika makan berlebih terkait dengan obesitas dan diabetes.

  1. Gangguan pencernaan

Di dalam pencernaan juga terdapat sistem saraf yang terkait dengan otak. Jika kita mengalami stres, maka sistem saraf ini akan mengalami gangguan dalam mengendalikan sirkulasi darah dan kontraksi otot pada pencernaan. Hal ini akan menyebabkan datangnya gangguan pada lambung dan usus.

  1. Penyakit mata

Telah ada penelitian yang membuktikan bahwa stres yang berlebihan bisa membuat penurunan penglihatan akibat tekanan darah dan hormon kortisol yang terus meningkat dan akhirnya mengganggu aliran darah menuju mata.

  1. Sakit kepala

Stres akan menyebabkan kenaikan hormon kortisol dan adrenalin yang akhirnya mempengaruhi aliran darah menuju otak. Otak yang tidak mendapatkan asupan oksigen dengan cukup akhirnya mengalami sakit kepala.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi