Terbit: 17 September 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Berbicara tentang reproduksi, ada suatu proses yang dikenal sebagai spermatogenesis dan oogenesis. Simak informasi selengkapnya berikut ini.

Mengenal Spermatogenesis dan Oogenesis, Cikal Bakal kehidupan

Gametogenesis, Proses Penting dalam Reproduksi

Kehamilan terjadi ketika sel sperma (spermatozoa) dan sel telur (ovum) saling bertemu. Nah, sebelum mencapai fase tersebut, baik spermatozoa maupun ovum terlebih dahulu dibentuk dalam suatu proses yang bernama spermatogenesis (untuk pembentukan spermatozoa) dan oogenesis (untuk pembentukan ovum).

Di dalam dunia medis, kedua proses tersebut diberi nama gametogenesis. Gametogenesis adalah proses pembentukan sel kelamin (gamet) yang terdiri dari sel gamet jantan dan sel gamet betina.

Pada gametogenesis, sel sperma dan sel telur akan mengalami fase-fase berikut:

  • Pertambahan jumlah
  • Pertumbuhan
  • Pematangan
  • Transformasi bentuk

Sel sperma dan telur yang sudah melalui fase-fase tersebutlah yang lantas siap untuk bertemu satu sama lain hingga terjadi pembuahan.

Spermatogenesis, Proses Pembentukan Sel Sperma

Spermatogenesis adalah proses produksi sel sperma. Adalah testis—tepatnya di tubulus seminiferous—yang menjadi ‘pabrik’ produksi spermatozoa tersebut.

Spermatogonium yang menjadi cikal bakal sperma tersimpan di dinding tubulus seminiferous tersebut. Jumlahnya bisa mencapai ribuan. Spermatogonium tersebut lantas akan memperoleh asupan nutrisi dari sertoli, yakni sel yang juga terdapat pada tubulus seminiferous.

Asupan nutrisi ini penting guna membantu spermatogonium dalam melakukan pembelahan sel (mitosis dan meiosis). Sel sperma yang telah membelah tersebut lantas sudah bisa disebut sebagai sperma matang.

Sel sperma yang sudah matang tersebut lantas disimpan pada saluran epididimis yang letaknya ada di belakang testis. Setelah itu, sperma akan melanjutkan perjalanan menuju duktus ejakulatorius.

Di duktus ejakulatorius, sperma akan bercampur dengan cairan yang diproduksi oleh elemen sistem reproduksi lainnya seperti kelenjar prostat dan vesikula seminalis. Campuran tersebutlah yang lantas disebut sebagai cairan mani dan dikeluarkan saat ejakulasi.

Baca  Juga: Spermatogenesis: Proses, Struktur, dan Faktor Penghambat

Faktor-Faktor Terkait Spermatogenesis

Ada sejumlah faktor yang berkaitan dengan proses pembentukan sel sperma alias spermatogenesis ini. Faktor-faktor tersebut meliputi:

  • Hormon
  • Suhu testis
  • Obat-obatan
  • Penyakit

1. Hormon

Spermatogenesis sangat dipengaruhi oleh faktor hormon. Ada 3 (tiga) jenis hormon yang memiliki peran penting dalam proses pembentukan sperma ini, yaitu:

  • Testosteron adalah hormon yang bertugas untuk merangsang tumbuh kembang organ seksual sehingga spermatogenesis dapat terjadi.
  • Folicle Stimulating Hormone (FSH). Hormon FSH adalah hormon yang berfungsi untuk membantu sel sertoli dalam memproduksi androgen binding protein (ABP). Adanya ABP ini penting untuk melindungi dan menutrisi spermatogonium selama spermatogenesis berlangsung hingga menjadi matang.
  • Luteinizing Hormone (LH). Sementara itu, hormon LH adalah hormon yang berperan dalam produksi hormon testosteron. Hormon ini bekerja dengan cara memberikan stimulan kepada sel leydig pada testis untuk memproduksi testosteron.

2. Suhu Testis

Faktor selanjutnya yang memiliki pengaruh penting dalam proses spermatogenesis adalah suhu testis. Sebagai tempat di mana sperma diproduksi, idealnya testis tidak boleh terpapar suhu yang cukup panas. Suhu yang cenderung panas disebut-sebut dapat berakibat pada menurunnya kualitas dan kuantitas sperma.

Oleh sebab itu, sebaiknya hindari kondisi-kondisi yang bisa meningkatkan suhu testis seperti berendam di air panas terlalu lama dan memakai celana terlalu ketat.

3. Obat-obatan

Obat-obatan juga sangat berpengaruh terhadap spermatogenesis. Proses pembentukan sperma ini kemungkinan akan terganggu apabila Anda mengonsumsi obat-obatan seperti:

  • Nitrofurantoin
  • Spironolakton
  • Simetidin

4. Penyakit

Ada sejumlah gangguan medis yang bisa menyebabkan proses spermatogenesis menjadi tidak lancar, atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Gangguan medis yang dimaksud seperti penyumbatan pada vas deferens. Penyakit ini bisa berakibat pada kondisi yang disebut sebagai azoospermia, yakni ketika testis tidak mampu menghasilkan sperma sama sekali.

Gangguan medis lainnya adalah varikokel pada skrotum. Kondisi ini bisa menghambat aliran darah menuju testis sehingga berdampak pada terganggunya produksi sperma.

Oogenesis, Proses Pembentukan Sel Telur

Beralih ke proses pembentukan sel telur pada wanita atau disebut oogenesis. Jika spermatogenesis berlangsung di dalam testis pria, maka proses oogenesis ini berlangsung di dalam indung telur atau ovarium.

Pada awalnya, terdapat cikal bakal sel telur yang disebut sebagai oogonia. Oogonia—sama seperti pada proses spermatogenesis—akan mengalami tahap pembelahan sel (mitosis dan meiosis). Proses pembelahan sel tersebut berlangsung saat seseorang masih dalam kandungan ibunya, dan berhenti ketika ia dilahirkan.

Proses oogenesis ini akan menghasilkan sekitar 6-7 sel telur. Akan tetapi, jumlah sel telur tersebut akan berkurang hingga hanya menjadi 1 juta sel telur begitu seorang perempuan dilahirkan. Jumlah 1 juta tersebut pun masih akan terus mengalami pengurangan hingga akhirnya hanya tersisa 300 ribu dan terus bertahan hingga pubertas.

Begitu memasuki masa pubertas, oogenesis akan kembali berlangsung. Proses ini normalnya terjadi 1 bulan sekali. Akan ada sekitar 300-400 sel telur matang yang diproduksi dan siap dibuahi.

Oogenesis yang berlangsung setiap sebulan sekali ini diatur dalam siklus yang kita kenal sebagai siklus menstruasi. Pada saat oogenesis berlangsung, ovarium memproduksi folikel yang berfungsi sebagai tempat menyimpan sel telur yang belum matang. Ketika sel telur sudah matang—yang mana tidak semuanya akan matang—ovarium akan mengirimnya ke tuba falopi.

Di sinilah sel telur akan bertemu dengan sel sperma hingga terjadi pembuahan. Apabila sel sperma berhasil membuahi sel telur, maka sel telur akan tinggal di tuba falopi dan kemudian menempel pada dinding rahim. Sebaliknya, jika tidak terjadi pembuahan, sel telur akan dibuang dari dalam tubuh dalam bentuk darah haid pada 14 hari ke depan.

Baca Juga: Oogenesis: Definisi, Proses, Fakta, dll

Faktor Terkait Oogenesis

Proses spermatogenesis dan oogenesis sama-sama dipengaruhi oleh hormon, yakni hormon LH dan FSH. Pada wanita, kedua hormon tersebut dikeluarkan pada saat siklus menstruasi berlangsung.

Adanya proses pembentukan hormon LH dan FSH tersebut lantas akan merangsang terjadinya ovulasi. Manakala hormon mengalami ketidakseimbangan, ovulasi akan mengalami masalah.

Perbedaan Spermatogenesis dan Oogenesis

Spermatogenesis dan oogenesis memiliki perbedaan. Perbedaan spermatogenesis dan oogenesis tersebut adalah sebagai berikut:

  • Proses pembentukan sel. Spermatogenesis dialami oleh pria atau jantan, sementara oogenesis dialami oleh wanita atau betina.
  • Proses pertumbuhan sel. Spermatogenesis memiliki proses pertumbuhan sel yang pendek, sementara proses pertumbuhan oogenesis panjang.
  • Tempat pembentukan sel. Spermatogenesis berlangsung di testis, sementara oogenesis berlangsung di ovarium.
  • Waktu pembentukan sel. Spermatogenesis berlangsung dari masa pubertas hingga akhir usia, sementara oogenesis sudah berlangsung dari sejak di dalam kandungan, kemudian berhenti saat usia anak-anak, dan kembali berlangsung saat memasuki masa pubertas hingga menopause.
  • Siklus pembentukan sel. Spermatogenesis tidak mengenal siklus produksi, sementara oogenesis diatur dalam siklus menstruasi setiap 1 bulan sekali.

 

  1. Anonim. Gametogenesis. https://www.britannica.com/science/gametogenesis (diakses pada 17 September 2020)
  2. Anonim. Spermatogenesis. https://www.britannica.com/science/spermatogenesis (diakses pada 17 September 2020)
  3. Anonim. Oogenesis. https://www.britannica.com/science/spermatogenesis (diakses pada 17 September 2020)
  4. Sukada, I. Gametogenesis, Spermatogenesis, Oogenesis. https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_dir/9b912008b0a188a7e421d9a36050a80e.pdf (diakses pada 17 September 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi