STEMI: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Lainnya

perbedaan-STEMI-dan-NSTEMI-doktersehat

DokterSehat.Com – Serangan jantung termasuk masalah kesehatan yang cukup serius. Salah satu jenis serangan jantung yang paling sering terjadi adalah STEMI. Tidak hanya paling sering terjadi, STEMI adalah jenis serangan jantung yang paling serius.

Orang yang mengalami STEMI perlu mendapatkan penanganan secepatnya karena bisa berakibat fatal hingga menyebabkan kematian. Oleh sebab itu, ketahuilah pengertian, penyebab, gejala, diagnosis, komplikasi, dan pengobatan STEMI!

Apa itu STEMI?

STEMI adalah singkatan dari ST-segment Elevation Myocardial Infarction. Jenis serangan jantung ini terjadi bilamana salah satu atau lebih dari satu pembuluh darah jantung tersumbat total secara tiba-tiba.

Akibatnya, otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan nutrisi, sehingga akan rusak dan mati. Kematian otot jantung akan terus berkembang hingga mencapai seluruh otot yang ada di dinding jantung hanya dalam waktu 1 hari.

Ini bisa menyebabkan terjadinya iskemia jantung. Seseorang yang mengalami STEMI perlu mendapatkan pertolongan segera karena ini merupakan serangan jantung yang paling berbahaya di antara semua jenis serangan jantung.

Selain STEMI, ada juga jenis serangan jantung NSTEMI (Non-ST segment Elevation Myocardial Infarction). Istilah keduanya memang hampir sama dan hanya berbeda sedikit. Mungkin, masih ada yang keliru memahami STEMI dan NSTEMI.

Perbedaan STEMI dan NSTEMI

NSTEMI (Non-ST segment Elevation Myocardial Infarction) adalah jenis serangan jantung yang terjadi ketika salah satu atau lebih pembuluh darah jantung mengalami penyumbatan sebagian.

Otot jantung pun hanya mendapatkan sedikit pasokan darah dan nutrisi. Meskipun, kondisi aliran darah keduanya berbeda, tetapi orang yang mengalami STEMI dan NSTEMI biasanya menunjukkan gejala yang mirip, sehingga sulit dibedakan.

Tim medis lah yang tahu pasien mengalami STEMI atau NSTEMI. Cara membedakan seseorang mengalami NSTEMI atau STEMI adalah dengan EKG (Elektrokardiogram). NSTEMI memang tidak separah STEMI, tetapi NSTEMI tetap berbahaya dan berisiko pada kematian.

Oleh karena itu, pasien yang mengalami serangan jantung sebaiknya tetap harus segera dibawa ke dokter untuk menjalani diagnosis jenis serangan jantung dan mendapatkan pertolongan segera.

Penyebab STEMI

Penyebab STEMI yang utama adalah karena adanya penyumbatan di pembuluh darah jantung. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan sumbatan pada pembuluh jantung. Penyumbatan ini biasanya terjadi secara bertahap.

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa menjadi penyebab STEMI:

  • Aterosklerosis – Kondisi ini akan menyumbat aliran darah di pembuluh jantung. Hal ini terjadi secara bertahap.
  • Adanya plak – Plak yang tidak terkait aterosklerosis juga bisa menyumbat aliran darah di pembuluh jantung. Pembentukkan plak berlangsung secara bertahap
  • Trauma pada jantung – Trauma seperti tusukan benda tajam ke jantung bisa menyumbat aliran pembuluh darah di jantung
  • Pasca operasi – Operasi jantung sering kali menyisakan beberapa komplikasi. Salah satunya adalah penyumbatan
  • Masalah jantung – Masalah jantung tertentu bisa menyebabkan aliran pembuluh darah tersumbat.
  • Penggunaan narkoba – Para pecandu narkoba bisa mengalami kejang pada otot jantung dan mengakibatkan sumbatan pada pembuluh darah jantung.

Serangan jantung STEMI memiliki beberapa faktor risiko. Orang-orang dengan faktor risiko tersebut memiliki peluang kejadian STEMI yang lebih tinggi.

Inilah beberapa faktor risiko terjadinya STEMI:

  • Dislipidemia
  • Diabetes mellitus
  • Tekanan darah tinggi
  • Kadar kolesterol tinggi
  • Kebiasaan merokok
  • Riwayat keluarga penyakit jantung koroner
  • Pecandu narkoba
  • Status gizi overweight atau obesitas
  • Kurang olahraga
  • Kebiasaan makan yang tidak baik (sering mengonsumsi menu junk food, berminyak, berlemak tinggi, dan lainnya)
  • Usia lebih dari 50 tahun

Gejala STEMI

Sumbatan pada pembuluh darah total yang mengakibatkan kematian otot jantung akan menimbulkan beberapa kondisi. Kondisi sebagai efek kematian otot jantung itu adalah gejala STEMI.

Berikut ini adalah beberapa gejala STEMI:

  • Nyeri dada yang hebat
  • Dada terasa tertekan kuat (seolah seperti ada kepalan tangan di dada)
  • Rasa nyeri di leher, rahang, bahu, dan lengan
  • Keringat berlebih
  • Sesak napas
  • Mual dan muntah
  • Kelelahan dan jatuh secara tiba-tiba
  • Palpitasi (perubahan detak jantung)
  • Sakit kepala
  • Gangguan pencernaan
  • Rasa cemas atau gelisah

Gejala STEMI bisa bervariasi antar pasien. Tidak semua pasien mengalami gejala yang sama dan spesifik. Ada juga pasien yang mengalami STEMI tetapi gejalanya tidak jelas.

Kapan pergi ke dokter?

Apabila Anda mengalami gejala STEMI yang telah disebutkan terutama pada nyeri dada yang parah, maka segeralah memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan menindaklanjutinya dengan tindakan diagnosis.

Diagnosis STEMI

Biasanya, diagnosis STEMI bisa dilakukan dengan cepat. Setelah pasien yang mengalami STEMI mendapatkan perawatan medis guna mencegah dampak buruk, dokter akan melakukan diagnosis STEMI dengan menggunakan EKG (Elektrokardiogram).

Melalui pemeriksaan dengan EKG, dokter akan mengetahui grafik detak jantung pasien. Hasil detak jantung tersebut akan dibaca. Pasien dengan kondisi STEMI memiliki grafik detak jantung yang tidak datar.

Komplikasi STEMI

Seseorang yang mengalami serangan jantung jenis STEMI dan tidak mendapatkan pertolongan segera bisa mengalami iskemia jantung dan aritmia jantung. Aritmia jantung bisa memicu kematian karena jantung berhenti secara mendadak.

Pengobatan STEMI

Pengobatan STEMI dilakukan sejak pasien dibawa ke rumah sakit, yakni dengan memberikan oksigen dan obat-obatan. Beberapa jenis obat yang diberikan, yaitu obat antikoagulan, antiplatelet, beta-blocker, dan obat anti nyeri.

Pemberian obat-obatan tersebut bertujuan untuk menghilangkan sumbatan pembuluh darah jantung pasien dan mengatasi gejala STEMI. Sumbatan pembuluh darah seharusnya cepat dihilangkan.

Pasalnya, semakin cepat sumbatan dihilangkan, maka semakin berkurang kerusakan otot jantung yang terjadi. Selain itu, pengobatan juga bisa dilakukan dengan operasi angioplasti. Operasi ini bertujuan untuk memasang cincin di jantung agar pembuluh jantung kembali terbuka.

Apabila kondisi pasien cukup parah dan menyebabkan jantung terhenti, maka pengobatan STEMI bisa dilakukan dengan memberikan alat pacu jantung (Defibrilator) agar jantung kembali berdetak.

Setelah pasien pulih, pengobatan dilanjutkan dengan perawatan di rumah. Perawatan rumahan yang dilakukan seperti perbaikan menu, menghentikan kebiasaan merokok, melakukan olahraga secara rutin, dan lainnya.

 

 

Sumber:

  1. ISIC: SERANGAN JANTUNG TIPE STEMI (ST-ELEVATION MYOCARDIAL INFARCTION). http://www.isic.or.id/patient_education_and_collaboration/2014/10/serangan_jantung_tipe_stemi_st-elevation_myocardial_infarction_5 [diakses pada 10 Juli 2019]
  2. VeryWellHealth: ST-Segment Elevation Myocardial Infarction. Richard NF, MD. https://www.verywellhealth.com/stemi-st-segment-elevation-myocardial-infarction-1746032 [diakses pada 10 Juli 2019]
  3. NCBI: Acute Myocardial Infarction ST Elevation (STEMI). Christopher F & Steven M. 2018. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532281/ [diakses pada 10 Juli 2019]
  4. ECGMedicalTraining: What is a STEMI? https://www.ecgmedicaltraining.com/what-is-a-stemi/ [diakses pada 10 Juli 2019]