Terbit: 26 Juni 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Dalam dunia kesehatan seksual, ada dua gangguan besar yang kerap membuat pria kebingungan. Gangguan itu adalah disfungsi ereksi dan ejakulasi dini. Disfungsi ereksi adalah gangguan pada penis yang membuat organ seksual ini tidak bisa mengalami pengerasan secara maksimal sehingga penetrasi susah terjadi.

Berapa Menit Standar Ejakulasi Dini yang Bisa Dialami oleh Pria?

Sementara itu ejakulasi dini adalah gangguan pada kinerja penis yang membuat organ ini tidak bisa melakukan kerjanya dengan maksimal. Pria jadi mudah mengalami ejakulasi meski mereka belum menginginkannya.

Nah, sesuai dengan judul, pada artikel ini kita akan membahas seputar ejakulasi dini khususnya standar waktu yang bisa mengategorikan apakah pria mengalami gangguan ini atau tidak.

Sekilas tentang ejakulasi dini

Ejakulasi dini adalah ketidakmampuan pria mempertahankan diri sehingga mereka mudah sekali “keluar”. Pria yang memiliki kondisi fisik normal biasanya mampu mempertahankan rangsangan yang diterima oleh penis. Kalau mereka merasa rangsangannya terlalu besar, bisa diperlambat.

Pria yang mengalami ejakulasi dini susah melakukan kontrol. Karena kondisi tertentu, mereka jadi cepat mengalami ejakulasi padahal seks yang dilakukan hanya beberapa menit saja.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

Ejakulasi dini membuat pria tidak puasa secara seksual maupun psikologis. Mereka juga merasa kalau apa yang dilakukan juga bisa berdampak pada pasangan sehingga stres pun bisa terjadi.

Penyebab ejakulasi dini

Secara umum ada dua jenis gangguan yang menyebabkan pria mengalami ejakulasi dini. Gangguan pertama adalah stres dan kecemasan. Dua hal ini bisa membuat pikiran pria tidak bisa fokus. Karena pikirannya terpecah, pria jadi mengalami gangguan pengendalian diri sehingga saat melakukan seks mereka mudah mendapatkan orgasme.

Selain masalah pikiran yang menyebabkan pria tidak relaks, sensitivitas pada kepala penis yang terlalu tinggi juga menyebabkan pria mengalami ejakulasi dini. Begitu penis mendapatkan rangsangan, tubuh akan meresponsnya dengan kuat dan akhirnya ejakulasi yang belum diinginkan terjadi.

Gangguan lain yang bisa menyebabkan pria mengalami ejakulasi dini adalah penyakit pada prostat dan juga usia yang sudah semakin tua.

Standar waktu ejakulasi dini

Sebenarnya tidak ada standar yang pasti kapan saja pria dikatakan mengalami ejakulasi dini saat bercinta. Namun, beberapa ahli mengatakan kalau durasi penetrasi yang dilakukan hanya 1-2 menit saja dan ejakulasi mendadak didapatkan, pria sudah bisa dikatakan mengalami ejakulasi dini.

Normalnya penetrasi yang dilakukan pria berjalan selama 3-7 menit sebelum akhirnya mendapatkan orgasme. Jadi, kalau Anda melakukan penetrasi selama 5 menit lalu mendapatkan ejakulasi, jangan khawatir karena masih dikategorikan normal.

Oh ya, ejakulasi dini bisa muncul pada siapa saja termasuk pada pria sehat. Biasanya kondisi tubuh yang terlalu capai bisa menyebabkan orgasme terlalu cepat.

Mengatasi ejakulasi dini

Ejakulasi dini yang situasional atau pada saat tertentu saja mungkin akan hilang dengan sendirinya. Namun, kalau ejakulasi dini ini terus muncul bahkan di setiap aktivitas seksual, Anda harus melakukan penyembuhan dengan segera.

  • Kalau Anda mengalami ejakulasi dini karena masalah stres atau kecemasan, menangkan pikiran adalah cara yang tepat. Anda bisa berbicara dengan pasangan agar segala keluh dan kesah bisa keluar dengan maksimal.
  • Kalau masalah ejakulasi dini adalah sensitivitas yang meningkat pada penis, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Anda bisa menggunakan kondom untuk bercinta dengan pasangan. Kondom bisa menurunkan sensitivitas pada ujung penis dengan baik.
  • Lakukan beberapa latihan kegel untuk mengontrol rangsangan yang diterima sehingga ejakulasi dini tidak terjadi.

Saat bercinta dengan pasangan, jangan terlalu banyak pikiran atau takut. Lakukan dengan relaks agar kondisi seperti ejakulasi dini ini tidak akan terjadi.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi