Terbit: 3 Februari 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Spondylosis adalah jenis radang sendi yang dipicu oleh keausan pada tulang belakang. Kondisi ini terjadi ketika cakram dan sendi mengalami proses degenerasi sehingga mengganggu fungsi dan struktur normal tulang belakang. Selain mengganggu gerakan tulang belakang, peradangan ini juga bisa memengaruhi fungsi saraf.

Spondylosis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Spondylosis?

Pengertian spondylosis mengacu pada perubahan degeneratif pada tulang belakang seperti taji tulang dan diskus intervertebralis yang mengalami degenerasi di antara tulang punggung. Selain itu, kondisi ini dapat terjadi pada leher (cervical), punggung tengah (thoracal), maupun punggung bawah (lumbal). Proses degenerasi dapat menyerang sendi antar ruas tulang belakang dan juga penyokongnya (ligament).

Gejala Spondylosis

Kebanyakan orang yang mengalami spondylosis berkaitan dengan usia tidak mengalami gejala apa pun. Beberapa orang memiliki gejala untuk sementara waktu, tetapi kemudian gejala bisa menghilang. Terkadang, gerakan yang tiba-tiba juga bisa memicu gejala.

Gejala spondylosis yang paling umum adalah kekakuan dan nyeri ringan yang memburuk setelah gerakan tertentu atau lama tidak menggerakan anggota tubuh.

Gejala yang lebih parah termasuk:

  • Kelemahan di tangan atau kaki.
  • Koordinasi yang buruk.
  • Kejang otot dan nyeri.
  • Sakit kepala.
  • Kehilangan keseimbangan dan kesulitan berjalan.
  • Kehilangan kontrol kandung kemih atau usus.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Jika Anda memiliki rasa sakit yang tidak hilang atau lengan dan kaki mengalami pelemahan, segera ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Gejala bisa disebabkan oleh spondylosis atau kondisi medis lainnya.

Penyebab Spondylosis

Spondylosis adalah kondisi yang umumnya disebabkan oleh genetika dan cedera tulang belakang. Jika banyak anggota keluarga menderita spondylosis, kemungkinan ada kecenderungan genetik yang lebih kuat terhadap kondisi ini.

Selain itu, cedera tulang belakang juga merupakan faktor risiko yang menyebabkan spondylosis. Cedera dapat menyebabkan diskus intervertebralis mengalami herniasi. Osteoartritis juga lebih mungkin berkembang pada sendi yang terluka, termasuk sendi di tulang belakang. Kondisi ini bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk berkembang.

Faktor Risiko

Faktor wear and tear alias pengausan dan genetik adalah penyebab umum spondylosis, namun hal itu juga tergantung pada faktor risiko masing-masing individu. Beberapa faktor risiko tersebut meliputi:

  • Mengalami obesitas.
  • Memiliki gaya hidup yang kurang gerak.
  • Menjalani operasi tulang belakang.
  • Memiliki kebiasaan merokok.
  • Memiliki pekerjaan yang membutuhkan gerakan berulang atau menahan beban yang melibatkan tulang belakang.
  • Memiliki masalah mental seperti cemas berlebih atau depresi.
  • Mengalami psoriasis arthritis.

Diagnosis Spondylosis

Diagnosis spondylosis dilakukan menggunakan tes radiologi seperti sinar-X, MRI, atau CT scan.

  • Sinar-X

Metode ini berguna untuk menunjukkan taji tulang di tulang belakang, penebalan sendi facet (sendi yang menghubungkan tulang belakang satu sama lain), dan penyempitan ruang diskus intervertebralis.

  • CT scan

CT scan tulang belakang dapat memvisualisasikan tulang belakang secara lebih rinci dan dapat mendiagnosis penyempitan kanal tulang belakang (spinal stenosis).

  • MRI

Metode ini menunjukkan detail tulang belakang dan digunakan untuk memvisualisasikan diskus intervertebralis, termasuk derajat herniasi diskus, jika ada. MRI juga digunakan untuk memvisualisasikan tulang belakang, sendi facet, saraf, dan ligamen di tulang belakang, serta dapat digunakan untuk mendiagnosis saraf terjepit.

Pengobatan Spondylosis

Sebagian besar kasus spondylosis hanya menghasilkan kekakuan dan nyeri ringan, kondisi yang tidak memerlukan perawatan khusus. Perawatan yang dilakukan hanya untuk meringankan sakit punggung dan sakit leher.

Berikut adalah pengobatan yang bisa dilakukan:

Perawatan Rumahan

  • Beristirahat selama periode peradangan. Ketika gejalanya menyulitkan Anda untuk bergerak, cobalah beristirahat sebentar.
  • Tetap aktif secara fisik. Olahraga seperti berenang atau berjalan dapat membantu mempertahankan fleksibilitas dan memperkuat otot yang mendukung tulang belakang.
  • Memperbaiki postur tubuh. Aktivitas membungkuk dapat memperburuk rasa sakit.
  • Terapi fisik. Seorang ahli terapi fisik mungkin menyarankan latihan atau pijatan tertentu.
  • Penyangga punggung: Anda mungkin perlu memilih kursi atau kasur yang menopang punggung dengan lebih baik.
  • Obat pereda nyeri yang dijual bebas. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) seperti ibuprofen dapat membantu meredakan gejala.

Perawatan Alternatif

Beberapa orang menggunakan cara berikut ini untuk menangani gejala, antara lain:

  • Akupunktur.
  • Perawatan chiropractic.
  • Pijat.
  • Ultrasound treatment.
  • Electrical stimulation.

Penelitian menunjukkan bahwa beberapa cara di atas dapat meredakan nyeri saraf atau kerusakan yang berasal dari leher.

Obat-obatan

Jika rasa nyeri semakin parah atau persisten, dokter mungkin menyarankan untuk:

  • Obat pereda nyeri.
  • Relaksan otot, untuk mengurangi kejang.
  • Obat yang meringankan nyeri saraf.
  • Krim topikal.
  • Obat steroid, baik dalam pil atau sebagai suntikan.
  • Suntikan yang menggabungkan steroid dan obat bius.

Suntikan steroid bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit dengan mengurangi peradangan. Dengan menggunakan panduan rontgen, dokter akan menyuntikkan steroid ke akar saraf yang terkena. Namun, steroid juga dapat memiliki efek samping. Sangat penting untuk mengikuti saran dokter ketika menggunakan obat-obatan.

Operasi

Seorang dokter hanya akan menyarankan operasi jika gejalanya parah, persisten, dan tidak ada perawatan lain yang membantu.

Seseorang mungkin memerlukan pembedahan jika saraf terjepit mengakibatkan mati rasa, kelemahan, atau kehilangan kontrol usus atau kandung kemih yang serius, dan jika kerusakannya kemungkinan akan menjadi lebih buruk tanpa operasi.

Pembedahan mungkin melibatkan pengangkatan cakram atau potongan tulang yang menekan saraf, lalu menyatukan tulang belakang di dekatnya. Seorang ahli bedah dapat mengganti persendian yang rusak dengan sendi buatan.

Menurut American Association of Neurological Surgeons, bedah tulang belakang invasif minimal melibatkan risiko yang lebih sedikit, karena:

  • Sayatan lebih kecil.
  • Lebih sedikit kehilangan darah selama operasi.
  • Sedikit kemungkinan kerusakan otot.
  • Pemulihan lebih cepat.

Meski begitu, sebagian besar kasus spondylosis adalah kondisi yang tidak memerlukan prosedur operasi.

Komplikasi Spondylosis

Berikut adalah beberapa komplikasi yang harus diwaspadai, di antaranya:

  • Spinal Stenosis

Ini adalah kondisi penyempitan kanal yang membawa saraf sumsum tulang belakang. Gejala termasuk rasa sakit di leher atau punggung yang mungkin meluas ke bawah kaki, hingga menyebabkan kelemahan atau mati rasa.

  • Cervical Radiculopathy

Perubahan pada cakram atau tulang dapat menyebabkan saraf di tulang belakang menjadi terjepit, kondisi ini menyebabkan rasa sakit, mati rasa, dan hipersensitif.

  • Cervical Spondylotic Myelopathy

Kondisi ini melibatkan sumsum tulang belakang menjadi padat atau terjepit. Gejalanya termasuk rasa sakit dan mati rasa pada anggota badan, kehilangan koordinasi tangan, ketidakseimbangan, dan kesulitan berjalan. Pada tahap selanjutnya, kondisi ini bisa menimbulkan masalah pada kandung kemih.

  • Scoliosis

Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara degenerasi sendi facet dan scoliosis pada orang dewasa. Perubahan ini dapat memperburuk gejala lainnya. Gejala seperti rasa sakit akan tergantung pada bagian tulang belakang yang terkena.

Pencegahan Spondylosis

Spondylosis adalah proses degeneratif, oleh karena itu tidak ada metode yang diketahui mampu mencegah proses degeneratif. Namun, beberapa hal berikut ini mungkin bermanfaat untuk mencegah sakit leher dan punggung yang disebabkan oleh spondylosis, antara lain:

  • Menghindari olahraga dengan benturan tinggi seperti berlari. Pilihlah olahraga leher dan punggung yang meningkatkan kekuatan otot, kelenturan, dan jangkauan gerak.
  • Hindari melakukan aktivitas di posisi yang sama dalam jangka yang waktu lama.
  • Pertahankan postur yang baik. Seperti, duduk pada posisi yang tegak dan jangan bertumpu pada satu kaki bila berdiri. Selain itu, hindari membungkuk saat mengangkat beban berat, lebih baik tekuk tungkai dan tetap tegak.

 

  1. MacGill, Markus. 2019. Spondylosis: All you need to know. https://www.medicalnewstoday.com/articles/312598#outlook. (Diakses pada 4 Maret 2020).
  2. Driver, Catherine Burt, MD. Spondylosis. https://www.emedicinehealth.com/spondylosis/article_em.htm#spondylosis_facts. (Diakses pada 4 Maret 2020).
  3. Spondylosis. https://intermountainhealthcare.org/services/neurosciences/conditions/spondylosis/. (Diakses pada 4 Maret 2020).
  4. Yansyah, Hajri. 2011. Spondylosis. SMF Radiologi. RSUD. Dr. Hi. Moeloek.

Spondylosis – Halaman Selanjutnya: 1 2 3 4 5 6 7

DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi